Buntu

  • Bagikan

Oleh:Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Beberapa waktu lalu Kota ini diguyur hujan deras luar biasa dalam beberapa jam, di beberapa wilayah terkena genangan air karena saluran yang meluap. Tidak lama berselang ada berita rumah teman yang sudah lebih dari tigapuluh tahun ditempati, saluran bagian belakang meluap karena paralonnya “buntu”.

Berselang beberapa saat ada penampilan menarik dari satu upacara pembukaan konferensi, ketua pelaksana memberikan pidato pembukaan di muka Pimpinan Tinggi negeri ini, dengan menyodorkan data data, sepintas tampak ilmiah dan meyakinkan, apalagi disajikan oleh seorang Doktor, tentunya ada tanggungjawab ilmiah dipundaknya. Ternyata saat Pimpinan Tinggi Negeri ini memberikan pidato balasan, semua data yang disajikan sang Doktor tadi menjadi mentah. Semua premise yang dibangun menjadi gugur; tampak sekali Sang Doktor duduk dengan memegang jidat dan tampaknya beliau “Buntu Akal”.

Lain lagi peristiwa sesaat lalu; ada seorang bapak mengeluh karena setiap berada pada akhir tahun sekaligus akhir bulan selalu kekurangan logistik untuk menyelesaikan persoalan kehidupannya, beliau mengeluh “sudah buntu gak punya uang, buntu akal karena kemana lagi jalan harus ditempuh mencari penambal kebutuhan hidup”. Anehnya orang yang seperti ini sebenarnya banyak, hanya karena ketebalan rasa malu; kondisi ini hanya cukup dipendam dalam rasa keprihatinan yang dalam.

Buntu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti: tertutup (tidak dapat terus tentang pintu, jalan, pipa, dsb); tertutup salah satu ujungnya (jalan, pipa, dsb); terhalang (oleh sekatan dsb); tersekat; tersuntuk (tentang akal, pikiran, dan sebagainya).

Ternyata kata “buntu” sudah berubah makna menjadi sangat banyak dan luas artinya. Hal itu boleh saja dalam perbahasaan; namun ada yang menarik dalam kajian kali ini ialah istilah “buntu akal” yang popular dalam ranah yang populis, ditengah haru biru percaturan politik nasional.

Tampaknya penjelasan kunci, atau juga sikap diam, adalah respons yang membuat banyak orang masuk pada areal buntu akal. Ada yang menggunakan sikap diam sebagai defence atau pertahanan ego, namun ada juga yang menggunakan sebagai sikap tidak tahu harus berbuat apa. Atau memang sengaja dibuat buntu; hal ini mengingatkan seorang pejabat penting pada era Orde Baru, pada saat memberikan keterangan Pers, paasti menunjukkan sikap seolah dungu, sehingga insan pers yang mewawancarainya dibuat buntu akal dan putus asa.

Sebagai manusia sikap di atas sah saja, karena itu bagian dari bentuk sikap atau predesposisi perilaku dalam merespons sesuatu keadaan. Namun seyogianya makin tinggi tingkat pendidikan hendaknya berkorelasi dengan cara berpikir untuk menembus kebuntuan, bukan sebaliknya membuat sesuatu yang lancar terang menjadi buntu dan gelap.

Apa lagi hal seperti itu ditampilkan oleh tokoh public, lebih lebih tokoh nasional, maka makin sempurna tingkat kedunguan (meminjam istilah Rocky Gerung) yang bersangkutan dalam memerankan kebuntuan akalnya. Namun karena negeri ini sedang membangun demokrasinya, maka biarkan itu menjadi secuil pembelajaran.

Hal di atas dapat kita tamzsilkan dalam kehidupan sehari hari; saat kita melihat ibu-ibu mengendarai sepeda motor dengan lampu penunjuk mengedip kekiri, namun sepeda motor tetap melaju ke muka; apakah ibu tadi tetap akan belok kekiri, kekanan, atau terus melaju. Ternyata hanya Tuhan dan ibu itu yang tahu. Lebih serunya lagi, jika ibu itu diingatkan, maka marahnya lebih dahulu dari pada maafnya. Di sini letak kebuntuan akal sebagai manusia tampak sekali; dan hal seperti ini hanya bisa dihadapi dengan menggelengkan kepala sambil mengurut dada.

Kalau kita deretkan peristiwa yang berlabel buntu, baik dalam pengertian konkret maupun abstrak, maka sama halnya kita memadukan deret hitung dan deret ukur sekaligus. Itup un juga secara bersamaan menunjukkan bagaimana kebuntuan berpikir manusia dalam menghadapi alam semesta ini denan segala peristiwa sosialnya, serta meneguhkan bagaimana keterbatasan sebagai manusia.

Hidup harus terus berjalan, tumbang satu bangun seribu; semua akan menjadi sejarah karena kita sedang melakonkan pelaku sejarah kehidupan. Kadang ada di atas sekali waktu ada di tengah, dan tidak jarang ada di bawah; roda kehidupan bergulir sesuai chandranya. Pada waktunya kita ada di tengah sebagai bintang, kemudian meredup berangsur menepi, terakhir menjadi penonton dan mati. Pada proses itulah ada kelapangan berfikir dan kehidupan, adakalanya harus menyempit dan sulit; semua ada lakonnya dan semua aka ada akhirnya; yang utama kita harus menyadari kepada Tuhan kita kembali.

Selamat Ngopi Pagi…

 

  • Bagikan