Budaya  

Cak Nun: KPU Ibarat Kapal Terkena Gelombang

Bagikan/Suka/Tweet:

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung

 

Cak Nun dan Syamsul (ist)

Bandarlampung—Emha Ainun Najib menganalogikan Komisi Pemlihan Umum (KPU) sebagai kapal besar yang terkena gelombang yang juga besar.

“Sehingga wajar terjadi goncangan. Untuk bagaimana menghadapi gocangan itu, tergantung kekuatan kuda-kudanya,” ujar Cak Nun, sapaan akrab budayawan dan pimpinan Kyai Kanjeng, Sabtu (22/3) malam.

Cak Nun tiba di Lampung untuk mengisi acara Sekala Selampung jilid II di Gedung Seba Guna (GSG) Mengggala, Tulangbawang, Minggu (23/3) pukul 17.00 hingga 21.00.

Ditemui di Hotel Sheraton Bandarlampung, Cak Nun ditemani pimpinan Jamus Kalimosodo, Lampung Timur, Syamsul Arifien.

Cak Nun mengatakan itu, ketika disinggung ketidakpastian pemilihan gubernur (pilgub) Lampung yang dijadwalkan dihelat bersamaan pemilu legiislatif (pileg) pada 9 April 2014.

Hinga kini banyak kalangan, termasuk para pengamat politik dan hukum, meragukan Pilgub Lampung bisa digelar sesuai jadwal KPU Provinsi Lampung, yakni 9 April 2014. Cak Nun lebih melihat pada sistem kelembagaan yang ada di Indonesia.

“Indonesia memang tidak bisa membedakan antara lembaga negara dan lembaga pemerintahan,” katanya lagi.

KPU, menurut Cak Nun, merupakan lembaga negara. Seharusnya tidak boleh diintervensi lembaga pemerintah. ”Masing-masing punya wilayah otoritasnya sendiri-sendiri.”

Sementara, imbuh dia, Jakarta (pusat, Red) sangat lemah. Karena mereka mencari bathi (keuntungan) sendiri di dalam konflik ini.

Meski demikian, Cak Nun memuji masih adanya kalangan intelektual yang masih memiliki nalar idealisme dalam menyikapi karut-marut politik di Tanah Air.

“Saya bangga dan memuji teman-teman intelektual dan seniman yang masih memiliki nalar idealisme. Mereka masih kritis,” kata suami Novia Kolopaking sambil menyebut nama di antaranya Oyos Saroso H.N., Iswadi Pratama, dan lain-lain.