Beranda News Budaya Buku Cerpen “Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua” Siap Diluncurkan

Buku Cerpen “Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua” Siap Diluncurkan

77
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.Com

Dunia malam tentu saja tak lepas dari dunia seksnya. Namun, dalam buku ini Syaiful tidak terfokus pada persoalan tersebut. Dia hendak mengatakan, hidup di kota (besar) segala sesuatu cenderung instan. Sebagian dari cerpen ini, kota adalah anomali.

                                                    _______________

Syaiful dan sampul buku

Bandarlampung—Syaiful Irba Tanpaka, sastrawan sekaligus pelaku sinema Lampung, meluncurkan kumpulan cerpen Dunia yang tidak Pernah Menjadi Tua. Buku yang diterbitkan Siger Publisher (Desember 2013) ini  memuat 13 cerpen yang ditulisnya dari tahun 2008 hingga 2013, di antaranya sudah dipublikasikan di Lampung Post.

Judul-judul cerpen dalam buku ini juga menarik dan menggoda. Seperti “Edelwes”, “Embun di Mata Wie”, “Tubuh Kinan”, dan “Helma” untuk nama-nama perempuan sebagai tokoh yang menghidupkan cerpen-cerpen Syaiful.

Menurut Syaiful Irba Tanpaka, semestinya buku cerpennya ini sudah beredar pada Desember 2013. Namun, dikarenakan ada kendala di percetakan akhirnya tertunda sampai dua bulan. “Alasan yang saya terima dari percetakan, akhir tahun penerbitan sangat banyak. Lalu musibah Gunung Kelud membuat Yogyakarta ikut lumpuh,” kata SIT, biasa ia menyingkat namanya, sambil tersenyum.

Dia merencanakan Dunia yang tidak Pernah Menjadi Tua akan diluncurkan dalam sebuah acara khusus. Selain itu, akan dibacakan dan didiskusikan di beberapa SMA dan perguruan tinggi di Lampung.

“Seperti dengan buku puisi saya terdahulu, saya juga sudah merancang untuk meluncurkan buku ini dalam satu acara. Beberapa teman sudah siap untuk membacakan karya saya, seperti Ari Pahala Hutabarat, Iswadi Pratama, Yulizar Fadli, dan beberapa kawan lain,” ujarnya.

Buku ini menghimpun cerpen-cerpen Syaiful Irba yang berbicara ihwal dunia malam alias “dugem” (dunia gemerlap malam), cinta, selingkuh, kritik pada perilaku korup, kemiskinan.

Pada sampul belakang kumpulan cerpen ini disebutkan, dunia malam tentu saja tak lepas dari dunia seksnya. Namun, dalam buku ini Syaiful tidak terfokus pada persoalan tersebut. Dia hendak mengatakan, hidup di kota (besar) segala sesuatu cenderung instan. Sebagian dari cerpen ini, kota adalah anomali. Artinya, bisa kota mana pun.

Di dunia malam, seakan kita menyaksikan dunia yang tidak pernah (menjadi) tua. Gambaran ini tertuang dalam salah satu cerpen yang dijadikan tajuk dari buku ini. Diceritakan, seorang pria yang sejak remaja “menggandrungi” dunia malam, khususnya diskotek (dan karaoke).

Sejak remaja, ia menemui para perempuan di sana yang muda dan berparas menggoda.Ternyata kegandrungan ini belum juga hilang, sebab tatkkala usianya mencapai senja masih suka “turun” gununung. Di usia senjanya itu, ia tetap menemui perempuan-perempuan muda di dalam ruang remang-remang itu. Lelaki pengunjung diskotek ini mengira, bukan manusia yang tetap muda melainkan yang tak pernah menjadi tua adalah dunia.

“Padahal, lelaki yang menjadi tokoh dalam cerpenku ini sebenarnya sudah tua, sudah bangkot alias gerandong. Tetapi ia tak juga sadar, tidak tobat, jadi dia mengira perempuan-perempuan di dalam diskotek atau karaoke selalu muda,” katanya tersenyum.

Syaiful Irba Tanpaka kelahiran Telukbetung (Lampung) pada 9 Desember 1961. Ia menulis cerpen, puisi, esai, dan menulis skenario teater dan film. Pernah dipercaya menjadi Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) tiga periode, dan sebelumnya menjabat Sekretaris Umum DKL. Kini ia menjabat Sekretaris Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Lampung.

Sebagai sastrawan, ia pernah diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) di Kedah, Malaysia, Refleksi Setengah Abad di Solo, Forum Puisi Indonesia 87 di TIM Jakarta, Temu Sastra Mitra Praja Utama di Banten, dan lain-lain.

Penulis buku puisi Karena Bola Matamu ini menjelaskan, untuk pemesanan buku cerpen terbarunya dapat menghubungi penerbit Siger Publisher atau Menara Siger di Pasar Seni Enggal, Bandarlampung, atau kontak ke 08127919446. “Ada tanda tangan dari penulis buku,” janjinya.

Loading...