Beranda Seni Puisi Buku Puisi “Cicak-Cicak di Dinding” Kado Ulang Tahun ADW

Buku Puisi “Cicak-Cicak di Dinding” Kado Ulang Tahun ADW

1236
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Resto Abunawas, Matraman, Jakarta, Sabtu (28/6) sekira pukul 13.00 hingga pukul 17.00 sore, benar-benar lain dari hari-hari sebelumnya. Dekor ruangan bernuansa Timur Tengah makin membuat penyair kelahiran Yogyakarta, 28 Juni 1951, bertanya-tanya.

Adalah Adri Darmadji Woko (disingkat ADW), penyair asal Yogyakarta, pada hari jadinya mendapat kado yang amat mengejutkan. Pasalnya, tanpa sepengatahuannya, rekan-rekannya di Komunitas Radja Ketjil yang baru sukses menghelat Pertemuan Penyair Negeri Poci di Tegal sekaligus peluncuran buku antologi puisi Negeri Langit: Dari Negeri Poci 5, menerbitkan kumpulan puisi tunggal Adri Darmadji Woko bertajuk Cicak-cicak di Dinding (Juni, 2014).

“Kado buku puisi tunggal ini, suatu ‘kejutan budaya’ bagi saya. Karena beberapa hari terakhir saya baru merencanakan akan menyusun/mengumpulkan puisi-puisi saya yang terserak untuk dibukukan kembali,” katanya, Minggu (29/6) dini hari.

Hal itu juga diakui Kurniwan Joenaedhi dari Kosakatakita-Komunitas Radja Ketjil. Dituturkan KJ, panggilan akrab salah satu motor di Radja Ketjil, pada Sabtu Pon (28/6), barangkali menjadi hari yang ganjil bagi penyair Adri Darmadji Woko.

Sebab, dikatakan KJ, mereka diam-diam melakukan kegiatan rahasia dan tanpa diketahui Adri Darmadji Woko menerbitkan buku puisinya. “Dari memilih sajak, mengoreksi, membuat kaver, mencetak, meminta endorsemen, dan memilih restoran tempat acara, kami lakukan diam-diam, dan dalam waktu hanya sekitar 3-4 hari saja,” jelas Kurniawan Jonaedhi.

Pada hari ulang tahun Adri, rekan-rekannya menggiringnya ke Restoran Abunawas yang bernuansa Arabika di Matraman. “Sesungguhnyalah yang dia pikir kami akan menggelar rapat evaluasi acara Tegal beberapa hari lalu,” imbuh KJ.

Tapi, ujar KJ, ketika yang hadir satu demi satu, beraneka rupa –tak hanya tim Tegal–, ia pun mulai pias, dan bingung. Barulah, ketika acara dibuka Handrawan Nadesul, tahulah ia makna semua kegiatan aneh ini.

“Kebetulan saya yang mengeditori, sekaligus mengkurasinya. Isinya sepilihan sajak yang ditulis beliau sejak 1974, yang saya ambil dari berbagai buku kumpulan puisinya. Saya kira sangat menarik, karena saya pasang sesuai urutan tahun penulisan, sehingga pembaca kiranya dapat memeroleh proses dan perkembangan kepenyairan mas ADW,” tutur KJ.

Mengenai judul kumpulan puisi yang mengingatkan lagu anak-anak, Kurniawan Joenaedhi mengatakan, sengaja diambil dari salah satu judul puisi Adri Darmadji. Tapi, menurut KJ, judul itu sangat pas dengan kepribadiian Adri Darmadji yang hangat dan riang, serta jauh dari kesan muram.

Merayakan ulang tahun gaya rekan-rekannya, menurut Adri, benar-benar mengejutkan sekaligus membahagian tak ternilai. “Saya tidak percaya, karena saya tak biasa dengan urusan hari jadi yang kesekian, dan sebagainyaa. Tetapi siang itu menambah keheranan saya ketika disodorkan buku Cicak-Cicak di Dinding sepilihan puisi Adri Darmadji Woko 63 tahun,” ujar Adri kemudian.

Adri mengatakan, kelezatan hidangan nasi goreng ayam/kambing ala Abunawas bertambah dengan adanya Cicak-Cicak di Dinding . “Juga apreasiasi teman-teman sangat membanggakan dan membahagiakan.”

Sejumlah rekan Adri Darmadji Woko di Komunitas Radja Ketjil di antara Handrawan Nadesul, Dharmadi DP, Kurniawan Joenaedhi, Rahadia Zakaria, dan Irawan Massie sebagai penggagas merayakan ulang tahun dan peluncuran buku puisi Cicak-Cicak di Dinding.

Disinggung judul buku keduanya ini, Adri Darmadji mengaku setuju. Hal itu mengingatkannya pada judul lagu kanak-kanak. “Dan puisi ‘Cicak-Cicak di Dinding’ memang ada di dalam buku ini. Benar-benar kejutan untuk saya, yang lama tak memiliki rangkuman buku puisi,” kata Adri lagi.

Buku puisi Cicak-Cicak di Dinding menghimpun 93 puisi pilihan Adri Darmadji Woko yang pernah dimuat atau diumumkan, dan diterbitkan oleh Kosakatakita, Jakarta.

Inilah 93 puisi Cicak-Cicak di Dinding, sebagai kado 63 tahun penyair Adri Darmadji Woko. Selamat beruoang tahun, sukses menyertaimu. Sebuah kado yang mengejutkan sekaligus mengharukan.

Berikut ini salah satu puisi Adri Darmadji Woko yang terhimpun dalam buku Cicak-cicak di Dinding yang telah dimuat dalam Negeri Langit; Dari Negeri Poci 5

BULAN MABUK

Bulan  mabuk di cakrawala
tak peduIi purnama  di rinai gerimis
melihat Li Po duduk mengais
menenggak arak berkali fana

Merindukan asmara di balik puri istana
udara berahi memandang putri Tiongkok
di  kesunyian bulan tersuruk
bunga raya.

Merah bulan kepayang
di hati ceruk
bulat semangka mabuk
luka bayang-bayang

Hei, siapa  melihat tarian  di antara gemawan
dengan jurus  pungguk merindukan putri
bertubuh pualam dan halus pekerti?

Bulan mabuk di lembah
bersama rumpun bambu, mambang dan peri
mendendangkan suara bertuba

Nun di kejauhan
bukit menjulang
dan lampu-lampu temaram di kota

Dunia kecil di batin, dunia besar di luar
angin musim dingin di kerlip gubuk penceng
coba merayu tiada capek-capek
mabuk bercinta.

2014
 

ADRI DARMADJI WOKO lahir di Yogyakarta, 28 Juni 1951. Pernah di FH Universitas Jakarta dan lulusan Sekolah Tinggi Publisistik/IISIP Jakarta. Puisinya termuat dalam antologi, a.l.: Puisi ASEAN 4 (1978), Tonggak 4 (1978), Dari Negeri Poci (1993), Dari Negeri Poci 2 (1994), Serayu (1995), Dari Negeri Poci 3 (1996), Hijau Kelon (2003), Gong Bolong (2008),The Fifties (2010), Kitab Radja-Ratoe Alit (2011), Suara dari Pinggiran (2012), Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (2012), Negeri Abal-Abal (2013).