Beranda Teras Berita Catatan Terakhir tentang Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Kuikuti Saranmu Kawan,...

Catatan Terakhir tentang Tokoh Sastra Paling Berpengaruh: Kuikuti Saranmu Kawan, Saya akan Melanjutkan Berkarya…

182
BERBAGI
Sihar Ramses Simatupang*
Mudah-mudahan ini pendapat terakhir saya
soal buku “33 Tokoh Sastrawan Paling Berpengaruh” dan selanjutnya
atas saran kawan-kawan lain yang saya temui, lebih baik saya meneruskan
berkarya daripada berkomentar kelewat panjang seperti yang saya lakukan selama
ini.

Kawanku Chavchay Syaifullah, 21 penyair dan para
penyair lainnya di dalam buku-buku yang pernah ada di dalam puisi esai yang
saya hormati.

Aku tahu karya kita saat membuat puisi adalah kerja
profesional. Tak mudah untuk menghasilkan tulisan, puisi, buah pikiran dan
perasaan kita. Puisi dibangun tak hanya dengan teknik berbahasa, dari diksi, pilihan
kata-kata yang baru, konsep dan visi dunia dan kemanusiaan yang ditanggapi oleh
seorang penyair sejak dia lahir atau pun sejak dia merasa pertama kali menulis
puisi.

Namun, pernyataanku bahwa aku mencabut puisiku dan
mengembalikan honorrli di hadapan publik (di media sosia dunia maya) tetap aku
harus hormati. Kata-kata itu aku tuliskan dengan penuh emosi, bahkan agak
sentimental, luka dan perih. Aku subyektif sekali pada saat itu. Tapi,
kawan-kawan, aku tak mau dikatakan sebagai personal yang ingin menjilat ludahku
sendiri. Sehingga, aku memutuskan untuk tetap mengirimkan uang untuk
dikembalikan kepada Denny JA.

Kalau saja tak membuat pernyataan di depan publik,
aku pasti membatalkan niatku untuk mengembalikan honorku yang kupakai untuk
keperluan sehari-hari keluargaku. Aku pasti batal mengembalikannya karena semua
pendapat Chavchay itu benar. Itu memang honor kita, halal bahkan hak kita.

Yang penting, kawan, aku tak akan berbeda, karena
aku tetap setuju pada pendapat Chavchay, bahwa kita jangan dipecah-belah,
karena kita sama sekali tak tahu bahwa akan ada buku “33 Tokoh Sastra
Paling Berpengaruh” (selanjutnya saya singkat 33 TSPB) yang ada nama Denny
JA disana, padahal dia sama sekali tak layak ada disana karena selama ini tidak
memberikan pengaruh apa-apa di dunia estetik sastra. Denny-lah yang tak tahu,
juga tim 7 (yang sekarang menjadi tim 7 minus pengunduran diri Maman S Mahayana
– salut dan hormat aku padamu Pak Maman, tegakkanlah dunia sastra itu!). 
Denny
JA dan Tim 7 pun tak tahu, bahwa tubuh puisi esai Denny JA, bukan karya baru di
dalam dunia sastra Indonesia. Bahkan konsep prosa liris beberapa puisiku – di
antaranya puisi “Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta” – adalah karya
yang aku buat sejak dua tahun yang lalu. Kepada seorang penyair, aku sempat
menyatakan keinginanku membuat prosa liris seperti “Pengakuan
Pariyem” mendiang Linus Suryadi atau pun “Sumo Bawuk” Agus
Sunyoto, juga puisi-puisi mendiang Rendra. Tapi, jangan dengan teknik
perpuisian bergaya tembang seperti Agus Sunyoto dan Linus Suryadi, namun
mencari teknik prosa liris ala puisi Sumatera (kawan penyairku bernama Irman
Syah itu sebenarnya – sungguh ini subyektif saya saja – tentu lebih kuat bila
membuat prosa liris karena bahasa ibunya adalah bahasa Sumatera sedangkan aku
seorang Sumatera yang kelahiran Jakarta. Gaya puisinya pun mantap kali ketika
mengalunkan puisi plus dendang menggunakan saluang).

Kepada Agus Sunyoto, yang kukenal lewat bukunya,
dan aku surprise bertemu orangnya di Borobudur Writers & Cultural Festival
2012 (bah, aku masih mahasiswa di Surabaya ketika aku membaca karyanya!),
bahkan kukatakan bahwa aku salut dia mampu mengeluarkan prosa liris yang unik
dan cantik. Puisi “Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta” hanyalah satu
puisi dari sepuluh puisiku, yang aku kirimkan kepada Fatin Hamama lewat email
dia – tanpa footnote sehingga Fatin pun menelepon aku lagi. Padahal, ini aku
lakukan untuk bermain teknik prosa lirisku dan benar, Fatin menerima tubuh
puisi itu! Aku hanya diminya untuk menambahkan saja footnote sekedar bedak di
bawah puisi itu. Genaplah sudah, puisi esai benar-benar sama dengan prosa liris
dan puisi naratif – minus footnote.

Padahal, sungguh, tubuh puisi yang diagungkan tim 8
(yang sekarang menjadi tim 7 minus pengunduran diri Maman S Mahayana) itu
adalah prosa liris, prosa (bangunan imaji yang menghadirkan karakter,
penokohan, protagonis dan antagonis) yang dihadirkan dengan teknik puitik –
menjadi liris. Itulah persoalannya, puisi-puisi Denny JA, kalau saja dihapus
footnotenya tetap adalah prosa liris. Aku bahkan tak pernah menyimak puisi
(yang dikatakan puisi esai itu) pada halaman ke tiga dan ke empat karena isinya
seperti prosa liris atau pun puisi naratif (puisi yang berkisah, disinilah dua
genre prosa liris dan puisi naratif dapat berbenturan) lainnya.

Kawan-kawan, tak ada maksud saya ingin berbicara
tentang ini, tapi biarlah persoalan sok serius ini saya utarakan agar pembaca
awam atau pun pemula sastra mengetahuinya. Karena itulah yang kita perjuangkan,
melahirkan tradisi baru di dalam penciptaan karya sastra. Ini harus kita sibak,
karena teknik yang dibuat oleh Denny JA sungguh adalah pola atau teknik gaya
lama.

Seolah ini perkara sederhana dan sepele. Tapi
tahukah bahwa kita telah menghancurkan sejarah Rendra, Linus, Agus Sunyoto,
Sindhunata dalam puisinya? Sejarah inilah yang ditiadakan oleh buku “33
TSPB”. Jadi, kalau kita bicara pengaruh, ya tentunya pengaruh genre seperti
inilah yang kita bincangkan (juga pengaruh perjuangan, visi penyair atau pun
pendobrakan bentuk teknik sastra tertentu seperti Amir Hamzah yang lebih
membebaskan tradisi ketatnya pantun, Chairil Anwar yang memulai tradisi bentuk
puisi modern, Sutardji Calzoum Bachri dengan  puisi mantera yang membebaskan kata dari makna). Ada juga puisi mbeling Remy Silado dengan puisi
mbelingnya lengkap dengan penataan tipografi atau puisi
rupa karya Gendut Riyanto.


Jadi, definisi pengaruh itu bukan pengaruh karena
bikin ramai dengan membiayai diam-diam perbukuan, event lomba di dunia sastra
dan membuat buku “33 TSPB” yang bermasalah di arus sejarah sastra
Indonesia juga buku-buku puisi yang mengagetkan para penyaur karena tujuannya
membuat publik sastra terhenyak!

Betapa mereka – bahkan kita saat ini – terus
bergumul, memeluk, mencabik, mengelus kata, tema, teknik pengucapan, pemilihan
kata baru, dalam puisi, bahkan cerpen dan novel kita. Membaca banyak penyair
lain sejak kita muda untuk kemudian menegakkan gaya kita di atas sikap tematik,
estetik dan visi sendiri.

Demikianlah saya merancang puisi saya “Semadi
Akar Angin” yang membuat pendekatan alam pepohonan sebagai diksi di dalam
puisi-puisi saya belakangan ini. Dunia tanaman, pohon, yang belakangan saya
geluti, adalah bagian dari peradaban kebudayaan di setiap lokal wilayah di
dunia, seperti pohon bodi (ficus religiosa) dikenal sebagai tempat Sang Buddha
Gautama beroleh pencerahan, beringin (ficus benyamina) dikenal dalam
agama-agama lokal Indonesia seperti Kejawen dan Parmalim, waru sebagai pohon
yang magis, hingga pohon baobab yang dekat dengan kebudayaan masyarakat Afrika.
Bila saya mengambil diksi itu, maka saya beresiko akan berhadapan dengan
sastrawan seperti F. Rahardi yang pernah memimpin majalah Trubus, penyair dan
pencinta lingkungan Eka Budianta dan mantan pebonsai Kurniawan Junaedhi. Tapi
itu kan hanya dunia pohonnya, kalau diksinya saya kan beda dengan mereka. Saya
menjadikan pohon sebagai simbol kehidupan manusia, masyarakat dan simbol hidup
saya sendiri sebagai penyair. Saya tak mencantumkan huruf besar di dalam
puisi-puisi saya, kecuali untuk Tuhan atau Nya (kata ganti ketiga untuk Tuhan).
Saya juga menggunakan metafora berlapis – itu saya ungkapkan pada penyair Sutan
Iwan Soekri Munaf pada tahun 2003 – sebelas tahun yang silam. Itu tetap beda
dengan mereka yang juga kuhormati tadi.

Pergulatan teknik puisi, diksi, metafora, visi,
tema dan lain sebagainya itulah yang begitu berat dalam perjuangan panjang
seorang penyair. Seorang Soetardji Calzoun Bachri bertahun silam bahkan pernah
mengatakan kepada saya pribadi bahwa dia membela puisinya dengan kredo, dengan
pemikiran, bahkan dengan esai yang terus dia perjuangkan.

Mengingat semua perbendaharaan dan pandanganku
tadi, malam itu keluarlah emosi – lebih tepatnya sedih dan luka – kendati saya
sadari emosi saya kemarin itu subyektif, kawan. Tapi aku tak akan menjilat
ludahku di publik kendati aku katakan sejujurnya ini adalah HONOR, benar,
tepat, layak. Kalau aku tak membuat pernyataan kepada publik, yang kemudian
dikutip beberapa media tu, sudah kuikuti pendapat Chavchay! Sebab, dengan
kepala dingin dan nalar pun kita akan tetap tahu bahwa pemasukan nama Denny JA
di buku “33 TSPB” lah yang sungguh perbuatan salah kaprah dan tak
mengerti sejarah sastra Indonesia. Bukan buku puisi, prosa liris dan puisi
naratif berisi footnote itu!

Buku salah kaprah “33 TSPB” itulah yang
harus dijatuhkan kedudukannya dalam dunia perbukuan sastra Indonesia. Karya
para penyair – di buku 23 penyair – juga puluhan penyair lain bahkan di penyair
muda dalam acara lomba puisi esai – tak bisa jadi alat untuk melegitimasi
pengaruh sastra oleh tim 8 (minus Maman S Mahayana). Hore, hore, kata penyair
dan jurnalis Mustafa Ismail, memang begitulah kenyataannya. Semua kegiatan yang
dibiayai Denny JA – bila dia ikhlas awalnya – sontak seketika menjadi sia-sia
dan menjadi “hore, hore” begitu dia lewat tim 8 (minus Maman S.
Mahayana) tersertakan namanya disana dengan semua masalah teknis dan genre
perpuisian seperti yang saya jabarkan di atas.

Orang kaya dapat berpuisi dengan cara yang lebih
ideal. Sebagaimana saya mengenal penyair Slamet Widodo yang pengusaha itu,
namun sejak bertahun silam dia bekerja dengan jerih-payah berkarya terus tanpa
kenal lelah, seharusnya Denny JA konsultasi pada penyair, Bapak Slamet –
demikian saya menyapa – yang saya anggap sahabat atau mas atau bapak karena
beliau lebih tua dari saya. Banyak kawan mendukung dia, tetap tak merasa
dipecundangi dan berteman dengan bahagia sampai sekarang. Karya dia, mulanya,
bagi saya berada di bawah bayang gaya puisi mendiang penyair Rendra, terkadang
seperti gaya puisi penyair yang puisinya kocak, Joko Pinurbo. Tapi saya yakin,
dan akan terlihat gejalanya, dia akan memiliki cita rasa estetik sendiri atas
puisinya. Pengacara Todung Mulya Lubis saja pernah mengirim karyanya di media
massa cetak dan dimuat, bahkan penyair yang terhormat ini pernah melakukan
orasi budaya di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Ya, semua penyair pada hakekatnya berusaha untuk
mencari bentuk pada puisinya. Betapa semua akan berbeda bila itu juga dilakukan
oleh Denny JA, menitinya dengan semangat berkarya yang tulis dan ikhlas.
Bersabar, terus berkarya, berkeringat, hadir dalam diskusi sastra, banyak
membaca sastra, mengolah diksi, mencari kata baru, tentu suatu saat kelak, akan
ada hasilnya. Ajak sastrawan dan mahasiswa mengkritik puisi Anda, misalnya apa
pilihan kataku sangat biasa, tidak memiliki simbol, metafora, gaya bahasa yang
kuat, apa membosankan karena dalam pengisahan di balik puisinya tak banyak
tokoh dihadirkan. Tapi mencari pembohong yang memuji puisi kita itu lebih mudah
lho daripada mencari orang jujur yang mengkritik karya puisi kita.

Tapi, kalau pun karya kita, anak imajinasi kita
ternyata tak lekat di sejarah sastra Indonesia, ya kita gagal, itu takdir
namanya. Tak mengapa, tujuan bersastra bukan untuk mencari nama dan menempatkan
kita dan karya kita di dalam sejarah sastra! Tapi berbagi dunia kata,
menawarkan kata baru di jagat publik yang suntuk dengan bahasa konvensional dan
bahasa jargon selama ini. Lagi pula, cukup dengan berpuisi kita sudah membela
rakyat, membela negara kita, membela kaum miskin, membela orang tertindas, kaum
papa, itu saja sudah hebat kok. Yang penting kuncinya, cobalah bersabar, dan
percayailah takdir. Para tokoh pendahulu kita pasti tak memikirkan nama dan
karyanya dalam sejarah sastra Indonesia.

Tapi, lihatlah hasilnya kalau Anda tak sabar.
Akibat buku “33 TSPB” maka, para penyair yang saya sebutkan di atas
bisa tertutupi jasa-jasanya di dunia sastra atau pun perpuisian di Indonesia,
setidaknya ketika dia membaca buku “33 TSPB” itu. Bukan cuma pelajar
SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa pun dapat tersesat oleh isi buku itu. Apalagi
bila buku itu masuk dalam kurikulum!

Saran saya, tariklah buku “33 TSPB” itu.
Kalau sudah terlanjur beredar, buatlah pernyataan bersama tim 7 lainnya di
hadapan publik untuk menganggap beberapa halaman disana tak pernah ada. Untuk
buku yang masih di toko buku, tariklah buku itu lebih dulu lalu direvisi. Atau
ada saran lain dari saya, hadirkan “tiga puluh tiga sastrawan
berpengaruh” lainnya, selama lima puluh edisi – mirip buku Tonggak:
Antologi Puisi Indonesia Modern (empat volume) karya Linus Suryadi yang sahih
itu. Jadi ada seribu enam ratus lima puluh penyair setidaknya sampai generasi
penyair yang lamanya berpuisi sama dengan Anda. Antara sastrawan pendahulu
dengan sastrawan seumur Anda berkarya – dan para sastrawan pemula, di pinggiran
daerah dan di luar negeri pun dihadirkan – semua dibuat bervariasi pada tiap
buku. Jadi edisi kedua “33 TSPB II” sampai edisi ke lima puluh edisi,
tim kuratornya harus berganti dan setiap tim isinya 8 kurator. Total, ada 64
kurator selama 50 edisi buku itu diterbitkan. Kalau dikurangi, 40 atau 30 edisi
buku pun bolehlah…

Jadi, generasi muda memiliki banyak nama bandingan
untuk sastra yang memiliki beragam kekuatan diksi, tipologi, madzab, kredo,
visi dan lain-lain. Kita pun tak perlu merasa janggal lagi, karena pola
seleksinya bervariasi – bukannya acak dan arbitrer seperti di buku “33
TSPB” ini. Dipilah, ditimbang, jangan ada satu pun karya para penyair itu
lolos dalam sejarah sastra di 50 buku itu.

Menjadi penyair hak setiap orang. Para penyair pun
berbeda profesinya, ada yang dosen, pengacara, pengusaha, kerja survei,
karyawan, supir, tukang tanaman, wartawan. Tapi, janganlah mengubah sejarah dan
tak menghargai perjuangan para penyair di sepanjang masa kesusasteraan
Indonesia. Itulah masalah paling besar, Singkatnya, saran saya, usahakanlah
penarikan untuk TSPB itu. Saya tak pernah bertemu bahkan tak pernah berdialog
lewat telepon, email dan media sosial sekali pun kecuali lewat Fatin Hamama.
Tapi, betapa indahnya dunia kesenian, kesusasteraan, bila perkawanan dibalas
dengan perkawanan, terbuka, sehingga sang kawan yang baru Anda kenal (dan Anda
yang baru dikenal oleh kawan baru Anda) tak sedih perasaannya, lunglai, kecewa,
marah, merasa dibohongi dan hatinya pun tersayat. Begitu saja Bang Denny JA,
Anda lebih tua dari saya, kalau saja Anda melakukan cara sebagai penyair atau
penulis puisi lainnya, tentu tak begini bentuk komunikasi kita.


Yang terpenting, aku berharap buku itu segera
dicabut agar persoalan ini cepat selesai karena begitu banyak masalah dalam
kehidupan masyarakat kita, dari bencana alam hingga kekerasan yang terjadi
beberapa waktu yang lalu karena miskinnya pemikiran dan wacana – semua dapat
kita bantu dan sikapi masing-masing dengan pikiran, tindakan dan tulisan kita.

Salam,
Dinihari, 8 Februari 2014


Sihar Ramses Simatupang

* Penyair

Loading...