Beranda Seni Sastra Catatan atas Kumpulan Puisi “Rekaman Terakhir Beckett” Karya Ari Pahala Hutabarat

Catatan atas Kumpulan Puisi “Rekaman Terakhir Beckett” Karya Ari Pahala Hutabarat

739
BERBAGI

Oleh: Ahmad Yulden Erwin

“It certainly concerns God, for the genealogy of evil is also a theodicy. The catastrophic origin of societies and languages at the same time permitted the actualization of the potential faculties that slept inside man.” 1)

— Jaques Derrida, “Of Grammatology”, Translated by Gayatri Chakravorty Spivak, 1967

Bahasa tulis itu berbeda dari bahasa lisan dan keduanya memiliki peluang tingkat kesalahan yang sama besarnya. Hal itu ditegaskan oleh Jaques Derrida di dalam buku “Of Grammatology”, khususnya pada bagian ketika ia mendekonstruksi pemikiran Ferdinand de Saussure perihal fonosentrisme. Fonosentrisme, menurut Derrida, adalah paham pemikiran di dalam strukturalisme yang cenderung menomorduakan bahasa tulis karena mengutamakan bahasa lisan. Pengutamaan bahasa lisan itu bahkan oleh Derrida disebut menjadi akar dari logosentrisme, akar dari kecenderungan manusia untuk mencari dan mengekspresikan hal yang dianggap trensenden, murni, pasti, dan tak perlu ditunda pemaknaanya. Singkatnya, sebuah absolutisme.

Menurut saya, kecenderungan para penulis sastra yang ingin tulisannya mudah dipahami oleh pembaca adalah kecenderungan fonosentrisme. Kecenderungan ini menciptakan semacam dugaan bahwa satu teks yang mudah dipahami atau “langsung” dipahami oleh pembaca lebih tinggi derajat literasinya. Hal begitu tak lain satu kecenderungan absolutisasi ujaran dan menolak menunda pemaknaan di dalam satu tulisan, satu ketakutan akan peru-bahan, akan ketakpastian, dan cenderung menarik solusi ringkas (meski ilusif) bahwa kepas-tian pemaknaan itu hanya mungkin terjadi di dalam ujaran lisan. Seperti juga logosentrisme, fonosentrisme adalah satu kecenderungan dari moda berpikir modernisme, bukan postmodernisme, yang berakar sejak Plato—bahkan Permenides—dalam filsafat Yunani.

Fonosentrisme juga memiliki kecenderungan untuk menguasai pemikiran massa, terutama di dalam praksis politik. Para politisi, di dalam propaganda atau janji-janji kampanye-nya, dituntut menggunakan ekspresi bahasa yang mudah dipahami oleh massa, dan oleh sebab itu kepastian pemaknaan menjadi latar pengujaran mereka agar mampu menghagemoni pikiran massa. Tidak peduli apakah isi ujaran lisan yang disampaikan itu benar atau salah, tetapi “khotbah” yang mudah dipahami—yang sesimpel mungkin—adalah tali tersembunyi untuk menyeret dukungan massa ke dalam afiliasi politik tertentu.

Saya pikir mungkin itulah sebabnya para politisi yang memiliki kemampuan orasi hebat, seperti Adolf Hitler, cenderung mendapat “pemberhalaan” oleh massa. Hitler diberhalakan oleh massa di Jerman pada perang dunia kedua, di negeri yang justru telah melahirkan para pemikir dunia dalam bidang logika, epistemologi, dan sains—yang pemikirannya terus berpengaruh hingga saat ini—seperti Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx, Edmund Husserl, Albert Einstein, dll. Bisakah Anda melihat hal ini sebagai sebuah ironi yang pahit? Bisakah Anda melihat bagaimana fonosentrisme telah membuat logika menjadi semacam lelucon tertulis, semacam permainan yang dianggap merendahkan derajat suci kelisanan? Bisakah Anda melihat fakta bagaimana fonosentrisme di Jerman pada abad ke-20 kemudian bertransformasi secara metaforis menjadi monster pembantai paling mengerikan, yang telah memungkinkan kematian 62.000.000 orang lebih dalam perang dunia kedua? Bagaimana itu bisa terjadi?

Seorang orator yang terlatih mampu menghipnotis massa yang mendengar orasinya, mampu menciptakan ilusi kepastian (atau mudah dipahami massa) di tengah ketidakpastian perubahan. Ketika kau mampu menciptakan kerumunan, maka massa di dalam kerumunan itu secara psikologis akan menjadi “buta”: mereka tak memerlukan berpikir logis, mereka hanya menuntut hiburan tentang kepastian dari para orator yang dipujanya. Ketakpastian ditolak, karena ketakpastian adalah rasa sakit utama dalam pikiran massa, dalam bawah sadar kolektif, yang mesti disembuhkan oleh semacam “firman” dari para orator. Firman (termasuk “firman” dari para orator itu sendiri), dalam keyakinan naif para orator politik dan pemuja fanatiknya, cenderung tak menuntut pembuktian logis apa pun, tetapi harus diterima saja sebagai semacam kepastian rigorous, sebagai semacam asumsi yang turun langsung dari suara-lisan-kemurnian dan karenanya sungguh “tak sopan” dipertanyakan.

Mungkin, saya menduga, bagi kebanyakan para pemeluk teguh setiap pembuktian logis atau intuitif atas firman, atas narasi-narasi kanonik itu, adalah satu upaya “pemurtadan”, suatu upaya untuk melawan kepastian atau iman, sehingga wajib dihukum seberat-beratnya, bahkan dalam arti fisik. Di sisi lain, dengan sedikit parodis, terminologi pemurtadan sekarang justru bisa ditafsirkan sebagai sebuah konsep delogosentrisme atau dekonstruksi, ketimbang teologi. Benarkah begitu?

***

Dalam pembacaan saya, ditinjau dari aspek pendalaman tematik, puisi-puisi Ari Pahala Hutabarat pada kumpulan ini berupaya keluar dari jerat narasi-narasi besar yang telah menghagemoni mayoritas pemikiran manusia selama berabad-abad. Narasi-narasi besar itu dibentuk oleh semacam epistemologi (atau episteme) yang berusaha mengunci setiap kepastian di dalamnya. Semua ketakpastian harus keluar dari ruang epistemilogis. Namun, Ari justru melihat bahwa semua itu tidaklah pasti, ada semacam kegamangan yang samar-samar dalam narasi-narasi besar itu, yang terus mengikuti umpama bayang-bayang tubuh kita, semacam makna yang minta ditunda. Di dalam puisi berjudul “Epistemologi”, puisi pembuka kumpulan ini, Ari mencoba memainkan wacana perihal ketakpastian dalam cara berpikir manusia, begini ditulisnya dalam paragraf kedua puisi itu:

“di muka cermin ia berdiri. menatap tatapannya. tersenyum & yakin bahwa ia memang ada. kemudian ia melangkah, masuk ke cermin. kaki kanannya dahulu, dahinya dahulu. setelah itu sekujur tubuhnya. di dalam cermin, ia menatap sosok yang tadi menatapnya. “pada akhirnya, aku bisa bertanya, siapakah yang kufur, yang berdiri di luar cermin atau yang berdiri di dalam cermin,” ujarnya. sejak itu ia takzim pada segala sesuatu yang berwarna putih. lalu—”

“Siapakah yang kufur?” Begitu sang narator (subjek lirik) di dalam puisi itu bertanya kepada dirinya sendiri. Ketika ia “menatap tatapannya”, sesungguhnya ia pun tengah menatap pikirannya sendiri, narasi-narasi besar dalam pikirannya itu, seperti ketika ia menatap bayangan sosoknya sendiri di cermin. Teknik ini, di dalam tradisi spirtualitas modern yang dikembangkan oleh Jiddu Krishnamurti (1895 – 1986) disebut “dua anak panah”. Pikiran yang biasa mengarahkan mata panahnya keluar pikiran, kini diarahkan kepada pikiran itu sendiri. Ini memungkin semacam “kekufuran” terhadap kepastian rigourus epistemologis. Pikiran yang melihat pikiran itu mulai menunda kepastian pemaknaan, semacam jeda, atas sesuatu yang kita kenal, yang kita ketahui atau kita anggap kita ketahui selama ini. Kita pun mulai memasuki dunia yang tak kita kenal, dunia yang selalu baru, yang terus-menerus memikat kita dalam ketakpastian pemaknaan. Begitulah, sang subjek di dalam puisi–puisi Ari memasuki dunia delogosentrisme, dunia yang tanpa pusat—yang juga bisa ditafsirkan sebagai memiliki pusat di mana-mana, sekaligus tak di mana-mana.

Namun, kenapa mesti ada delogosentrisme? Kenapa kita mesti memilih ketakpastian yang mungkin membuat kita sangat tidak nyaman itu, bila kita bisa memilih kepastian dalam epistemologi tertentu? Apa untungnya pilihan itu? Ari mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan satu puisi yang jujur, semacam “pemurtadan” yang lain terhadap janji kepastian epistemologis, di dalam satu puisi pendeknya berikut ini:

ADAM

aku cuma pesulap
yang tertipu oleh sulapanku sendiri

Adam di dalam puisi Ari di atas, bukan lagi sosok nabi atau manusia pertama dalam kitab suci, juga bukan sosok sedih yang terlempar dari surga pada puisi Sapardi Djoko Damono, tetapi satu sosok yang mengakui sulapan epistemologis di dalam pikirannya sendiri, satu tipuan yang menyamankan, satu “hoax” yang membuat kita merasa yakin, merasa beriman, meski sebenarnya itu cuma ilusi pikiran belaka. Adam telah kufur, telah murtad, dari ilusi kepastian dalam pikirannya sendiri. Lalu, apa untungnya kesadaran itu bagi Adam?

Perihal keuntungan atau kemanfaatan dalam epistemologi itu bukanlah sesuatu yang baru. Hal begitu telah menjadi dasar dari logika pragmatisme sejak abad ke-19. Prinsip kebenaran pragmatis pertama kali diperkenalkan ke publik oleh Charles Sanders Peirce lewat satu esainya yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”. Esai ini terbit pertama kali dalam majalah “Popular Science Monthly” pada tanggal 12 January 1878. Teori kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal, atau sosial. Benar atau tidaknya suatu teori tergantung pada berfaedah atau tidaknya teori tersebut bagi kehidupan praktis manusia. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari, dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”.

Bagi mereka ukuran kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (effect). Sehingga dapatlah dikatakan pragmatisme tiada lain suatu aliran pemikiran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah segala yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Artinya, semakin banyak orang yang menyatakan suatu ide itu berguna, maka ide akan semakin jelas, semakin bermakna, dan berarti benar. Untuk lebih jelas, baca kutipan dari esai “How to Make Our Ideas Clear” karya Charles S. Peirce berikut ini:

“Consider what effects, that might conceivably have practical bearings, we conceive the object of our conception to have. Then, our conception of these effects is the whole of our conception of the object.” 2)

Memadukan antara logika, matematika, dan topologi merupakan salah satu cara pembuktikan Peirce dalam esai “How to Make Our Ideas Clear”. Teori kebenaran pragmatis dari Peirce juga berkonsekuensi terhadap pembelaan atas darwinisme epistemologis yang mene-rima pandangan bahwa sejarah ide adalah sejarah dari ide para pemenang (dalam jumlah para pendukungnya), sementara ide dari yang kalah langsung dianggap salah. Benarkah demikian?

Saya pernah membuktikan dalam salah satu esai saya yang lain bahwa argumen konsekuensi pragmatis dari Charles Sanders Peirce belum tentu benar. Begini pembuktian saya itu:

Bagaimana Anda bisa membuktikan pernyataan deklaratif (proposisi) benar atau salah, bila subyeknya tidak diketahui atau tidak bisa diidentifikasi dengan jelas? Jawab: gunakan kalkulus predikat atau biasa dikenal juga sebagai logika predikat. Misalnya pada proposisi berikut ini:

“Ada seorang ibu bagi semua manusia di bumi.”

Bila menggunakan kalkulus predikat, proposisi di atas akan ditulis sebagai berikut:

Diketahui:
S = Semesta pembicaraan adalah semua manusia di bumi saat ini.
x = Ibu
y = Anak-anak dari x
z = Manusia di bumi
⇒ = Implikasi (maka)
∀ = Kuantor universal (semua)
∃ = Kuantor eksistensial (beberapa atau satu hal)

Proposisi:
M(x,y) = x melahirkan y
P(y,z) = y adalah z
T(x,z) = x melahirkan z

Maka, proposisi kalkalus predikatnya dapat ditulis begini:

(∃x) (∀y) (∀z) ((M(x, y) ⇒ P(y, z))

atau

(∃x) (∀z) T(x,z)

Pembuktian Proposisi:

1. Proof (bukti) Menggunakan Kalkulus Predikat

Bila Anda hendak membuktikan proposisi di atas dengan menggunakan kalkulus predikat, maka Anda mesti mencari keberadaan “seorang ibu” (∃x) yang mela-hirkan semua anaknya (∀y) dan semua anaknya itu adalah “semua manusia di bumi” (∀z) pada saat ini (S). Dengan kata lain: “x adalah ibu dari semua manusia di bumi” atau bila hendak ditulis dalam proposisi kalkulus predikat akan menjadi (∃x) (∀z) T(x,z). Proposisi kalkulus predikat tersebut terbukti salah karena tak ada seorang pun ibu atau (∃x) yang akan menyebabkan fungsi T(x,z) benar pada semua z di dalam semesta pembicaraan (S).

2. Proof (bukti) Menggunakan Logika Proposisional

Pada proposisi majemuk M(x, y) ⇒ Z(y, z), hipotesis Z selalu terbukti salah, karena tidak benar anak-anak dari x adalah semua manusia di bumi saat ini. Di dalam prinsip koherensi teoritik pada tabel kebenaran dari logika proposisional, sebuah proposisi majemuk yang menggunakan operator implikasi akan terbukti salah bila dan hanya bila konsekuennya (akibat atau efek) terbukti salah.

Begitulah saya membuktikan bahwa logika konsekuensi pragmatik dari Charles Sanders Peirce bisa keliru, bahwa “satu ide yang membawa akibat atau manfaat bagi orang banyak, belum tentu benar.” Dengan kata lain, ide yang disepakati oleh mayoritas penerima manfaat, yang populer, belum tentu benar.

Problem sosial akan benar-benar menjadi absurd ketika sebuah patafora (yang berakar pada metafora, bukan realitas indrawi atau material), tiba-tiba bisa menyebabkan konflik dari masa ke masa—menyebabkan peperangan dan genosida. Ketika Charles Sanders Peirce, termasuk para pemikir aliran pragmatis sesudahnya, mencoba mencari landasan logis bagi keberadaan seluruh imajinasi (patafora) dari “sistem keyakinan” manusia tidak di dalam realita yang bisa diverifikasi (teori korespondensi) dan tidak juga di dalam teori koherensi, tetapi di dalam konsekuen dari satu implikasi logis, dari akibat yang berguna bagi banyak orang, maka yang terjadi kemudian adalah penyangkalan terhadap teori korespondensi dan koherensi. Saya pikir itu adalah satu kekonyolan yang mungkin tak diduga oleh Charles Sanders Peirce sebagai bapak filsafat pragmatisme sendiri. Misalnya, sebuah gagasan terkait kebijakan politik genosida atau proxy war di satu negara Asia Tenggara atau Afrika atau Timur Tengah bisa dibenarkan asalkan bisa memberi manfaat bagi mayoritas rakyat di Amerika Serikat.

Akibat (konsekuen) dari satu proposisi yang menggunakan operator implikasi lebih merupakan sebuah hipotesis yang mesti dibuktikan kebenarannya dengan uji prinsip-prinsip korespondensi. Jadi, menurut saya, agak aneh ketika Charles Sanders Peirce justru menggunakan “efek” dari satu ide sebagai landasan bagi kebenaran ide tersebut. Sebuah patafora, di dalam kriteria kebenaran pragmatis dapat menjadi kebenaran jika dan hanya jika memberi manfaat kepada banyak orang, tetapi ketika tak lagi memberikan manfaat, malah menjadi mudarat, maka kebenaran dari patafora itu pun berubah menjadi kesalahan.

Kebenaran satu ide yang diukur dari kemanfaatan populisnya terkadang bisa menjadi satu gagasan konyol. Jika genosida adalah satu fakta peristiwa yang bisa diuji kebenarannya dalam konteks teori korespondensi, maka dalam konteks pragmatik ide genosida bisa diubah menjadi berkah dengan sebuah rekayasa anteseden (sebab), misalnya dengan menyebarkan isu bahwa kaum yang akan atau telah dibantai itu adalah kaum yang akan membantai kaum mayoritas sehingga kaum mayoritas yang tidak tahu fakta sebenarnya bisa menerima genosida tersebut sebagai tindakan atau gagasan logis, karena akibat (konsekuen) dari genosida tersebut akan menyelamatkan kehidupan kaum mayoritas.

Klaim kemanfaatan satu ide terhadap mayoritas dalam pragmatisme juga lebih merupakan sebuah patafora, ketimbang sebuah fakta atau kasus umum. Sebuah survey politik, misalnya, lebih merupakan sebuah landasan imajinatif bagi para politisi untuk melakukan tindakan politik, ketimbang sebuah pertimbangan teoritik atau faktawi yang bisa diuji secara logis.

Perihal yang hendak digugat oleh Ari di dalam kumpulan “Rekaman Terakhir Beckett” adalah soal “kepastian pemaknaan kebenaran”, yang kemudian bertransformasi menjadi logika instrumental, menjadi sekadar kebergunaan, dan mengabaikan aspek kriteria kebenaran lainnya. Pemusatan itu, logosentrisme itu, yang berakar pada fonosentrisme, pada ilusi kemurnian dalam ujaran lisan, telah menyeret epistemologi manusia kepada penyederhaan pragmatik: “Saya berguna, maka saya benar.”

Dengan licin Ari kemudian menggunakan penyederhanaan pragmatik itu menjadi semacam permainan bahasa di dalam puisi-puisinya. Tema-tema besar itu dijungkirbalikkan menjadi tema-tema kecil. Mitos-mitos agung dilucuti kepastian enigmatiknya, menjadi sekadar peristiwa biasa, peristiwa sehari-hari, peristiwa di mana tetes air mata dan gelak tawa bisa hadir tanpa mesti menjadi semacam noda atas kesucian narasi. Batasan-batasan temporal dalam waktu juga bisa hadir saling memasuki: masa lalu tiba-tiba menyusup pada masa kini, masa kini berbiak dalam masa lalu, lalu masa depan pun bisa hadir dalam masa kini dan masa lalu. Dunia jungkir balik dari penanda dihadirkan oleh Ari untuk membuat kita menyadari bahwa semua itu hanya sulapan yang dibuat Adam, aspek manusiawi di dalam diri kita, demi membuat dirinya nyaman oleh ilusi kepastian. Ketika ilusi kepastian itu disaksikan sendiri oleh Adam di dalam pikirannya, maka penudaan pemaknaan pun hadir. Penundaan itu memungkinkan kita untuk benar-benar melihat realitas yang dibangun oleh instrumen epsitemologis: kepastian yang goyah, yang mungkin juga telah lama runtuh, tetapi terus kita pertahankan dalam ilusi kekukuhan yang stabil. Dengan indah sekali Ari mendiskripsikan perihal di atas ke dalam paragraf pertama puisinya yang berjudul “Buku Tuan Borges” seperti berikut ini:

“aku mencari sebuah muasal huruf yang mungkin bersembunyi di antara derau kata, frase, & klausa. aku mencari sebuah nama yang dulu mungkin sekali pernah kudengar di antara banyak nama yang akhir-akhir ini sering kau cerca. aku men-cari sebongkah dingin di jantung bara api. aku mencari suara riang di sela-sela deru tank & dentuman meriam. mungkin saja, apa yang kucari itu pernah pula kau menerkanya.”

Bila hendak diringkas sari dari epistemologi modern itu, maka akan berbentuk pernyataan berikut ini: “p ∧ – p adalah sebuah bentuk kontradiksi, tetapi p ∨ – p adalah sebuah tautologi.” Kontradiksi berarti argumen atau proposisi adalah salah, sedangkan tautologi berarti argumen proposisi adalah benar. Epistemologi saat ini tidak bisa menerima kontradiksi sebagai sebuah argumen atau proposisi yang valid. Namun, seni—khususnya seni modern atau kontemporer—sejak awal abad ke-20 sudah dapat menerima kontradiksi sebagai sebuah prinsip seni yang valid dengan munculnya konsep jukstaposisi (menyejajarkan dua hal yang bertentangan dalam ruang-waktu yang sama). Apakah proposisi yang bersandarkan pada properti kebenaran seperti prinsip korespondensi, koherensi, dan atau pragmatisme itu selalu lebih benar daripada jukstaposisi?

Seluruh basis dari epistemologi modern dibangun oleh tautologi-biner: benar atau salah, tak ada jalan tengah. Ini jelas sebuah sistem yang tertutup, sebuah sistem apriori yang menolak relasi dengan sistem lainnya. Karena itulah epistemologi modern tak bisa melogikakan sebuah sistem terbuka atau sistem khaotik yang unsur-unsur dan relasi di dalam sistem itu lebih dari dua variabel.

Epistemologi modern adalah sebuah model yang jauh dari fakta dan atau pengalaman manusia—sebuah model epistemologi yang justru melanggar prinsip fundamental dari epistemologi modern itu sendiri, yaitu: prinsip korespondensi. Bayangkan, jika dunia ini semata-mata diisi oleh Anda dan saya. Tak ada apa pun kecuali Anda dan saya. Jika Anda ada, maka saya harus tiada—begitu sebaliknya. Dan kebermaknaan dari tautologi-biner itu selalu monistik: Anda dan saya tidak bisa keduanya benar, hanya ada satu kebenaran yang benar, jika saya benar maka Anda harus tidak benar. Hanya ada Anda dan saya—dia, orang ketiga itu, dianggap tak pernah ada. Tak pernah ada relasi untuk tiga hal, dan karenanya tak ada kebenaran kedua atau ketiga dan seterusnya, hanya ada satu kebenaran. Model tautologi-biner dari epistemologi modern, jika ditinjau dalam konteks pengalaman dan fakta sehari-hari, justru adalah “argumentum ad absurdum” itu sendiri.

***

Inovasi, baik di dalam seni maupun sains, mesti memiliki landasan teoritis yang kokoh, sehingga dengan itu orang yang memiliki kompetensi—siapa pun orangnya—bisa menguji-nya. Hasil dari pengujian itu hanya ada dua, yaitu: terbukti inovatif atau tidak terbukti inovatif. Oleh karenanya, sebuah klaim inovasi di dalam seni atau sains harus memiliki landasan teoritisnya. Ketika Einstein menyanggah teori gravitasi Newton, maka ia menyanggahnya dengan teori relativitas umum. Teori relativitas umum dalam fisika modern adalah satu inovasi yang pembuktiannya bertolak dari teori geometri Brenhard Reimann. Di dalam seni, misalnya, ketika pelukis post-impresionis Paul Cezanne dari Prancis pada abad ke-19 menyanggah teori seni lukis realis yang dibangun oleh prinsip satu perspektif, maka Paul Cezanne mengeluarkan teori dual-perspektif. Kemudian teori dual-perspektif ini menginspirasi Pablo Picasso untuk menciptakan teori multiperspektif dalam seni lukis kubisme.

Di dalam puisi modern, pada awal abad ke-20, penyair Ezra Pound dari Amerika Serikat, ketika hendak menyanggah teori metrum klasik dan romantik, maka ia mengeluarkan teori metrum berkaki bebas. Timbulnya teori metrum berkaki bebas ini telah membebaskan puisi-puisi Amerika Serikat dari sintaksis puitik yang terikat secara ketat oleh metrum (seperti pada puisi-puisi klasik dan romantik di Eropa) dan memungkinkan munculnya “sintaksis puitik yang prosaik”, sintaksis puitik yang lebih bebas, seperti pada puisi-puisi imajisme dan objektivis di Amerika Serikat.

Pilihan Ari Pahala Hutabarat untuk mengambil bentuk pengucapan bergaya prosa, pada kumpulan puisi Rekaman Terakhir Backet, menurut saya merupakan upaya perluasan penggunaan sintaksis puitik dengan pola metrum berkaki bebas hasil temuan Ezra Pound. Upaya Ari ini bukan hal baru dalam dunia puisi Indonesia, sebab Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Taufik Ismail telah menggunakan teknik sintaksis puisi prosaik pada era 70-an. Namun, Ari mengembangkannya lebih jauh lagi dengan mencoba menyusun sintaksis puitik ke dalam pola-pola kalimat luas yang bertumpu pada klausa, misalnya pada kalimat pembuka puisi “Tom yang Selalu Menunggu” berikut ini:

“seorang lelaki merasa dirinya adalah seekor musang yang sedang mengintai tiga merpati di depan tikungan sebuah jalan.”

Kalimat di atas menggunakan pola kalimat luas yang dibangun oleh tiga klausa, yaitu: klausa verba, klausa nomina, dan klausa preposisional. Namun, uniknya, setiap objek pada klausa sebelumnya ditransformasi menjadi subjek pada klausa sesudahnya. Contoh pada klausa nomina berikut ini: “dirinya adalah seekor musang”, di mana objek dari klausa itu (seekor musang) kemudian ditransformasi menjadi subjek pada klausa berikutnya (klausa verba): “seekor musang yang sedang mengintai tiga merpati”. Pola sintaksis puitik seperti di atas kerap ditemukan pada puisi-puisi Ari dalam kumpulan ini.

Selain itu, puisi-puisi Ari Pahala di dalam kumpulan ini, menurut pembacaan saya, tetap menggunakan irama puitik (meski bukan rima akhir larik) dan tetap memainkan konvensi-konvensi majas seperti metafora, simbol, imaji, hingga patafora dengan tepat. Mari kita tinjau perihal penggunaan majas pada puisi Ari. Untuk kita bisa mulai dengan pendefinisian bahasa figuratif dan makna figuratif dulu, misalnya dengan menggunakan pendefinisian perihal majas dari M. H. Abrams saja:

“Figurative language is a deviation from what speakers of a language apprehends as the ordinary, or standard, significance or sequence of words, in order to achieve some special meaning or effect.” (Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt Rinehart and Winston). 3)

Jadi, menurut Abrams bahasa figuratif (figurative language) adalah penyimpangan penggunaan bahasa oleh penutur dari pemahaman bahasa yang dipakai sehari-hari (ordinary), penyimpangan dari bahasa standar, penyimpangan makna kata, atau suatu penyimpangan rangkaian kata supaya memperoleh beberapa arti khusus. Kata “deviation” dari definisi Abrams itu kemudian ditafsirkan oleh Prof. Kridalaksana sebagai “perluasan”, khususnya dalam konteks perluasan makna kata atau kelompok kata untuk memperoleh efek tertentu dengan membandingkan atau membagi serta mengasosiasikan dua hal.

Pertanyaannya, bagaimana “operasi” dari deviasi atau perluasan makna itu dilakukan dalam metafora? Jawabnya: melalui prinsip-prinsip logis di dalam logika Aristoteles. Aristoteles mempergunakan kata analogi dengan pengertian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam pengertian kuantitatif, analogi diartikan sebagai kemiripan atau relasi identitas antara dua pasangan istilah berdasarkan sejumlah besar ciri yang sama. Sedangkan, dalam pengertian kualitatif, analogi menyatakan kemiripan hubungan sifat antara dua perangkat istilah. Dalam arti yang lebih luas, analogi lalu berkembang menjadi bahasa kiasan, dan metafora dikategorikan oleh para ahli bahasa sebagai kiasan yang bersumber dari analogi kualitatif pada logika Aristoteles. Namun, yang perlu dipahami, baik analogi kuantitatif dan kualitatif tetap mendasarkan kemiripannya pada prinsip identitas dalam teori korespondensi. Karenanya saya menyatakan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa metafora masih merupakan bagian dari “teks realisme”. Kenapa? Karena dasar “pembuktian” atau verifikasi dari penyimpangan atau perluasan makna dalam metafora tetaplah realitas empiris atau behavioristis, sesuai dengan prinsip identitas dalam teori kebenaran korespondensi.

Berikutnya, soal patafora sebagai perluasan dari metafora. Dasar operasi pembuktian ketepatan patafora bukanlah realitas empiris, melainkan realitas metaforis. Metafora diletakkan sebagai semacam aksioma atau postulat dalam pembuktian koherensi dari patafora. Efek yang dihasilkan bukanlah perluasan makna seperti dalam metafora, melainkan “semacam perluasan emosi” atau “membuka cara berpikir baru” demi makin mengintensifkan makna metaforis. Jadi, operasi perluasan itu lebih ke arah “permainan bahasa” atau tanda yang mengambang bebas (dari pemaknaan denotatif).

Contohnya, dalam metafora hewani (yang belum jadi “metafora bangkai”) di Indonesia dikenal istilah “buaya darat”. Operasi penyimpangan atau perluasan makna dari metafora itu adalah deviasi dari makna denotatif kata “buaya” dan “darat” untuk menyatakan makna denotatif seorang playboy misalnya. Nah, sekarang bagaimana jika metafora itu hendak diperluas menjadi patafora, menjadi imajinasi, untuk menghasilkan efek psikologis tertentu bagi yang membacanya? Jawab: buaya darat itu digambarkan tiba-tiba menjadi buaya sungguhan yang, entah bagaimana caranya, terlempar ke neraka. Di neraka, buaya darat itu pun berdialog dengan iblis, dst.

Apakah imajinasi bisa dijelaskan dengan teori logika (bukan dengan teori berpikir dalam psikologi)? Bisa dan usaha itu sudah lama dilakukan pada abad ke-20. Salah satunya dilakukan oleh Niiniluoto dalam satu kertas kerja ilmiah yang berjudul “Imagination and Fiction” pada Journal of Semantics-Oxford, tahun 1985. Niiniluoto memperkenalkan satu operator logika, meski mendapat banyak kritik di kalangan logikawan dunia, untuk imajinasi dengan notasi “I” (sering juga digunakan notasi “O”). Logika imajinasi itu dibangun dari satu aksioma dengan menggunakan sistem aksioma Hilbert dalam matematika, begini:

1. I(ϕ → ψ) → (Iϕ → Iψ);
2. I(ϕ ∧ ψ)  (Iϕ ∧ Iψ);
3. Dari ⊢ ϕ, didapatkan ⊢ Iϕ;

Niiniluoto menyatakan bahwa aksioma di atas adalah konsekuensi dari kondisi semantik berikut (menggunakan tata bahasa kasus dan logika modalitas): agen satu imajinasi φ di ψ jika dan hanya jika φ benar dalam semua kemungkinan dunia yang terjadi secara bersama tanpa konflik dengan satu imajinasi di ψ.

Jean-Yves Beziau dalam makalahnya yang berjudul “Tutorial on Negation Contradic-tion and Opposition” kemudian mengkritik pendekatan aksioma Niiniluoto di atas. Ia menyatakan bahwa sebuah “proposisi imajinatif”, seperti OA ∧ OB → O(A ∧ B), bukan hanya gabungan dari dua agen imajinasi (OA dan OB), karena sebuah proposisi imajinasi mesti bisa membuka kemungkinan banyak “pembayangan” dalam konteks semantik. Jadi, mahluk mitologi seperti “centaur” dalam mitologi Yunani, bukan hanya gabungan dari imajinasi tubuh kuda (OA) dan imajinasi tubuh manusia (OB) yang mengakibatkan gabungan tubuh kuda dan manusia atau O(A ∧ B) pada mahluk mitologis centaur, tetapi mesti lebih dari itu. Keterbatasan aksioma imajinasi dari Niiniluoto mengakibatkan aksioma itu tak bisa “menjelaskan” mahluk mitologi seperti naga di dalam kebudayaan Cina. Karena itulah, Jean-Yves Beziau kemudian menyatakan bahwa logika parakonsistensi berusaha untuk menjelaskan perihal imajinasi dalam konteks yang lebih luas, tanpa terjebak pada kesalahan logika seperti yang telah dilakukan oleh Niiniluoto.

Sekarang saya akan mencoba melangkah lebih jauh lagi. Orang tak bisa mengimajinasikan ruang-waktu empat dimensi yang diacukan oleh teori relativitas khusus dari Albert Einstein atau ruang-waktu 10 dimensi hasil gabungan dari teori relativitas umum dan mekanika kuantum yang dipopulerkan oleh Stephen Hawking. Namun, faktanya kedua teori itu telah bisa diverifikasi secara empiris dengan temuan soal reaktor nuklir dan black hole. Sains dan realitas yang diacu oleh sains itu melampaui imajinasi kita. Fakta yang ditunjuk oleh kedua teori sains itu bukanlah imajinasi seperti naga dalam kebudayaan Cina misalnya, tetapi anehnya dapat dipahami dengan konsep logis dari matematika dan dapat diverifikasi dalam realitas empiris atau pragmatis.

………….

(BERSAMBUNG)

Bandarlampung, Oktober 2017

—————
CATATAN:
—————

1) Hal ini pasti menyangkut Tuhan, karena silsilah kejahatan juga merupakan teodisi. Muasal bencana masyarakat dan bahasa pada saat bersamaan memungkinkan aktualisasi kemampuan-kemampuan potensial yang tertidur di dalam diri manusia.

2) Mempertimbangkan perihal efek, yang mungkin memiliki relasi praktis, kita pun membayangkan objek konsepsi kita sebagai hal untuk dimiliki. Kemudian, konsepsi kita tentang efek ini adalah keseluruhan konsep kita tentang objek.

3) Bahasa kiasan adalah satu penyimpangan perihal yang dikatakan oleh penutur bahasa sehari-hari, atau standard, signifikansi atau rangkaian perkataan yang bekerja berdasarkan urutan waktu, untuk mencapai makna atau kesan khusus. (Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt Rinehart and Winston).

 

Loading...