Beranda Hukum Kriminal Buron Tiga Bulan, Putra Mantan Bupati Tulangbawang Ditangkap

Buron Tiga Bulan, Putra Mantan Bupati Tulangbawang Ditangkap

989
BERBAGI
Richard Maulana Putra (kanan)

~Richard Ditangkap di Penginapan Bersama Teman Wanitanya



Zainal Asikin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG – Tim gabungan Intelejen Kejati Lampung dan dibantu aparat kepolisian, menangkap Richard Maulana Putra, putra mantan Bupati Tulangbawang Abdurrachman Sarbini (Mance), ditangkap  di sebuah kamar penginapan No. 19 Toro Guesthouse di Jalan Wolter Mongonsidi, Telukbetung, Bandarlampung, Rabu (20/1/2016) sekitar pukul 14.00 WIB.

Richard masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kejaksaan sejak Rabu (28/10/2015) lalu terkait kasus pengancaman satpam Hotel Novotel Bandarlampung. Richard langsung dibawa petugas dan dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Way Hui.

Asisten Intelejen (Asintel) Kejati Lampung, Leo Simanjuntak didampingi Aspidum Kejati, Susanto dan Kasipenkum Yadi Rachmat, mengatakan, sebelum dilakukan penangkapan terhadap Richard tim intelejen telah memantau pergerakan Richard sejak Selasa (19/1/2016) malam.

“Awalnya, kami melakukan pemantauan dirumah Richard di daerah Tanjungkarang Timur. Darisana, kami mendapat sinyal tentang keberadaannya,”kata Leo, Rabu (20/1/2016).

Leo mengutarakan, dari hasil monitoring center Kejaksaan Agung(Kejagung), pihaknya mendapatkan sinyal dari nomor ponsel yang digunakan Richard berada di Bandarlampung. Kemudian petugas intelejen gabungan dari Kejati Lampung dan Kejari Bandarlampung melakukan penyisiran terhadap Richard mulai pada Rabu (20/1/2016) pagi.


SIMAK: Putra Mance Kabur, KY Nilai Kejaksaan Lambat Mengeksekusi

“Kami dapatkan sinyal ponselnya, lalu kami telusuri keberadaan Richard dari sinyal itu. Diketahui kuat, sinyal ponselnya berada di salah satu kamar penginapan di Toro Guesthouse. Kami langsung koordinasi dengan pihak penginapan,”ujarnya.

Kemudian, pihaknya mendatangi tempat penginapan itu, satu per satu kamar yang ada di penginapan dilakukan pemeriksaan. Sinyal hanphone milik Richard, terdeteksi di salah satu kamar penginapan nomor 19.

“Saat kami ketuk pintu kamarnya, ada suara wanita dari dalam kamar itu. Namun, pintu kamar tidak dibuka lalu wanita itu malah mengeluarkan kartu identitas (KTP) dari bawah pintu,”katanya.

Di khawatirkan buronan tersebut kabur lagi, akhirnya pihaknya bersama tim gabungan dari kepolisian mengatakan bahwa sedang ada razia.

“Setelah kami bilang razia dan meminta untuk membuka pintu kamar, akhirnya pintu dibuka oleh wanita itu. Kami melihat ada bayangan berada di kamar mandi. Saat di periksa, ternyata benar Richard bersembunyi di dalam kamar mandi,”terangnya.

Leo menuturkan, saat ditangkap dan akan dibawa petugas menuju ke dalam mobil, Richard sempat berontak. Pihaknya kemudian memborgol tangan Richard, lalu dimasukkan kedalam mobil.

“Khawatir terjadi apa-apa, kami langsung borgol saja tanggannya dan kami bawa,”tuturnya.

Ketika ditanya mengenai ke mana selama ini Richard kabur, Leo mengaku tidak mengetahui. Menurutnya, pihaknya tidak sempat menanyakan masalah tersebut kepada Richard.

“Kami tidak lagi menanyakan mengenai kaburnya ke mana saja, yang jelas karena kalau sudah ketemu langsung kami eksekusi,”ungkapnya.

Leo mengaku, teman wanita Richard tidak ikut ditangkap karena pihaknya sudah tidak perlu lagi meminta keterangannya. Menurut Leo, penangkapan Richard ini adalah, eksekusi berdasarkan perintah putusan dari Mahkamah Agung.

Usai membawa Richard ke Lapas Way Hui, kata Leo, pihaknya sudah menghubungi pihak dari keluarga Richard.

“Keluarganya sudah kami hubungi, memberitahukan soal penangkapan tersebut,”kata dia.

Ditambahkannya, untuk mengenai para buronan (DPO) lainnya yang belum tertangkap, saat ini tim masih melakukan pencarian terhadap para buronan tersebut. Pihaknya juga menghimbau, kepada para DPO agar segera menyerahkan diri dan kooperatif.

“Untuk para DPO lainnya, masih tetap kami cari. Semua upaya pencarian sudah kami lakukan, suatu saat pasti akan tertangkap. Kami masih menunggu niat baik dari para DPO itu, khususnya Satono dan Sugiartoalias Alay, sewaktu-waktu pasti kami menangkap,”pungkasnya.

Seperti diketahui, Richard sebelumnya sudah berulang kali mangkir dari panggilan eksekusi berturut-turut. Hingga pada akhirnya, pada Rabu (28/10/2015) lalu Richard  resmi ditetapkan sebagai buronan (DPO) Kejaksaan.

Richard divonis Mahkamah Agung (MA) selama 7 bulan penjara, atas kasus pengancaman menggunakan senjata api kepada seorang anggota satuan pengamanan (Satpam) Hotel Novotel, M.Septo pada 14 Juli 2011 silam.

BACA JUGA: Salinan Kasasi MA Sudah Keluar, Adik Bupati Pesawaran Segera Jalani Hukuman Penjara