Cerita dari Cagar Alam Panua Gorontalo: Daud Badu dan Burung Maleo

  • Bagikan
Daud Badu (dok degorontalo.co)

Langkah kakinya cepat menyusuri semak-semak hutan. Ketika berjalan, seolah tak pernah lelah. Dia adalah Daud Badu. Usianya 45 tahun. Tubuhnya tinggi dan berkulit sedikit gelap. Daud  ahli menebak tempat bertelurnya burung Maleo (Macrocephalon Maleo), burung pemalu endemik pulau Sulawesi. Tebakannya nyaris selalu tepat.

Sejak 2012, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gorontalo merekrut Daud sebagai pemantau tempat relokasi burung Maleo di Cagar Alam Panua, salah satu habitat burung anti poligami di Kabupaten Pohuwato.

 “Sebenarnya sangat sulit menebak tempat bertelurnya Maleo. Burung tersebut membuat lubang yang palsu untuk menghindar dari pemangsa. Bahkan kesulitannya lagi membedakan sarang burung Gosong (Eulipoa wallacei) dengan Maleo, yang memiliki kemiripan baik bentuk tubuh dan sarang bertelur, hanya bedanya bentuk telur. Kalau Gosong telurnya kecil. Perlu ketelitian untuk mencari tahu tempat burung Maleo,” tutur Daud.

Tak hanya burung Maleo, Daud juga ikut menangkar Penyu.  Sehari-hari aktivitas Daud diisi dengan memantau tempat penangkaran Maleo dan Penyu. Baginya tak ada hari libur. Dia berpatroli melestarikan satwa yang terancam punah itu.

Selain bisa menentukan sarang Maleo, Daud berpengalaman membaca jejak di atas pasir. Dia mampu membedakan jejak Maleo dan burung gosong, serta bisa mempridiksi usia hewan tersebut hanya lewat jejak.

Semua keahliannya itu ia dapat, karena dulunya Daud dikenal sebagai pemburu telur dan burung Maleo. Namun semenjak direkrut oleh BKSDA, Daud mulai sadar dan tak lagi memburu.
“Dulu saya dikenal sebagai pemburu, kini saya sadar ternyata Maleo sudah mulai punah dan saya ingin dikenang bukan sebagai pemburu,” ujarnya.

Daud kini bertempat tinggal di Desa Maleo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato. Di rumah sederhana yang sangat kecil itu, dia tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Rumahnya yang gubuk itu pun sering dijadikan sasaran janji oleh pemerintah untuk diperbaiki. Namun hingga kini itu tidak menjadi kenyataan.

“Katanya saya mendapatkan rumah bantuan dari pemerintah daerah, hingga saat ini bantuan tersebut tak kunjung direalisasikan,” kata Daud.

Menurutnya, dia tak berharap banyak dengan bantuan tersebut. Menunggu sesuatu yang tak jelas, baginya adalah pekerjaan  yang  sangat membosankan.

“Mendingan waktu saya, saya habiskan untuk menjaga Maleo dan Penyu di Cagar Alam.”

Di BKSDA sendiri, Daud Badu berstatus sebagai pegawai kontrak. Ia diangkat dan diberikan honor Rp 1,5 juta perbulan. Upah dari menjaga habitat burung endemik itu dirasakan sangat membantu keluarganya. Namun, kontraknya kini terancam tidak diperpanjang. Dapur terancam tak mengepul. Karena sesuai dengan surat keputusan pengangkatan dirinya, ia hanya dikontrak per satu tahun. Kemudian biasanya diperpanjang lagi.

“Namun kini tidak ada tanda-tanda diperpanjang. Kontrak saya habis bulan desember ini juga. Tapi meski sudah habis kontrak, saya tetap bertekad menjada cagar alam ini,” ungkapnya.
Di Pohuwato sendiri, habitat Meleo dan spesies lainnya berada di Cagar Alam Panua. Luasnya 45.575 hektar, sesuai SK Menteri Kehutanan nomor 471/Kpts-11/1992.

Kini luas Cagar Alam Panua mulai menyusut drastis, tinggal  36.575 hektar. Lahan di kawasan konservasi itu banyak beralih  fungsi, jadi kebun, rumah warga, lahan tambak, sesuai dengan tata ruang wilayah Gorontalo yang disahkan tahun 2010, dan berdasarkan SK Menteri Kehutanan nomor 325/Menhut-11/2010 tentang penunjukan kawasan hutan Gorontalo,

Cagar Alam Panua punya banyak koleksi satwa lainnya. di situ bisa ditemukan penyu tempayan, penyu belimbing, julang Sulawesi (rangkong), penyu sisik, babi rusa, anoa, tarcius, serta monyet Sulawesi.

Sumber: degorontalo.co

  • Bagikan
You cannot copy content of this page