Cak Slompret Budayawan Kita

Bagikan/Suka/Tweet:

Oyos Saroso H.N

Puluhan tahun Cak Slompret terkenal di seluruh pelosok negeri karena kelihaiannya wicara, mendalang, ngoceh di aneka seminar, menulis di media massa, dan manggung bersama pesinden cantik dari kampung ke kampung.

Cak Slompret adalah sosok ideal seorang budayawan: bisa melihat persoalan hingga detailnya sekaligus menjaga jarak dengan objek. Ia menjadi bintang pujaaan para pembaca koran, majalah, dan tabloid yang merindukan tulisan segar yang bisa jumpalitan mengritik Raja Emoh Obah.

Itu dulu. Ketika Raja Emoh Obah di Negeri Rai Munyuk berjaya dan suara-suara kritis dibungkam secara bengis. Kini cerita Cak Slompret sudah lain. Ia kini tinggal di kampung: bertani, memelihara itik, dan membuat telur asin. Sesekali ia masih manggung, mendalang dengan sabetan yang ngedab-edabi, bersama para sinden yang cantik dan penabuh gamelan yang mumpuni.

Tapi suara Cak Slompret masih keras. Kekerasan itu bisa tergantung latar dan sasarannya. Jika sasaranya adalah orang yang tidak pernah “nguwongake” dirinya, maka suaranya akan sangat keras. Ia sangat percaya diri bahwa jutaan pengagumnya akan membelanya.

Sebaliknya, kepada orang yang pernah nanggap wayangnya, maka Cak Slompret akan mengritik dengan sangat halus bahkan nyaris tanpa kritik. Ia bahkan tak segan memuji sang tuan di depan banyak orang yang membuat sang tuan tersenyum simpul.

Rekam jejak Mak Slompret sebenarnya nggak bagus-bagus amat. Meskipun tidak pernah korupsi — karena ia memang bukan pejabat negara atau bos lembaga profit — Cak Slompret sebenarny juga memelihara kalajengking di dalam hatinya. Ia tak segan menggunting dalam lipatan dan ogah diundang pentas jika bayarannya “tidak sesuai tarif” yang sudah ditetapkan tim manajemen.

“Saya harus menghidupi ratusan kru. Bagaimana mungkin ngundang saya gratisan?” sergahnya, suatu ketika.

Pada musim pilkades, Cak Slompret juga lunayan aktif jadi narasumber. Kalau tidak ada wartawan mewawancarainya, dengan ringan tangan ia kan mengirimkan rilis berisi pendapatnya tentang calon A, B, C, dan sebagainya.

“Jangan salah pilih. Pinokio kok dipilih!” katanya, dalam sebuah tulisan.

Biasanya, ketika ternyata orang yang diserangnya terpilih menjadi kepala desa, Cak Slompret akan sedikit minggir dan tiarap. Tapi di saat yang lain, dengan lincah ia akan menyindir.

“Apa saya bilang, pinokio kok dipilih….”

Aha, Cak Slompret. Seandainya dirimu bukan manusiia berdarah daging, seandainya dirimu tidak punya jago dalam setiap pilkades, maka seluruh warga Negeri Rai Munyuk akan angkat topi untukmu.

Kau ini pemain, Cak. Bagaimana mungkin setiap ucapanmu kau sangka sebagai kebenaran?