Cerita di Balik Insiden Tabung Oksigen di Puskesmas Kedaton yang Berujung ke Masalah Hukum

  • Bagikan
Hajah Yuliana (tengah) Belli (kanan) dan Ustadz Asep (kiri)/Foto: Teraslampung.com/Dandy Ibrahim

TERASLAMPUNG.COM — Berbakti kepada orang tua, membantu orang tua yang sedang sakit. Itulah yang ada di kepala Awang Helmi (44) saat ibunda tercinta meminta dia mencarikan oksigen karena sang ayah saat itu sangat butuh bantuan pernapasan melalui oksigen.

“Hari itu, Minggu 4 Juli 2021 ibu saya telepon oksigen di rumah habis itu sekitar pukul 2 pagi. Saya di minta ibu untuk mencari oksigen untuk bapak saya yang kondisinya sangat membutuhkan oksigen,” jelas Awang kepada teraslampung.com di kediaman orang tuanya di Pahoman, Kota Bandarlampung, Senin, 16 Agustus 2021.

Setelah menerima telepon dari ibunya, Awang menghubungi adiknya (Noval) untuk mencari isi oksigen di Kota Bandarlampung

“Saya ke rumah orang tua saya di Pahoman. Saya sendiri tinggal di Gedongair. Saya mengambil tabung oksigen kosong untuk diisi atau ditukar dengan tabung yang sudah ada isinya,” kata mantan pegawai salah satu bank di Kota Bandarlampung itu.

Bersama Novan dan sopir pribadi keluarga, pukul 02.00 WIB  mereka bertiga mengelilingi kota mencari isi oksigen untuk kebutuhan ayahnya.

“Kami ke Puskesmas Gedongair. Di sana juga kosong.Kami kemudian ke rumah sakit Abdul Moeloek dekat rumah sakit DKT yang menjual alat-alat kesehatan. Di situ juga tutup. Saya jalan lagi ke Apotek Enggal karena setahu saya apotek tersebut buka 24 jam tetapi ternyata tutup juga,” kata Awang Helmi yang sejak dulu dikenal sebagai musisi atau pemain keyboard itu.

Awang mengaku, ketika ia dan saudaranya melintas di Tugu Adipura melihat ada ambulans sedang parkir. Mereka kemudian bertanya kepada sopir ambulans soal tempat mendapatkan oksigen isi ulang.

“Saya di sarankan untuk ke Puskesmas Kedaton saya langsung ke puskesmas tersebut. Di puskesmas itu terjadi kesalahpahamanpahaman antara saya dan petugas yang bernama Rendi,” jelasnya.

Kejadian di Puskesmas Kedaton itu membawa Awang Helmi harus berurusan dengan hukum. Ia dilaporkan oleh Rendy, nakes di Puskesmas Kedaton. Ia dan dua saudaranya pun kemudian ditetapkan sebagai tersangka insiden di Puskesmas Kedaton.

“Saya ikhlas menerima semuanya. Saya yakin ini sudah kehendak Allah Swt dan saya tidak punya dendam dengan Rendi. Saya sudah minta maaf. Harapan saya dari kejadian ini tidak ada lagi terjadi pada orang lain,” ungkapnya

Awang mengaku  saya saat ini ia fokus mendamping ibunya yang sedang berduka setelah ayahnya meninggal dunia.

“Ibu saya kesedihannya berlipat-lipat. Selain kehilangan ayah saya, dia juga harus menerima kenyataan anaknya harus berurusan dengan hukum. Sekarang surga saya tinggal satu bang,” ujar ayah empat anak itu.

Di tempat yang berbeda Hajah Yulian,  ibu kandung Awang Helmi, menjelaskan kejadian saat suaminya Budiono (almarhum) yang saat itu sangat membutuhkan oksigen untuk membantu pernapasannya.

“Akhir bulan Juni suaminya saya (Alm Budiono) mengalami demam dan pilek. Pada tanggal 2 Juli demam tinggi. Saya bawalah dia ke rumah sakit. Tetapi pada saat itu rumah sakit (saya gak sebut ya) kondisinya penuh, sehingga saya bawa pulang lagi” ujarnya di Yayasan Alkarim Rasyid di Sukarame.

Pada 4 Juli 2021 Budiono membutuhkan oksigen. Di rumahnya memang ada tiga tabung oksigen, tetapi semuanya kosong.

“Kira-kira pukul 2 pagi saya telepon Awang untuk mencarikan oksigen atau isi oksigen,” tambahnya.

Yuliana mengatakan Awang datang ke rumahnya beserta adiknya yang bernama Novan untuk mencari oksigen ditemani supir keluarga Alm Budiono bernama Didit.

“Selama proses pencarian itu saya beberapa kali telpon Awang dan dia mengatakan masih mencari. Saya juga telepon adik saya Belli dan Ustaz Asep untuk mencari oksigen,” katanya

“Alhamdulilah adik saya bisa mendapatkan oksigen dari tetangganya sedangkan Awang saya telepon juga adik dan sopir kami sudah tidak bisa dikontak,” jelas Hajah Yuliana.

Kemudian pada tanggal 5 Juli, menurut Yuliana,  suaminya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan yang intensif. Namun Tuhan berkehendak lain,  tanggal 9 Juli 2021 Budiono yang juga Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Lampung meninggal dunia.

“Saya demi Allah tidak tahu apa yang menimpa anak-anak saya dan saya baru tahu setelah enam hari kepergian suami saya. Mereka tidak mau mengabarkan ke saya karena mereka tidak mau membebani pikiran saya. Itu bisasaya pahami,” ungkapnya.

“Setelah saya tahu, saya bilang ya sudah kita minta maaf mungkin kita salah. Dan hikmah dari kejadian ini tabung oksigen di rumah saya sudah banyak membantu teman-teman yang saat itu membutuhkan oksigen,” jelasnya.

Insiden tabung oksigen yang melibatkan Awang dan dua saudaranya kini masih bergulir di Polresta Bandarlampung.
Polresta Bandar Lampung menetapkan Awang Helmi dan dua saudaranya menjadi tersangka kasus penganiayaan tenaga kesehatan di Puskesmas Kedaton, Bandarlampung. Kasus ini sudah bergulir sejak awal Juli 2021, setelah beredarnya kabar yang menjadi viral di media sosial seorang perawat Puskesmas Kedaton dianiaya tiga orang tidak dikenal, Minggu dini hari (4/7/2021).

Penganiayaan lantaran perawat tidak mengizinkan tiga orang tidak dikenal meminjam tabung oksigen untuk perawatan orang tua salah satu dari tiga orang tidak dikenal yang sedang kritis di rumah.

Sementara itu, Akademi Universitas Lampung (Unila) Dr. Dedy Hermawan menilai pandemi Covid-19 ini membuat sistem kesehatan tidak kita tidak mampu menghadapi bencana ini berbagai peristiwa baik lokal maupun nasional baik itu ketersediaan tempat tidur, oksigen, dan lain sebagainya menjadi fakta yang tidak terbantahkan.

“Dari peristiwa-peristiwa tersebut pemerintah dituntut untuk mengevaluasi seluruh kondisi pelayanan kesehatan, sistem kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta termasuk kejadian atau peristiwa di Bandarlampung hendaknya menjadi input bagi pembuat kebijakan dan implementasi kebijakan supaya tidak terjadi lagi hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Sedangkan untuk kasus dugaan pemukulan tenaga kesehatan yang diduga dilakukan oleh Awang Helmi. Dedy berharap penegak hukum dapat lebih bijak dalam menangani perkara tersebut.

“Harapan saya penegak hukum tidak normatif pada pasal-pasal pidana saja tapi ini terjadi dalam kondisi situasi darurat yang tidak diharapkan oleh semua pihak. Pemerintah dan penegak hukum harus bersikap bijak dan manusiawi,” kata Dr. Dedy Hermawan.

Dandy Ibrahim

  • Bagikan