Capres Baliho

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh : Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Akhir-akhir ini di mana-mana kita sering disuguhi baliho yang berisi calon presiden. Dari yang berwajah cantik, sampai yang berwajah tampan, dari yang glamor sampai yang kendor, dari yang merakyat sampai bertampang ningrat.

Penasaran dengan semua itu, maka dilakukanlah wawancara takterstruktur dengan sampel acak (lebih tepat acak-acakan). Yaitu mewawancarai sejumlah orang tanpa pola tertentu dengan tetap menyamarkan nama, profesi, tempat, dan kapan. Pertama Pak Midun,  penjual kue keliling. Ketika  ditanyai soal gambar seseorang di baliho sebagai calon pimpinan tertinggi di negeri ini, ia menjawab dengan logat kental daerahnya:  “Aaa….ambo indak ta tariek jo gambar tu ha” (Aaah, saya tidak tertarik dengan gambar itu).

Waktu didesak mengapa dan siapa pilihannya; beliau berkelit nanti saja pada waktunya, sekarang cari makan saja susah.

Kedua Mbah Rasman, pemulung yang lanjut usia. Saat ditanyai hal yang sama, jawaban dia: “Kulo mboten ngertos pak de gambar niku” (Saya tidak mengerti dengan gambar itu pak de/paman).

Saat didesak soal pilihan, beliau menjawab beliau tidak pernah memilih dari dulu, alasannya lebih mementingkan cari sesuap nasi dari pada ikut yang tidak jelas.

Kemudian ditingkatkan sedikit keprofesi yang berbeda dengan persyaratan berbeda. Beliau bernama Dano, bekerja sebagai petugas keamanan perumahan. Tamatan Sekolah Lanjutan Atas beberapa tahun lalu ini menjawab pertanyaan dengan tegas,”Saya akan memilih bapak yang di baliho itu!”.

Begitu didesak alasannya simple saja: siapa tau nanti bisa jadi pegawai negeri.

Dengan aksen Palembang beliau berkomentar “siapo tau berubah nasip Pak!”

Berbeda lagi dengan Pak Amin. Guru SMA ini dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang di baliho atau yang tidak itu bukan fokus perhatiannya. Ia mengaku sekarang lebih mengutamakan pekerjaannya. Begitu pertanyaan yang sama ditanyakan kepada seorang doktor dan seorang guru besar, jawabannya sama. Hanya saja, caranya tidak lugas. Berbelit belit dan cenderung mengaburkan jawaban dengan berlindung pada analisis teori dan asumsi.

Semoga sampel di atas error semua. Namun ada esensi yang dapat ditangkap jika dana yang digunakan untuk membuat baliho disalurkan kepada mereka yang kurang beruntung dengan memberikan keterampilan atau modal kerja alih profesi dari pemulung ke pedagang asongan. Dari sekadar satpam juga bisa merangkap menjadi driver ojol, dan entah apa lagi keterampilan produktif lain. Akhirnya mengangkat derajat mereka yang terpinggirkan.

Bisa jadi merekalah sebenarnya duta sosial bagi sang calon daripada nampangkan muka di Baliho. Jika tidak dikelola dengan baik akan membuat disinformasi yang justru merugikan diri sendiri.

Menjadi presiden bagi orang terpinggirkan rasanya lebih mulia jika dibandingkan dengan presiden baliho; sebab jika tidak ada suratan menjadi presiden suatu negara, maka menjadi presiden orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi atau kehidupan, akan menjadi pahlawan yang tidak memerlukan makam pahlawan. Justru dia akan menjadi pahlawan kehidupan yang tinggal di dalam sanubari publiknya.

Orang menolak atau menerima sesuatu pasti ada sesuatu yang lain yang berbeda yang dia miliki; oleh karena itu menemukenali persoalan dalam masyarakat bukan dengan cara membebankan persoalan baru kepada masyarakat; akan tetapi paling tidak meringankan beban itu, minimal tidak menambahi beban lagi.

Masyarakat sudah semakin cerdas, namun bisa juga dalam pengertian mencari peluang mendapatkan keuntungan. Cara-cara transaksional tampaknya tidak dapat dihindari.  Oleh karena itu, harus disiapkan jurus-jurus cerdas agar bangsa ini tidak terjebak dalam lingkar kehancuran hanya karena kepentingan segelintir orang.

Mungkin nalar yang dipakai dalam tulisan ini dianggap aneh, karena ongkos sosial politik itu termasuk “menjual diri” dengan calon pemilih. Pertanyaannya adalah: apakah tidak ada cara lain dalam ‘menjual diri’ dengan lebih bermanfaat juga kepada orang lain sebagai calon pemilih?

Pendewasaan berpikir seperti ini memang perlu waktu dan tidak mudah mengalihkan sesuatu yang instan kepada yang berproses.

Selamat ngopi pagi.