Beranda Views Opini Cara Bung Karno Menghormati Kartini

Cara Bung Karno Menghormati Kartini

349
BERBAGI

Jauhari Zailani

Bagi Soekarno, membangun masyarakat, menbangun sebuah negeri tanpa mengerti soal wanita, akan banyak menemui kesusahan.

Soekarno menulis buku berjudul “Sarinah”. Sarinah adalah adalah pengasuh Soekarno waktu kecil,  ‘mbok’nya yang membantu sang bunda mengurusnya sejak dia masih kecil.

Buku itu kumpulan dari buah pikirannya yang disampaikan kepada peserta kursus perempuan. Bahwa dunia ini bermula dari perempuan. Peradaban modern dimulai dari perempuan. Perempuan yang mengenal pembagian pekerjaan, ketika laki pergi berburu, perempuan meladang. Sejak itu manusia mengenal pertanian. Ketika laki-laki gemar berburu dan nomadenn, perempuan lebih menyukai menetap. Itulah awal peradaban permukiman.

Wanita amat peduli dengan kualitas dan kemurnian keturunan, saat itulah manusia mengenal pendidikan. Manusia mengenal kebaikan dan keburukan, keikhlasan dan kedengkian. Perempuan mengajarkan moral.

***

Ketika belum dikenal monogami (suami istri sebagai pasangan tunggal), manusia berpasangan jamak. Siapa saja boleh berpasangan dengan siapa. Di zaman modern, di kenal (setidaknya di Rusia) dikenal “Teori-seks”. Penganjurnya bernama Madame Kollontay, dengan “Teori air segelas”nya dia berkata: “siapa laki-laki yang dahaga dahaga seks bisa meneguk ‘segelas air’ dari wanita”.

Namun “teori air segelas” dimentahkan oleh naluri cinta kasih dalam diri manusia. Kodrat manusia minta lebih dari segelas air, tapi juga Cinta yang memuliakan Cita manusia. Alam tak dapat didurhakai dengan mengecilkan, apalagi meniadakan cinta suci manusia. Soekarno mengutip Schopenhauer “Syahwat adalah penjelmaan yang paling keras daripada kemauan akan hidup. Keinyafan kemauan akan hidup ini memuat kepada fi’il membuat turunan”.

Nah, ketika laki-laki beristri banyak (poligami) wanita juga mengenal poliandri. Seorang wanita bisa tidur dengan beberapa laki-laki dalam satu waktu, atau dalam satu massa, kurun waktu.
Pertanyaannya, bagaimana kalau punya anak? Anak siapakah? Anak laki-laki A atau B, atau pak C, atau tuan D? Seorang laki-laki tidak dapat menentukan dengan pasti, apakah janinnya yang tumbuh di kandungan si Wanita. Tapi wanita bisa. Dalam masyarakat seperti itu, bagaimana manusia menentukan garis keturunan? Laki-laki tak bisa. Sedang seorang wanita tahu persis janin siapa yang membuahi rahimnya. Itulah jasa wanita.

***

Dulu, wanita dan laki-laki sepadan. Bahkan wanita dominan dalam peradaban dan kekuasaan. Daratan Cina dulu dikenal dengan sebutan “Negeri kaum perempuan”, atau Negeri Raja-Raja Puteri” untuk menggambarkan betapa wanita bukan hanya tampil dalam peradaban, tetapi dominan.

Demikian juga di Nusantara (Pra Indonesia) dikenal Ratu Simba dari Kerajaan Kalinggga. Di Pagar Uyung ada Bundo Kandung. Adi Nugroho dalam blognya menulis artikel berjudul “5 wanita hebat yang pernah menjadi raja dan menguasai raja Nusantara” menyebut nama dan kehebatan Raja Tribuwana dari Majapahit, Ratu Shima dari kerajaan Kalingga, Sri Isyana Tunggawijaya dari Medang, Sutanah Syah Alam Barisyah dari Perlah Aceh, Sutanah Nahrasiyah dari Samudra Pasai.

Ketika zaman industri dan teknologi, Dunia dikuasai oleh laki-laki, budaya Patriakhi lebih dominan. Wanita di panggung belakang, panggung depan diisi oleh laki-laki. Perempuan duduk bersimpuh
dihadapan laki-laki. Laki-laki bekerja 8 jam, perempuan bisa 16 jam sehari. Sepulang daripabrik, ia mesti harus mengurusi anak dan suaminya. Kapan Wanita berjaya lagi?

Itulah pentingnya Kartini dalam perjuangan kaum perempuan dan kebangkitan Indonesia. Kartini telah membangkitkan kesadaran kaum perempuan (di Jawa) yang terjajah. Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan pada perempuan. Agar hubungan setara antara laki-laki dan perempuan.
Bahkan Soekarno mengutip pendapat Burbach “Sangat boleh jadi kaum perempuan itu lebih cakap buat urusan politik daripada kaum laki-laki”.

***

Itulah Sekelumit dari pemikiran Soekarno (Presiden Republik Indonesia) yang saya ambil dari buku Sarinah, dalam rangka Hari Kartini, 21 April 2016.


* Dr. Jauhari Zailani adalah pengamat politik-sosial-budaya. Tinggal di Bandarlampung

Loading...