Beranda Views Kopi Pagi “Cabin Fever”,  Risiko Melonggarkan Covid-19

“Cabin Fever”,  Risiko Melonggarkan Covid-19

151
BERBAGI
dr. Handrawam Nadesul (Foto: Istimewa)

Handrawan Nadesul

Tidak semua orang bisa betah tinggal di rumah saja berlama-lama. Hanya orang rumahan yang suka berbulan-bulan berkegiatan di rumah saja. Itu maka banyak yang merasa gelisah kalau sudah lebih sebulan hanya di rumah, walaupun berusaha menyibukkan diri.

Mereka yang gelisah dan mulai bosan tinggal di rumah mengalami gangguan berjuluk “Cabin Fever”, “demam” yang muncul lantaran hanya mondok di ruang rumah. Maunya sudah ingin lepas terbang keluar rumah.

Kebijakan mulai melonggarkan masyarakat boleh lebih bergerak keluar rumah bikin yang menderita “Cabin Fever” menjadi kalap. Semua tempat hiburan, dan rekreasi diserbu. Seperti kuda baru lepas dari tambatan, begini kenyataannya terlihat di mana-mana.

Saya memperkirakan ini bisa menjadi awal kecemasan baru pemerintah. Boleh jadi kasus baru bakal merebak lebih tinggi dari sebelumnya dalam 2 minggu ke depan. Apalagi bukan sedikit masyarakat yang berkerumun, bergerombol, tidak lagi memakai masker di tempat publik.

Masker satu-satunya pelindung yang bisa diandalkan ketika menjaga jarak semakin sukar dipertahankan. Akan bagaimana nasib orang-orang yang bergerombol dan tidak memakai masker sudah bisa kita duga. Tentu akan menambah kasus baru tertular, oleh karena keadaan Covid-nya belum sama sekali normal.

Pemakaian kata “Normal baru” saya duga yang bikin rancu, masyarakat beranggapan keadaan sudah normal, tanpa memahami ada kata “baru”, yang artinya memasuki keadaan dengan cara hidup yang baru, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan rajin cuci tangan.

Saya kira pemerintah, Presiden Jokowi dalam hal ini sedang mengamati setiap jam, apakah memang dengan melonggarkan begini akan terjadi hal yang mencenaskan lagi itu. Bahwa diperkirakan kasus baru akan melonjak 14 hari ke depan nanti, mari kita tunggu.

Kesulitan pemerintah mengendalikan pandemi Covid-19 lantaran masyarakat kebanyakan masih kurang taat untuk diajak patuh pada protokol kesehatan. Barangkali karena kebanyakan dari mereka masih belum sepenuhnya memahami, bahwa dengan melanggar protokol kesehatan selain menentukan nasib hidupnya kalau sampai kehilangan nyawa, tidak menyadari pula kalau akan membahayakan orang lain juga.***

*Handrawan Nadesul adalah seorang dokter dan sastrawan

Loading...