Beranda News Lampung Cerita Sekdaprov Lampung Minta Maaf dan Wartawan Dimarahi Ketua PWI

Cerita Sekdaprov Lampung Minta Maaf dan Wartawan Dimarahi Ketua PWI

709
BERBAGI
Orasi wartawan di Bundaran Tugu Adipura Bandarlampung

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com—Puluhan wartawan yang bertugas di Provinsi  Lampung menggelar aksi damai  terkait sikap arogan dan pelecehan profesi wartawan yang dilakukan Sekda Provinsi Lampung Arinal Djunaidi di Tugu  Adipura, Rabu pagi (20/4). Setelah berorasi di Tugu Adipura, mereka berencana longmarch menuju Kantor PWI Lampung di Jl. Ahmad Yani dan dilanjutkan ke Kantor Gubernur Lampung di Jl. Robert Wolter Monginsidi.

Dalam orasinya di Tugu Adipura, para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Lampung meminta agar Sekda Arinal meminta maaf atas pelecehan profesi terhadap wartawan dengan berkata yang tidak pantas kepada Noval Andriyansyah (tribunlampung).  Sebelumnya,  pada Selasa (19/4), Arinal mengatakan wartawan hanya cari duit saja.

BACA: Sekdaprov Arinal Djunaidi Protes Wartawan

“Ini adalah bentuk pelecehan profesi terhadap kerja teman teman wartawan. Kami meminta agar Sekda yang arogan minta maaf kepada semua wartawan,” kata Septa koordinator aksi.

Setelah menyampaikan orasi di Tugu Adipura, para pendemo konvoi dengan sepeda motor langsung ke Kantor PWI Lampung di Jl. Ahmad Yani Bandarlampung. Di sana mereka menemui Ketua PWI Lampung  Supriyadi Alfian.

Wartawan langsung disambut oleh Supriyadi. Supriyadi ikut menyampaikan orasi di depan kantor PWI. Dalam orasinya ketua PWI Lampung tersebut meminta agar Arinal secara gentle dapat menemui teman-teman wartawan untuk menyelesaikan masalah di kantor PWI.

“Saya tidak kenal dengan pejabat di Lampung, termasuk Arinal. Saya akan hubungi dia agar ke sini. Kita tunggu saja 20 sampai 30 menit apalah sekda gentle atau tidak. Saya harap juga wartawan dapat memperhatikan etika wartawannya,” kata Supriyadi.

Setelah Supriyadi selesai berorasi, selanjutnya Ketua AJI Bandarlampung Yoso Mulyawan menyampaikan orasi. Dalam orasinya meminta agar para wartawan dapat bekerja sesuai dengan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan menjaga etika pers.

“Kami tidak mendukung untuk melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib, karena tidak ada kekerasan fisik. Oleh karena  itu jalan damai akan ditempuh,” katanya.

Sambil menunggu Arinal Djunaidi datang, para pengunjuk rasa dibagi sebungkus roti merek terkenal dan satu gelas air mineral.

Tidak berapa lama kemudian, selang lima menit kemudian, tiba-tiba muncul mobil dinas berwarna hitam dan berhenti di depan kantor PWI. Tak lama kemudian, Arinal Djunaidi keluar dari mobil tersebut.

Sejumlah peserta unjuk rasa sibuk mengabadikan Sekdaprov Lampung Arinal Djunaidi yang datang dengan wajah sumringah.

Kedatangan Sekda disambut Supriyadi Alfian. Supriyadi kemudian diajak menuju ke ruangan rapat yang terletak di lantai 2 Gedung Sofian Ahmad (Kantor PWI Lampung).

Selanjutnya tampak separuh dari jumlah wartawan yang mengikuti aksi damai duduk di ruangan tersebut.

Di ruangan atas, meja dan kursi diseting seperti untuk seminar. Ada meja panjang warna cokelat dan sejumlah kursi.Di deretan kursi itu duduklah Arinal Djunaidi, diapit Supriyadi Alfian dan Yoso Mulyawan.

Sementara di sisi lain dalam posisi menghadap ketiga orang itu, para wartawan peserta unjuk rasa duduk di kursi stainless steel.

Sebelum acara dimulai, pandangan Supriyadi Alfian menyapu ruangan. Ketika melihat duduk para wartawan tidak rapi, ia minta para wartawan merapikan kursi tempat duduk.

“Ini tolong dirapihkan, diisi penuh dulu tempat duduknya. Yang duduk di sisi sebelah kanan menandakan teman yang tidak akan protes. Yang akan menyampaikan protes silakan duduk di bagian tengah,” kata Supriyadi.

Secara spontan sejumlah wartawan pindah posisi duduknya di bagian tenngah dan duduk di kursi yang semula kosong.

Supriyadi kemudian memulai memimpin rapat. Ia mempersilakan satu orang wartawan saja untuk menyampaikan aspirasinya. Iwan Kodrat dari Lampungcentre.com kemudian mengacungkan tangan. Ia siap menyampaikan aspirasi mewakili para wartawan.

Iwan menyampaikan keluhannya tentang tindakan arogan dan pelecehan profesi wartawan yang dilakukan sekda khususnya terhadap Noval .

“Kami meminta agar sekda minta maaf secara terbuka kepada seluruh wartawan khususnya Noval (tribunlampung),” kata Iwan

Tak lama kemudian, Arinal menanggapi dengan wajah yang menampakkan penyesalan. Matanya mulai berkaca kaca saat meminta maaf berulang kali kepada teman wartawan.

“Saya mohon dimaafkan atas perkataan saya saat itu. Saat itu saya ketinggalan tim menteri agama dan banyak beban kerja saya sehingga omongan saya tidak terkontrol. Saya berjanji ke depan hal ini tidak akan terjadi lagi,” katanya dengan mata berkaca kaca.

Saat permintaan maaf akan disampaikan oleh Arinal, Noval ternyata tidak ada di ruangan. Rupanya ia tidak ikut naik ke lantai dua untuk ikut bertemu dengan Arinal. Para wartawan kemudian memanggil Noval agar segera naik ke ruang pertemuan.

Tak lama kemudian Noval menerima permintaan maaf dari Arinal Djunaidi.

“Saya minta maaf kepada Pak Noval atas kesalahan perkataan yang saya lakukan,” ujar Arinal sambil menjabat tangan Noval.

“Ya, saya sudah memaafkan Bapak sejak kemarin. Tapi saya minta Bapak juga minta maaf juga kepada seluruh teman-teman media,” jawab Noval.

“O, tadi sudah.  Tadi saya sudah meminta maaf kepada kawan-kawan wartawan…”jawab Arinal.

Setelah Arinal dan Noval selesai bersalaman, para wartawan kemudian ikut bersalaman dengan Arinal Djunaidi.

Acara di ruangan atas selesai, para wartawan dan Arinal urun dari lantai dua. Di bawah, di depan kantor PWI, tampak sejumlah wartawan yang tidak puas. Mereka meminta Sekda minta maaf di depan umum dan di ruang terbuka.

“Kami menginginkan Sekda tidak hanya minta maaf di dalam ruangan tetapi juga di ruang terbuka,” kata Firman Lukmanul Hakim, salah seorang pendemo berteriak  dengan memakai toa .

Sejurus kemudian, nampak Supriyadi Alfian keluar darai ruangan bawah PWI dan langsung berkata bahwa tindakan yang dilakukan teman tersebut tidak benar dan mencerminkan arogansi wartawan.

“Sekda sudah minta maaf di dalam ruangan tadi secara berulang ulang. Jadi tidak perlu lagi minta maaf diluar. Dia itu kan orang tua kita mesti menghormatinya. Inilah yang saya tidak suka cermin arogansi wartawan,” ujarnya melalui toa.

Yoso Mulyawan ikut menenangkan para wartawan lainnya. Dia mengatakan bahwa pertemuan di ruangan atas dikawal oleh AJI Lampung dan tidak ada deal-deal tertentu.

“Kami mengawalnya di atas dan tidak ada deal tertentu. Permintaan maaf sudah disampaikan Skda. Dan saya juga agark bingung mana korlap aksi demo yang tidak menyuruh seluruh pendemo naik ke atas untuk mengikuti pertemuan penyelesaian masalah tersebut,” jelasnya.

Setelah diberi penjelasan, para wartawan tampak membubarkan diri dengan tertib.

Tidak ada aksi unjuk rasa wartawan di depan Kantor Gubernur Lampung.

Mas Alina Arifin

Loading...