Beranda Views Kisah Lain Cerita Orang Kampung Umrah Bersama Keluarga (1)

Cerita Orang Kampung Umrah Bersama Keluarga (1)

392
BERBAGI
Virtual Product March 2019

Selasa, 15 Januari 2019. Aku dan sumiku  meninggalkan rumah di Villa Nusa Indah 3, Bojong Kulur, Gunung Putri Bogor, menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta, usai shalat subuh. Keponakanku, Toro, siap mengantar kami. Toro sudah datang di rumahku sepuluh menit sebelum azan subuh.

Mobil kami penuh penumpang: ada aku,  suamiku, dua anakku, si mbah dan satu orang tetanggaku, yang kami panggil Mama Hani beserta Akmal anaknya.

Berdasarkan jadwal dari Travel Sari Ramada Arafah, kami harus sudah berada di Bandara Soekarno Hatta Jakarta pukul 07.30.wib. Travel Sari Ramada yang berkantor di Hotel Kartika Candra tepatnya di Jln. Gatot Subroto Jakarta, adalah travel yang dipilih oleh Mbak Titi, karena pada tahun 2012, Mbak Titi dan suami, pernah memakai jasa travel ini. Mereka merasa puas dengan pelayanannya. Maka untuk Umrah kali ini pun, Mbak Titi tetap dengan trevel yang sama.

Tepat pada waktu yang dijadwalkan tersebut, anggota keluarga kami yang berjumlah delapan orang sudah lengkap berada di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, terminal 3 pintu 2 keberangkatan internasional.

Aku berdua dengan Mas Priyono, suamiku; Mbak Titi berdua Mas Dady Santosa, Mbak Idang berdua Mas Mardi, dan Mbak Sri sendiri, serta Mas Soenarko juga sendiri tanpa istri. Dengan demikian rombongan kami tepat empat pasang, jadi ada empat perempuan dan empat laki- laki, sehingga memudahkan pembagian kamar di hotel karena masing -masing kamar berisi empat orang. Allah sudah mengaturnya demikian rupa.

Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Bandara Pangeran Mohammad Bin Abdul Aziz Medinah akan memakan waktu sepuluh jam.

Langsung terbayang sepuluh jam yang membosankan, hanya diam, duduk manis, tidur, nonton TV, dan makan. Kembali lagi aku disadarkan pada niatku yang kuat, bahwa kepergian kali ini bukan untuk berwisata tetapi untuk beribadah. Maka sesungguhnya aku diuntungkan, karena tentu akan banyak waktu untuk berzikir.

Begitulah, kutinggalkan dua buah hatiku. Gilda si sulung yang sedang libur kuliah, sehingga bisa menjaga Ghian di rumah. Ade Ghian yang baru kelas dua Sekolah Dasar tentu lebih nyaman karena kakaknya bisa bersamanya ,tidak menginap di kamar kosnya, selama mama dan ayahnya pergi. Sekali lagi, tidak ada yang kebetulan.

Kepergian kami, pada tanggal 15 Januari 2019 adalah tepat tanggal atau hari ganjil bagi lalu lintas di Jakarta. Hal itu memudahkan kami, karena mobil kami berpelat nomor polisi ganjil. Sekali lagi, Allah sudah atur demikian. Alhamdulillah nikmat ini sudah kami rasakan di awal perjalanan.

Sebelum pesawat mulai terbang, doa Saffar kami panjatkan, dipandu monitor yang ada di depan kami. Perlahan pesawat meninggalkan landasan, terbang menuju Madinah.

Setelah boarding pass, kami mengambil wudhu, sehingga di atas pesawat, begitu memasuki waktu dzuhur, kami sholat dhuhur yang dijama dan dikhoshor dengan shalat Asar.

***

Pesawat Saudia Airlines ( SV 825) yang membawa awa kami terbang dari Jakarta menuju Madinah, mulai meninggalkan landasan Bandara Soejarno Hatta pada Selasa, 15 Januari 2019, pukul 11.00 Waktu Arab Saudi.

Pesawat Saudi Airlines lumayan besar. Aku masih belum percaya pesawat itu akan membawa aku bersama suamiku dan saudara-saudaraku ke tanah suci.

“Pesawat yang besar dan mewah ini akan membawaku ke tanah suci? ” pertanyaan ini terus muncul dibenakku, sejak kaki ini memasuki pesawat.

Ruang pesawat luas:  tempat duduk berderet dengan komposisi  tiga kursi di kiri, empat kursi di tengah, dan tiga lagi di kanan. Dengan begitu, per deretnya ada sepuluh kursi. Deret-deret kursi itu memanjang ke belakang, terbagi dalam beberapa blok.

Aku duduk pada kursi di bagian tengah yang terdiri dari empat kursi. Nomor kursiku 46 F, di sebelahku suamiku , dan selanjutnya Mbak Titi dan suami. Kakak – kakakku yang empat orang lagi duduk di belakang kqmi.

Duduk di kursi dalam pesawat yang nyaman, aku seperti halnya anak kecil mendapatkan mainan baru. Rasa senang, penasaran, menguasaiku, hingga tanganku mulai tak sabar untuk menyalakan monitor kecil di balik punggung kursi yang berada tepat di depanku.

Aku mendapatkan banyak hal baru, dimulai dari pesawat ini. Semakin tak sabar untuk menerima kegembiraan yang selanjutnya. Aku yakini semua akan menjadi bagian yang luar biasa.

Belum dua jam pesawat mengudara, aku sudah merasa lapar. Alhamdulillah, perasaan menjadi lebih tenang dan senang pada saat pramugari yang berbahasa Indonesia itu memberikan hidangan makan siang. Hidangan makan siang yang lengkap, dengan buah dan makanan ringan, puding, serta minuman dingin dan hangat.

Tiba- tiba pesawat melaju dengan guncangan, seperti laju mobil yang terantuk bebatuan. Kami diintruksikan tidak meninggalkan tempat duduk kami, namun harus tetap di tempat duduk masing -masing dengan sabuk pengaman yang terpasang. Kami pun sementara dilarang menggunakan toilet pesawat.

Informasi yang kami terima: cuaca di atas perairan India saat itu sedang kurang bagus. Guncangan terjadi beberapa saat, walau hanya beberapa saat sempat mempercepat pacu jantungku.

Alhandulillah kondisi kembali stabil hingga pesawat mulus mendarat di Bandara Pangeran Muhammad Bin Abdul Aziz Medina tepat pukul 17.10 WAS, atau pukul 21.10 Waktu Indonesia Bagian Barat, karena perbedaan waktu dengan Jakarta adalah empat jam.

 

Loading...