Beranda Hukum Kriminal Cabuli 42 Siswa Laki-Laki, Guru Olahraga di Pesawaran Ditahan Polisi

Cabuli 42 Siswa Laki-Laki, Guru Olahraga di Pesawaran Ditahan Polisi

1358
BERBAGI
Tersangka EO, guru olahraga di Kabupaten Pesawaran, ditahan polisi karena diduga mencabuli 42 siswa laki-laki. (Foto: Polda Lampung)

TERASLAMPUNG.COM — Petugas Kepolisian Resort (Polres) Pesawaran menetapkan EO (32), seorang guru olahraga di Desa Pulaulegundi, Kecamatan Punduhpidada, Kabupaten Pesawaran  sebagai tersangka pencabulan terhadap 42 siswa laki-laki di bawah umur.

Begitu ditetapkan sebagai tersangka, EO langsung ditahan di ruang tahanan Polres Pesawaran.

“Mulai ari ini tersangka ditahan terkait kasus pencabulan anak di bawah umu,”  kata Kapolres Pesawaran AKBP M.Syarhan,Rabu (8/11/17).

Menurut AKBP M. Syarhan, penangkapan terhadap EQ bermula dari laporan warga pada 24 Oktober 2017 lalu.

Hasil penyelidikan unit PPA Sat Reskrim Polres Pesawaran menyimpulkan ada  42 anak dibawah umur menjadi korban pencabulan tersangka EO.

“EO ditangkap di Desa Pulau Legundi, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran. Tersangka merupakan guru olahraga, bidang bola voli. Kedekatan dengan siswa laki-laki itu dimanfaatkan untuk melakukan perbuatan yang tak senonoh terhadap muridnya,” ujar AKBP M. Syarhan.

Menurut Kapolres, pencabulan dilakukan tersangka dengan menjanjikan akan memberikan nilai yang bagus kepada korban. Syaratnya, para korban mau melakukan adegan tabu terkait hubungan seks sesama jenis.

“Modus tersangka menjajikan kepada korbannya nilai bagus, dengan imbalan oral seks,” jelasnya.

Dari 42 orang korban tersebut, kata AKBP M.Syarhan, 11 di antaranya menjadi ketergantungan terhadap oral seks.

“Usia mereka rata-rata 12 tahun sampai 17 tahun,” katanya.

Kapolres mengatakan tersangka EO menggunakan beragam modus dan lokasi setiap beraksi. Misalnya, korban diajak menginap karena tersangka sendirian di rumah ditinggal pergi istri dan anak. Lokasi pencabulan dari rumah tersangka, ladang, sampai rumah kosong. Tersangka hanya menyasar anak laki-laki.

Menurut Kapolres, ada tiga faktor utama mengapa tersangka bebas lama beraksi. Yaini, lokasi kejadian terpencil, pekerjaan tersangka sebagai guru olahraga honorer di pulau tersebut sangat akomodatif buat tersangka mencari korban, dan tersangka memanfaatkan sosoknya yang disegani oleh para orang tua murid untuk menutup mulut para korban.

“Tersangka juga mengancam para korban agar tidak melaporkan aksi yang dilakukannya kepada para orang tua korban,” kata Kapolres.

Akibat perbuatannya EO dijerat Pasal 82 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo pasal 65 KUHPidana dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Loading...