Beranda Kolom Kopi Pagi Bupati Agung tak Pernah Membalas Surat Cinta Saya

Bupati Agung tak Pernah Membalas Surat Cinta Saya

3970
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Menjadi lurah, camat, — apa lagi bupati atau gubernur — memang selalu sibuk. Pekerjaan seabreg selalu ada di depannya. Mereka kerja keras dari lepas subuh hingga menjelang subuh mengurus daerah. Hanya orang-orang pilihan dan berdidikasi tinggi yang bisa menjalaninya.

Banyak kepala daerah hebat di Lampung. Pembangunan fisik sukses, pembangunan kantong juga sukses. Bahkan, saking terlalu hebatnya, pembangunan yang baru ada dalam pikiran dan masih di ranah ‘omong-omong doang’ pung sudah mendapatkan penghargaan ini-itu dan akan jadi pilot project. Apa pilot project? Jangan kira itu sejenis nama pesawat atau pilot. Itu adalah sejenis penghargaan juga. Proyek, eh, program yang ada di suatu daerah dijadikan contoh atau acuan untuk diterapkan di daerah lain.

Kepada para kepala daerah dan pemimpin sukses saya selalu menjura. Tepuk tangan layak diberikan. Penghargaan memang pantas untuk disematkan. Sebaliknya, jika memang mereka berpotensi keliru, saya sebisa akan memberi tahu. Itu pun kalau saya mengenal mereka atau mereka berkenan. Sebab ada lho pemimpin yang hati dan kepalanya sekeras batu: yang benar cuma ia seorang, kalau dikasih tahu ia akan marah, kalau dikritik para pemujanya akan menyerang para pengritiknya jauh lebih sadis ketimbang tukang jagal mengejar sapi gila yang mengamuk saat akan disembelih.

Karena saya meyakini Bupati Lampung Utara termasuk anak muda baik hati, tidak sombong, rajin menabung, cerdas, dermawan, sukses membangun, dan rendah hati, maka suatu ketika saya ingin mengingatkan dia bahwa ada yang salah dalam konsep programnya. Saya tidak hendak menyoal isi program, tetapi cuma istilah yang ia gunakan saja. Maka, saya tulislah surat cinta itu untuk dia. Dan alhamdulillah, surat cinta itu tidak pernah ia balas sampai sekarang. Sampai dia dibawa jalan-jalan KPK ke Jakarta.

Agar kawan-kawan tidak penasaran dan tidak syak wasangka dengan saya (hmmm memangnya saya cowok apaan?), berikut ini saya lampirkan surat lengkapnya. Surat ini pernah nongol di Teraslampung:

Tentang Windu Cita, Surat Cinta untuk Bupati Lampung Utara

Pada 25 Maret 2019 lalu, Agung Ilmu Mangkunegara dan Budi Utomo dilantik Gubernur Lampung Ridho Ficardo sebagai Bupati Lampung Utara periode 2019-2024.

Usai pelantikan, Bupati Agung Ilmu Mangkunegara langsung menyampaikan pernyataan terbuka tentang penegasan komitmennya untuk membangun Lampung Utara lima tahun ke depan. Ia berjanji akan melanjutkan Windu Cita.

Hampir semua media di Lampung memberitakan tentang hal itu. Tetapi, saya yang terbiasa mengoleksi dan mempelajari istilah, agak penasaran. Pertanyaan pun muncul di kepala saya: windu cita itu maksudnya delapan tahun cita-cita (delapan tahun program unggulan) atau delapan cita-cita-cita (delapan program unggulan)?

Setelah konsultasi dengan wartawan Teraslampung.com di Lampung Utara, akhirnya kecurigaan saya benar: Pak Bupati Agung tidak tepat dalam menggunakan istilah. Beliau memakai istilah Windu Cita untuk maksud delapan program unggulan.

Windu adalah hitungan tahun yang berarti delapan (8) tahun. Kalau hendak memakai kata delapan program atau delapan cita-cita dalam bahasa Sanskerta, seharusnya memakai Asta Cita. Windu Cita artinya delapan tahun cita-cita atau delapan tahun program unggulan.

Sekali lagi, kalau yang dimaksud delapan program atau delapan cita-cita yang hendak dituju oleh Agung istilah itu menjadi tidak tepat. Kalau maksudnya adalah delapan cita-cita atau delapan program maka yang tepat adalah memakai istilah Asta Cita. Tetapi kalau maksudnyya adalah cita-cita selama delapan tahun istilah Windu Cita sudah benar.

Hitungan bahasa Sanskerta: 1 (eka), 2 (dwi), 3 (tri) 4 (catur), 5 panca), 6 (sat), 7 (sapta), 8 (asta), 9 (nawa), 10 (dasa).

Saya tidak tahu bagaimana baiknya Bupati Agung dan jajaran Pemkab Lampung Utara menyikapi hal ini karena faktanya program unggulan Windu Cita ternyata sudah berjalan selama satu periode kepemimpinan Bupati Agung Mangkunegara. Pada periode kedua, Windu Cita katanya mau dilanjutkan.

Tentu saja tetap memakai istilah Windu Cita tidak berdosa meskipun artinya salah. Apalagi mungkin yang dimaksud windu cita oleh Pak Bupati Agung adalah delapan tahun (makna atau arti program salah, tetapi maksudnya (yang dimaksud betul). Namun, akan lebih elok jika sebuah program pembangunan juga tepat maknanya. Sebab, dengan begitu kita juga mengajari masyarakat dan generasi muda Lampung Utara memakai istilah yang benar secara makna dan kaidah bahasa.

Oyos Saroso HN

Loading...