Beranda Views Kisah Lain Cerita Pilkada Rusuh di Lampung Selatan

Cerita Pilkada Rusuh di Lampung Selatan

1107
BERBAGI
Zulkifli Anwar. (dok paratokohblogspot.com)

PENGHUJUNG Januari 2001. Matahari sudah beranjak naik ketika ratusan massa pendukung Dasuki Kholil, calon Bupati Lampung Selatan, mulai membakar ban bekas di sekitar Gedung DPRD Lampung Selatan di Kota Kalianda.

Panasnya sinar matahari siang itu tak sepanas suasana di dalam Gedung DPRD Lampung Selatan. Hari itu Dasuki Kholil maju sebagai calon Bupati Lampung Selatan berpasangan dengan Munatsir Amin. Selain Dasuki—Munatsir, ada tiga pasangan lain duduk di deretan kursi pasangan bupati-calon bupati.

Mereka adalah pasangan Alzier Dianis Thabranie—S. Hadi Pratiknyo, Zukifli Anwar—Muchtar Husin, dan  Indra Bangsawan—Rukis Pribadi. Namun, di antara keempat pasangan itu, oleh sebagian masyarakat Lampung Selatan hanya Dasuki Kholil yang layak disebut sebagai putra daerah. Sebab, selain lahir dan besar di Padangcermin, Lampung Selatan, selama ini Dasuki juga berkiprah di Lampung Selatan.

Meski berpendingin udara, ruang sidang paripurna DPRD Lampung Selatan itu terasa panas. Asap rokok mengepul, meski ada larangan merokok di dalam ruang. Suasana makin panas ketika perolehan suara susul-menyusul antara pasangan Alzier—Pratiknyo dengan pasangan Zulkifli Anwar—Muchtar Husin. Beberapa kali perolehan suara dua pasangan itu sama. Tepuk tangan bergema silih berganti.

Selain undangan dari kalangan pejabat pemerintah daerah, sebagian besar orang yang memadati gedung DPRD Lampung Selatan adalah massa pendukung setia Dasuki Kholil. Maklum saja, Dasuki adalah orang asli Kalianda yang diharapkan masyarakat setempat menduduki kursi bupati. Dasuki dianggap sebagian warga Lampung Selatan sebagai putra daerah Lampung Selatan yang pantas menjadi bupati  mengggantikan Amreyza.

Penghitungan suara di dalam gedung masih berlangsung ketika tiba-tiba seorang laki-laki berusia 20-an berlari keluar dari gedung. “Pak Dasuki kalah! Pak Dasuki kalah!”

Ratusan orang yang sejak pagi berada di luar gedung terkesiap. Teriakan pemuda itu seolah menjadi sihir dan menggerakkan ratusan tangan pendukung Dasuki Kholil untuk merangsek gedung DPRD. Hanya dalam hitungan detik, tanpa ada yang mengomando, ban-ban bekas makin banyak yang dibakar. Asap hitam membubung menyundul langit.

“Ini rekayasa! Ini rekayasa!” terdengar lagi teriakan dari depan pintu masuk gedung.

Massa makin kalap ketika hasil akhir pemilihan dimenangkan pasangan Alzier Dianis Thabranie—S. Hadi Pratiknyo  dengan perolehan 21 suara dari 45 suara yang diperebutkan. Pasangan Dasuki Kholil—Munatsir Amin hanya meraup 4 suara; pasangan Zulkifli Anwar—Muchtar Husin dengan 18 suara, sementara pasangan jago Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Indra Bangsawan—Rukis Pribadi, tidak memperoleh satu suara pun.

Bersamaan dengan selesainya pembacaan kertas suara terakhir,  tiba-tiba beberapa kursi melayang ke tengah-tengah arena pemilihan. Massa yang sejak semula hanya membakar ban bekas di luar gedung, mulai merangsek ke dalam. Mereka memecahkan kaca gedung hingga hancur berkeping. Puluhan batu kali sebesar kepalan tangan orang dewasa melayang ke atap gedung.

“Dor! Dor! Dor” peluru karet lepas dari moncong senapan polisi.

Para undangan lari lintang pukang untuk  menyelamatkan diri masing-masing. Ratusan polisi terus menembakkan peluru karet ke udara. Batu dan kursi terus beterbangan di ruang sidang. Haryo Dandang, pria sepuh yang juga ketua DPRD Lampung Selatan, berlindung di bawah meja. Para anggota tim sukses bupati menyelamatkan jagonya masing-masing lewat pintu samping.

Massa terus mengamuk. Aparat keamanan tak kuasa menahan amuk massa.

Massa tak menggubris beberapa kali tembakan peringatan polisi. Tiga orang terkena tembakan peluru karet sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Lima orang lainnya juga terluka karena kena lemparan batu dan benda keras lainnya.

Massa dapat didesak keluar setelah petugas melepas gas air mata. Akhirnya ruang sidang dan kompleks kantor DPRD II Lampung Selatan dikuasai aparat keamanan. Meski begitu, massa tetap beringas. Mereka lari keluar gedung dan terus melakukan perusakan.

Mendapatkan momen bagus, Maman Sudiaman, koresponden Republika, ingin mengabadikan peristiwa tersebut. Kamera pun segera dikeluarkan dari tas ranselnya. Maman langsung mencari objek massa yang sedang mengamuk.

Tiba-tiba, ketika baru baru beberapa jepretan dilakukan, puluhan pemuda tiba-tiba menyerangnya.

“Tangkap dia! Habisi dia!” teriak massa.

Maman berusaha kabur. Namun, jumlah massa yang terlalu banyak membuat dia mati langkah. Tanpa ampun, massa pun menghajar Maman beramai-ramai hingga wajah dan tubuhnya babak belur. Seseorang mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan siap ditusukkan ke tubuh Maman. Untung ada Agus, teman Maman yang pernah jadi juara karate tingkat nasional, melerainya.

“Dia wartawan, teman saya!” teriak Agus sambil mengamankan Maman.

Massa yang sudah kalap terus mengamuk. Selain membakar  tiga truk ban bekas, massa juga merusak lampu taman kota, pot-pot bunga, dan melempari kantor Pemda Lampung Selatan. Lampu lalu lintas dan kaca Hotel Kalianda tak luput dari sasaran.

Alzier tak luput dari sasaran amuk massa. Massa mengejar Alzier dan melemparinya dengan batu kali. Namun, aparat sigap mengamankannya. Alzier pun berhasil lolos dan diselamatkan dengan sedan merah menuju Bandarlampung.

Keadaan dapat dikendalikan sekitar pukul 15.00, setelah pasukan Brigade Mobil dan Pengendali Massa (Dalmas) Polda Lampung didatangkan dari Bandarlampung.

Pada pemilihan tahap kedua yang  diikuti Alzier dan Zulkifli Anwar yang digelar 2 Maret 2000, aparat keamanan lebih sigap. Penjagaan gedung Dewan dilakukan oleh polisi dengan sangat ketat.

Pada Rabu siang yang panas, 2 Maret 2000. Zulkifli Anwar memperoleh 43 suara, sedangkan Alzier memperoleh 15 suara.

Oyos Saroso HN

Loading...