Buruk Muka Cermin Dibelah

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh:Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Seperti disambar petir siang bolong, membaca berita online yang isinya sejumlah penegak hukum melakukan pelanggaran penyalahgunaan narkotik, dituntut hukuman tujuh bulan penjara. Jadi memaksa diri untuk mencermati kembali jangan jangan peristiwa itu salah ketik, salah baca atau salah rasa. Setelah semua ditelisik ternyata semua baik baik saja; tidak ada yang keliru, benar adanya terbaca seperti itu.

Penulis bukanlah ahli hukum apalagi praktisi hukum, namun membaca itu haru campur sedih; bahkan miris sekali, karena kejadian itu menimpa dan atau dilakukan oleh orang yang mengerti bahkan memahami hukum. Sementara membaca halaman lain dengan peristiwa lain, seorang wakil bupati diputus kerja sosial karena melanggar aturan hubungan sosial pada saat tidak diperkenankannya melakukan interaksi sosial. Ini diputuskan oleh penegak hukum yang taat hukum, paham hukum, selalu siap menjadi pengawal hukum.

Tampak sekali perbedaan jika untuk orang lain pedang ditebaskan ke leher sekeras kerasnya, sementara kalau untuk badan sendiri pedang ditebaskan ke batang pisang. Dalil dibuat, pembenaran dibikin, yang tampak muskil menjadi mungkin, yang tampak aneh menjadi wajar.

Beda lagi cerita seorang berjabatan menteri urusan bantumembantu, ternyata bantuannya ditilep sendiri; padahal bantuan itu untuk orang orang yang sedang kesulitan ekonomi bahkan lebih tepat disebut sekarat ekonomi, karena terkena akibat langsung maupun tidak langsung dari pandemi. Kalau dinegeri lain mungkin orang sekelas ini sudah naik tiang gantungan; tapi di negeri yang gemah ripah loh jinawi, oleh lembaga yang menangkap tangan, yang katanya akan menegakkan hukum seadil adilnya, jika perlu mereka menggunakan jurus hukuman mati bagi penileb Bansos, ternyata cukup dituntut tujuh tahun penjara. Itupun alasannya simple banget karena memiliki isteri yang sholeha, dan mungkin juga karena memiliki kucing peliharaan yang bunyinya ngeong.

Seolah olah sempurnalah sakitnya negeri ini, pandemi melanda, hukum dipermainkan oleh ahlinya, peraturan dilanggar oleh yang membuatnya. Rakyat jelata semakin merana, mata rabun karena hutang sudah berjibun. Mau bekerja sudah di PHK, mau meminta sama sama tidak punya, mau berteriak tenggorokan sudah tersedak, mata terbelalak tetapi sudah tidak melihat.

Negeri ini tidak miskin justru kaya raya. Negeri ini bukan berarti bodoh karena banyak orang pandai dimana mana. Hanya saja kekayaannya itu milik siapa, dan kepandaiannya itu digunakan untuk apa. Karena saking kayanya menjadi serasa miskin sepanjang masa sehingga nafsu korup diumbar semau mau saja, sehingga semua mau dimiliki, termasuk bantuan orang miskinpun dikadali.

Demikian juga kepandaian, saking merasa sudah pandai, maka aturan yang sudah disepakati pun, dibuat tidak bersepakat dengan dirinya, dengan kata lain kesepakatan itu tidak berlaku untuk diri atau kelompoknya.

Ada berita yang lebih gemblung dari yang gemblung: wakil Rakyat disuatu daerah mengancam mogok kerja karena uang perjalanan dinas tidak cair. Padahal, semua kita mengetahui bahwa perjalanan dinas karena kondisi sedang pandemi, memang ditiadakan. Terus pertanyaannya: perjalanan dinas mau pergi ke mana, untuk apa dengan tujuan apa? Padahal kalau secara jujur kita menilai, mereka bekerja tidak berpengaruh pada rakyat, mereka mogok juga tidak ada imbasnya kepada rakyat. Mereka melakukan perjalanan dinaspun tidak untuk rakyat.

Tampaknya ada dampak samping dari adanya pandemi ini yang tidak kita sadari selama ini yaitu: orang tampak waras, tapi sebenarnya gila. Mukanya yang buruk, tetapi disalahkan cerminnya, maka cermin yang harus dibelah. Efek terlalu lama tidak keluar rumah tampaknya membuat orang makin konyol, sehingga tidak mampu lagi membedakan garis pemisah antara yang patut dengan yang tidak patut. Atau akibat adanya pandemi membuat keseimbangan sosial terganggu; sehingga membedakan yang layak dan tidak layak sudah sulit dilakukan.

Atau bisa jadi karena kita banyak di rumah sehingga banyak waktu untuk menelisik kekonyolan sosial yang terjadi di masyarakat. Karena selama ini itu terjadi tidak ada yang mengamati, sehingga berlangsung seolah olah menjadi pembenaran sosial. Kalau itu yang terjadi maka sisi lain pandemi ternyata membawa keberkahan kepada kita untuk menelisik hal hal yang kurang patut. Namun juga bisa jadi ini tugas keilahian yang diperintahkan kepada manusia oleh Sang Khalik, untuk jangan terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga tidak mengetahui bahwa ada bencana di sana yang tidak kita pahami selama ini, yang itu mengancam keberadaan manusia sebagai rahmatanlilalammin. Berarti di balik musibah ternyata ada berkah.

Mudah mudahan semua perilaku menyimpang di atas hanya merupakan penyimpangan sosial yang tidak menarik gerbong lain untuk berbuat yang sama, sehingga kerusakan sosial tidak semakin parah. Pandemi mestinya menjadikan kita untuk melakukan introspeksi diri; sehingga menemukenali kembali jati diri yang mungkin selama ini telah kita kelola dengan kurang baik, atau bahkan kita selama ini mungkin telah mengesampingkan hukum hukum Tuhan.****

  • Bagikan