Beranda Views Sepak Pojok Catatan Atas ‘Exit Poll’ Pemilu 2014

Catatan Atas ‘Exit Poll’ Pemilu 2014

306
BERBAGI

Made Supriatma*

Sampai saat ini saya baru menemukan hanya satu exit poll dari pemilihan umum legislatif 2014. Itu datang dari sebuah lembaga survei yang bernama Indikator Politik Indonesia. Saya banyak mendengar hal yang baik tentang lembaga survei ini, terutama integritasnya dan independensinya.

Bagi saya, exit poll ini terkategori lumayan. Memang tidak banyak informasi yang bisa digali. Detailnya tidak seperti exit poll dari lembaga-lembaga polling di Amerika yang bisa memberikan gambaran yang rinci tentang perilaku pemilih.

Exit poll adalah gambaran perilaku pemilih. Ia berbeda dari quick count (penghitungan cepat) dalam sebuah pemilihan karena quick count hanya memprediksi perolehan suara partai-partai yang bertarung. Sementara, exit poll memberikan gambaran kondisi demografis pemilih.

Dinamakan exit poll karena responden polling ini ditanyakan segera setelah dia keluar dari arena pencoblosan. Exit poll dibedakan dari opinion poll karena opinion poll bertujuan untuk mengetahui apa yang akan dipilih oleh responden. Dengan demikian, exit poll memberikan gambaran nyata tentang pilihan si pemilih dan latar belakang demografisnya: gender, umur, etnis, ras, pendidikan, tingkat penghasilan, dan lain sebagainya.

Dalam demokrasi elektoral, exit poll ini penting. Terutama karena dia memberikan latar belakang sosial para pemilih. Hasilnya dipakai oleh media massa, oleh ahli strategi pemenangan kampanye, oleh ilmuwan politik, dan oleh
pengamat iseng macam saya ini.

Nah, mari kita lihat hasil exit poll yang dilaporkan oleh lembaga survei  Indikator  Politik Indonesia bekerjasama dengan MetroTV ini.

Partai politik peserta Pemilu 2014.
Partai politik peserta Pemilu 2014.

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari exit poll ini. Inilah catatan saya dan akan saya perlihatkan satu per satu:

1. Tentang Pelaksanaan Pemilu: Berlawanan dengan persepsi di media massa dan di media sosial, mayoritas responden merasa puas dengan pelaksanaan Pemilu dan pelaksanaan demokrasi. Pemilu dianggap cukup Jurdil. Demokrasi dianggap berjalan dengan baik. Tapi saya meragukan validitas survei di bagian ini. Mereka yang menjadi responden adalah mereka yang datang ke TPS. Asumsinya adalah kalau orang datang memilih (berpartisipasi) artinya dia memang percaya atau puas dengan proses demokrasi. Ini tidak bisa dijadikan indikator untuk tingkat kepuasan terhadap proses demokrasi.

2. Calon atau Partai?: Untuk saya ini pertanyaan penting. Banyak komentar di media sosial yang saya baca menyatakan bahwa kalau calonnya dikenal maka pemilih akan cenderung memilih calon dan tidak melihat partai. Polling ini mengkonfirmasi pernyataan itu. 42.2% dari responden mengatakan mereka memilih calon.

3. Keputusan Menjatuhkan Pilihan: Ketika ditanyakan sejak kapan sudah memutuskan untuk menentukan apa yang akan dipilih, mayoritas (41.8%) mengatakan sejak lebih dari setahun lalu dan 18.8% mengatakan sejak beberapa bulan lalu. Sangat sedikit yang memutuskan ketika kampanye terbuka atau beberapa saat sebelum pemilihan. Ini bisa dibaca bahwa preferensi orang terhadap apa yang dipilih itu ajeg. Kampanye itu tidak berpengaruh apapun. Mungkin bisa juga disimpulkan bahwa pemilih Indonesia mengamati dengan cermat para politisi mereka (hey, politisi … waspadalah! Rakyat melihat kamu dengan seksama!).Sebaran jawaban makin merata ketika ditanyakan mengapa memilih partai atau calon yang dipilih: ada yang mengatakan karena program, karena ikut dengan pilihan keluarga, karena calonnya bagus, dll. Yang menarik untuk saya adalah preferensi memilih karena faktor agama itu kecil. Juga pengaruh anjuran dari tokoh-tokoh di lingkungan sekitarnya.

4. Gender: PDIP adalah partai laki-laki; Golkar adalah partai perempuan. 17% dari responden laki-laki memilih PDIP (12% perempuan). Sementara 13% dari total responden perempuan memilih Golkar (10% laki-laki). Partai laki-laki lainnya adalah Gerindra (10% vs 8%). PKB lebih banyak dipilih oleh pemilih perempuan. Sementara PKS, yang banyak dipersoalkan dari sisi gendernya tidak memperlihatkan ketimpangan gender.

5. Desa-Kota: Dugaan banyak orang: PDIP adalah partai yang didukung oleh rakyat kecil pedesaan. Betul kan? Salah! Pemilih PDIP sebagian besar datang dari pemilih perkotaan (17% vs. 12%  dari responden). Sementara Golkar dipilih merata baik di kota maupun di desa. Demikian juga PKS. Kalau begitu, partai apa yang dipilih pemilih di pedesaan? Mereka adalah Gerindra, PKB, Demokrat, dan Hanura.Untuk PKB dan Demokrat, saya bisa maklum. Basis massa PKB adalah NU yang kebanyakan di pedesaan. Demokrat unggul di pedesaan karena ia adalah partai incumbent. Yang menarik adalah Gerindra. Adakah ini berhubungan dengan peran Prabowo sebagai Ketua HKTI? Ini mengingatkan saya pada strategi partai Thai Rak Thai di Thailand, partainya Thaksin Shinawatra yang bertumpu pada pedesaan.

6. Usia: Dulu, ketika jaman Orde Baru, PDIP dikenal sebagai partai orang muda, partai perubahan. Masih layakkah PDIP disebut sebagai partai orang muda? Sama sekali tidak. Elektorat PDIP berumur lebih dari 60 tahun (19%). Partai ini adalah partainya orang tua. Sama seperti Demokrat. Kontras dengan Gerindra yang justru didukung oleh golongan umur muda. Dukungan untuk Gerindra justru paling sedikit datang dari elektorat tua. Sementara Golkar memiliki umur elektorat yang merata.

7. Pendidikan: Lagi-lagi gambaran yang paling menarik yang diberikan oleh PDIP. Mayoritas elektorat PDIP hanya berpendidikan SLTA. Jumlah elektorat dengan pendidikan SLTA di PDIP dua kali dari jumlah elektorat dengan pendidikan tinggi (universitas). Partai yang paling banyak lulusan universitasnya adalah PKS. Yang unik adalah Gerindra dan PKB yang elektoratnya terbanyak lulusan SLTP. Untuk saya, ini konsisten dengan pemilih Gerindra dan PKB yang sebagian besar
berasal dari pedesaan.

8. Pendapatan: Partai mana yang bisa dikatakan sebagai partainya orang mapan, berkecukupan, dan mungkin bisa dibilang  kaya? Ya, Golkar. Ini mengkonfirmasi pandangan umum bahwa elektorat Golkar itu umumnya kaya. Karakter elektorat yang hampir serupa juga dijumpai pada Demokrat dan PDIP.Barangkali, tidak terlalu salah untuk mengatakan bahwa ketiga partai ini adalah partai kelas menengah Indonesia. Kelas menengah ini diciptakan oleh Orde Baru dari kelas keluarga pegawai negeri dan TNI/Polri. Hal yang tidak mengherankan kalau pemilih PKB kebanyakan miskin. Tapi yang lebih menarik adalah elektorat Gerindra yang mayoritas berpendapatan kurang dari Rp 2 juta/bulan.

9. Lain-lain: Masih banyak  yang bisa dipelajari dari exit poll ini. Seperti misalnya, berlawanan dengan ketidakpuasan terhadap SBY di media massa dan di media sosial, para responden daloam exit poll ini sebagain besar merasa puas dengan kerja SBY; mereka juga lebih optimis akan ekonomi di masa depan; kita juga tahu bahwa sepertiga elektorat bisa menerima politik uang; dan sebagian besar responden tidak mengakses media massa atau media sosial; PDIP dan Golkar yang paling banyak memiliki spanduk atau stiker, dan masih banyak lagi.

Apa pesan elektorat Pileg 2014 ini?

* PDIP adalah partai mapan yang diminati kelas menengah, partainya orang tua, perkotaan, pendidikannya sebagian besar SLTA.

* Golkar adalah partai yang ‘stabil’ dan mapan; dengan elektorat berpendidikan tinggi, diminati oleh semua golongan umur; pendukungnya berimbang di perkotaan atau perdesaan.

* Gerindra adalah partai ‘wong cilik’ dengan pendukung kebanyakan di pedesaan, pendidikan rendah (mayoritas SLTP); partainya orang muda.
* PKB jelas sudah kembali ke akarnya: NU yang bernuansa perdesaan.

* Demokrat: Memiliki perpaduan karakter antara Golkar dan PDIP. Tidak heran kalau Demokrat memiliki ‘swing voters’ paling banyak. Pemilih Demokrat kemungkinan melimpahkan suaranya ke PDI-P.

Masih banyak yang bisa dipertanyakan lebih jauh sebenarnya. Tapi dari data terbatas yang disajikan, sulit sekali untuk membikin kesimpulan yang lebih spesifik.

Terakhir: Adakah pengaruhnya terhadap pemilihan presiden?

Saya kira, iya. Berita bagus untuk Jokowi adalah bahwa para elektorat ini lebih melihat ‘orang’ ketimbang ‘partai.’ Berita buruknya adalah bahwa elektorat PDIP adalah orang-orang tua; dan basisnya ada di perkotaan. Yang menjadi pertanyaan: Kemana PDIP sebagai partai orang muda? Sebaliknya pemilih Gerindra adalah orang-orang muda.

Hal kecil: Apakah Metallica, group band Amerika kesukaan Jokowi itu melambangkan anak muda? Itu band generasi tahun 80an (generasi saya!). Cocok dengan elektorat PDIP tapi tidak masuk untuk elektorat muda. Jika pun Iwan Fals masih bisa menarik massa, apakah Iwan Fals bisa mewakili anak muda zaman sekarang?

Sementara Golkar adalah partai ‘mapan, stabil.’ Partai ini punya pendukung tetap, yang saya kira tidak akan kemana-mana. Dan karenanya, Bakrie sebagai capres bisa diperkirakan tidak akan maju ke babak kedua – kalau dia mencalonkan di putaran pertama. Tapi Golkar punya posisi strategis. Dia bisa berkoalisi dengan siapa saja. Sebagai partai yang terus-terusan memerintah, tentu Golkar harus memihak yang menang. Nah, persoalannya untuk Golkar adalah mencari tahu siapa yang menang. Sebab jelas, ARB – dengan karakter elektorat seperti ini – tidak akan bisa menjadi presiden.

Gerindra: Ini partai yang persis sama meniru strategi Thai Rak Thai – kabarnya konsultannya dari sana juga. Dengan karakter elektorat yang dimiliki, partai ini sangat dinamis. Gerindra sekarang ini sangat tergantung dari kepiawaian Prabowo untuk mencari mitra koalisi.

Demokrat: Sama seperti Golkar. Dilihat dari elektoratnya, ini partai mandeg. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak ada calon presiden (kasihan yang sudah ikut konvensi!). Mungkin posisi Wapres pun tidak.

PKB: Karakter elektoratnya sangat mirip dengan Gerindra, kecuali bahwa ini partai yang lebih tua. PDIP mungkin lebih butuh PKB ketimbang PKB butuh PDIP. Dengan elektorat seperti ini PKB sebenarnya partai yang paling beruntung dalam Pileg kali ini. Dia bisa masuk kemana saja: Golkar, PDIP, Gerindra … mereka semua butuh PKB. Mungkin Muhaimin bisa menjadi Wapres. Tapi itu akan membuatnya patah arang dengan Rhoma Irama.

Partai-partai Islam: Sekalipun jumlah suara yang didulang partai-partai Islam saat ini lebih besar dari tahun 2009 (33% – 29%), partai-partai Islam tetap
terpolarisasi tajam seperti dahulu. PKS tidak mampu menjadi partai massa dan memperluas elektoratnya ke pedesaan, ke golongan pendidikan rendah. PKS adalah
partai kelas menengah Islam. Sebaliknya PPP juga tidak berkembang. Dia hanya eksis karena jaringan lama – yang diciptakan sejak Orde Baru. Saya perkirakan
sekarang pun partai-partai Islam tidak akan bersatu dalam satu koalisi. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri.

*Made Tony Supriatma, editor  Joyo Indonesia News Service

Loading...