Cengkir Gading

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pada suatu kesempatan tatkala menjelajah kampus untuk mencari sahabat karib yang asli Batak tetapi rasa Jawa; Maksud dari Batak rasa Jawa dalam kalimat pembuka itu adalah karena kalau kami berbicara berdua; menggunakan adab budaya timur yang terkadang kelihatan bertentangan dengan karakteristik etnis pada umumnya. Diksi atau adagium yang dipakai oleh sahabat tadi dalam bertutur kata selalu menggunakan bahasa budaya luhur. Gejolak emosional yang menjadi kekhasan etnisitas sama sekali tidak tampak kepermukaan; bahkan nyaris lebih Jawa dari orang jawa.

Perubahan yang terjadi tatkala menuju “singgasana” tempat sahabat bertahta; ternyata jalan yang dahulu gersang, sekarang rimbun oleh pepohonan, di antaranya ada banyak pohon kelapa gading. Disebut kelapa gading karena pohon, pelepah, daun, sekaligus buahnya berwarna kuning gading.

Terpana akan buah kelapa yang masih muda berwarna kuning gading itu, teringat akan suatu upacara adat Jawa yang harus menggunakan uborampe cengkir gading atau buah kelapa sebelum menjadi degan, tetapi setelah bluluk. Pada masyarakat Jawa,  buah kelapa itu memiliki strata perkembangan: manggar (ketika masih bunga menjadi), kemudian berubah menjadi bluluk (saat menjadi buah kecil atau pentil, berubah lagi menjadi cengkir (ketika buah kelapa masih muda), baru terakhir kelapa. Secara garis besarnya begitu, walaupun sub-sub detail nama tadi bisa lebih rinci lagi.

Cengkir gading biasa digunakan pada waktu melakukan Upacara Mitoni atau yang sering disebut juga dengan upacara Tingkeban untuk kandungan anak pertama.. Mitoni berasal dari bahasa jawa “pitu” yang berarti tujuh, yaitu upacara adat yang dilakukan untuk menandai usia kehamilan tujuh bulan.

Nah, cengkir gading untuk perangkat upacara adat tersebut adalah yang sudah digambari tokoh wayang : Kamajaya – Ratih, Arjuna- Sembadra, Janaka – Srikandi ataupun Raden Panji – Dewi Kirana. Penggambaran itu mengandung harapan jika bayi yang akan lahir nanti laki-laki, diharapkan setampan Kamajaya, Arjuna atau Raden Panji, sedangkan bila lahir perempuan diharapkan akan secantik Dewi Ratih, Sembadra ataupun Dewi Kirana. Namun, untuk adat keraton lambang cengkir gading tadi juga digunakan saat acara “Temu Nganten” yaitu upacara adat mempertemukan pengantin pria dan wanita.

Lambang cengkir gading yang bergambar wayang sejodo tadi mengandung maksud agar kedua mempelai bisa rukun seperti lambang pewayangan tadi. Bila ada yngg masih penasaran dengan upacara adat ini (Silakan baca Buku Kecantikan Perempuan Timur, karya Martha Tilaar th 1999 yang bisa diakses juga lewat Google Books).

Kembali kepada konsep cengkir gading; kerata basa dalam bahasa Jawa untuk cengkir ini adalah memiliki makna “ngencengke pikir” = mengencangkan pikir, mengkonsentrasikan pikir. Bisa juga membulatkan tekad. Walaupun semua terjemahan itu tidak tepat benar jika di rasakan dari “rasa bahasa”.

Lalu mengapa kita harus mengencangkan pikir ? Dalam konsep budaya iawa hal itu tidak bisa diartikan secara harfiah; karena mengencangkan pikir orientasinya lebih kepada “rasa, karsa, dan laku”; ketiga hal tersebut mendorong manusia untuk selalu berpikir positif, dengan tidak menafikan gagasan atau ide orang lain, bahkan tidak memposisikannya sebagai lawan; namun lebih sebagai mitra yang berpikir beda.

Atas dasar konsep mitra yang berpikir beda, maka akan terjadi dialog dialog konstruktif untuk memajukan lembaga, negeri atau apa pun namanya. Di sana juga kita akan mendapatkan lawan tanding berpikir, sehingga konsep yang dilahirkan menjadi bagus, konstruktif serta dinamis. Tidak merasa ada yang kalah dan ada yang menang; karena menangnya seseorang bukan berarti kekalahan bagi orang lain, akan tetapi menangnya seseorang karena lebih mendengar akan keunggulan orang lain. Kebermitraan serupa inilah yang selalu bergerak dinamis dengan tidak saling mengalahkan apalagi saling menyalahkan. Kalau di dunia akademik operasionalnya sangat jelas; seorang tim profesor mengajar mengatakan, “Akademisi seharusnya bukan hanya ikut contoh, akan lebih baik lagi memberi contoh”.

Mengembangkan dialog setara tetapi beda memang sulit jika tidak dibiasakan atau dibudayakan sejak dini. Kebiasaan main perintah, main marah yang didesiminasi tidak sengaja namun tersetruktur dalam keluarga, ternyata tumbuh menjadi karakter. Akibatnya, pimpinan apa pun di negeri ini lebih senang menampilkan “marah karena beda” dibandingkan dengan “dialog walau berbeda”.

Kebersamaan bukan berarti keberpihakan; akan tetapi lebih mengedepankan penempatan posisi diri pada suatu sistem yang sudah disepakati. Oleh karena itu, membangun image “ini saya” dan “itu kamu” yang disengaja dan masif; akan berakibat pada terbangunya “jurang sosial” yang lebar dan dalam. Padahal,  tidak ada peristiwa di dunia ini yang lepas dari rangkaian sistem, yang satu sama lain terangkai menjadi “cerita sosial”.

Oleh karenanya, mari kita bersinergi membangun negeri bukan hanya sebatas pemuas diri untuk dipuji; akan tetapi lebih bicara pada hati nurani untuk tidak saling menyakiti. Proses kehidupan seperti digambarkan perjalanan manggar menjadi cengkir, berubah menjadi degan, dan berakhir menjadi kelapa; adalah perspektif kehidupan yang menunjukkan semua yang bermula akan berhenti pada akhir. Hanya Yang Maha Hiduplah tidak bermula dan tidak berakhir.***

 

  • Bagikan