Beranda News Liputan Khusus Cerita Sertu Zulkarnaen Mengubah Sampah Menjadi Pakan Ternak 

Cerita Sertu Zulkarnaen Mengubah Sampah Menjadi Pakan Ternak 

2707
BERBAGI

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Beternak kambing merupakan pekerjaan sambilan yang masih banyak ditemui diseluruh pelosok desa seantero nusantara ini, karena semakin banyaknya permintaan kambing terus meningkat dan itu salah satu faktor berternak kambing sebagai usaha utama.

BACA: Ini Cara Sertu Zulkarnaen Menyulap Sampah Daun Kering Jadi Pakan Ternak

Kambing yang gemuk dan sehat, sudah pasti sangat diidamkan para peternak karena harga dipasaran akan naik. Namun,  masih banyak peternak yang memberi pakan seadanya atau hanya mengandalkan dari daun segar dan rumput hijau. Begitu datang musim kemarau, peternak merasa kesulitan mencari pakan untuk ternaknya dan hal tersebut justru menjadi momok bagi peternak.

Dari kebutuhan akan pakan ternak tersebut, serta mengatasi kesulitan saat musim kemarau panjang untuk mencari pakan pengganti yang biasanya menggunakan pakan dari daun segar atau rumput hijau, seorang Bintara pembina desa (Babinsa) Koramil 421-07 Sidomulyo, Lampung Selatan, Sertu Zulkarnaen (50), berhasil menciptakan inovasi baru membuat pakan ternak kambing berbahan dasar dari sampah daun kering bernilai ekonomis.

Metode pembuatan olahan pakan ternak alternatif dari bahan baku sampah daun-daun kering, bekatul, garam, gula merah dan cairan prebiotik EM4 hasil inovasi Sertu Zulkarnaen ini, sangat mudah dibuat sendiri, selain irit penggunaannya dan murah ongkos produksinya. Pakan ternak fermentasi tersebut, diklaim mampu bertahan dalam waktu hingga berbulan-bulan, memiliki kandungan nutrisi dan aman dikonsumsi hewan ternak.

Sekali dayung, tiga pulau terlampaui. Mungkin pribahasa itulah yang tepat untuk anggota TNI AD, Sertu Zulkarnaen karena mampu menciptakan inovasi baru membuat pakan ternak kambing fermentasi dari berbahan dasar sampah daun-daun kering.

Sertu Zulkarnaen menuturkan, penemuan pakan ternak kambing fermentasi hasil inovasinya tersebut, dilatarbelakangi dari kegelisahannya karena kesulitan mencari pakan untuk 12 ekor kambing miliknya saat musim kemarau yang berkepanjang sekarang ini.

“Munculnya Ide buat pakan ternak kambing dari bahan dasar sampah daun kering ini, berawal dari musim kemarau saat ini. Karena sulitnya mencari pakan ternak dedauan segar atau rumput hijau, dari situ saya berfikir mencari solusinya,”ujarnya saat ditemui teraslampung.com di kediamannya di Dusun Kediri RT/02 RW/02, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Senin (4/11/2019).

Selain kelangkaan pakan saat kamarau, kata Sertu Zulkarnaen, dari situlah munculnya ide mencoba membuat olahan pakan alternatif untuk ternak kambing dari sampah daun kering. Karena kertas yang dimakan kambing liar berasal dari pohon, pastinya daun kering yang sama-sama notabenenya berasal dari pohon pasti bisa dijadikan pakan alternatif untuk kambing.

“Jadi malam itu saya berpikir, kambing yang dilepas liarkan seperti di pasar tetap makan dan sembarang lagi makannya. Bahkan sampai kertas pun dimakan, ternyata tetap hidup dan sehat meski tidak harus dicarikan pakan dedaunan segar atau rumput hijau,”ungkapnya.

Dikatakannya, seperti limbah batang pisang, jerami dan serasah daun jati saja dapat dijadikan pakan ternak apabila difermentasi.

“Saya lihat di sekitar lingkungan rumah saya ini saja banyak daun kering, kenapa nggak saya coba saja dibuat pakan alternatif untuk ternak kambing,”kata dia.

Pakan ternak kambing hasil fermentasi yang diolah dari bahan dasar sampah daun kering, lalu dicampuri dengan bekatul, garam, gula merah dan cairan prebiotik EM4, kata angggota TNI AD yang sebelumnya pernah bertugas di Batalyon Raider Aceh Timur tahun 1990-2008 ini, pastinya dapat menghemat tenaga dan waktu dirinya ditengah menjalankan tugasnya setiap hari sebagai Bintara pembina desa (Babinsa).

“Sebelum menemukan pakan fermentasi, tadinya tidak sempat setiap hari saya harus ngarit cari ramban (dedaunan segar). Tapi setelah ada pakan fermentasi ini, saya bisa menghemat waktu dan tenaga, mau memberi makan tinggal ambil saja di persediaan,”tuturnya.

Menurut pria yang lulus pendidikan militer TNI AD melalui jalur tamtama di Rindam Pematang Siantar tahun 1989-1990 ini, Inovasi pakan ternak kambing dari sampah daun kering yang sudah difermentasi, baru ia lakukan empat bulan belakangan ini dan saat ini sedang dilakukan uji lab pengujian nutrisi dan mutu pakan ternak di Fakultas Universitas Lampung (Unila).

“Baru empat bulan saya mulai membuat dan kembangkan hasil inovasi sampah daun kering jadi pakan ternak, dan sejauh ini berhasil. Hasil temuan inovasi saya ini sedang uji lab, dan alhamdulilah dapat dukungan dari Pemkab Lamsel,”bebernya.

Bahkan menurut pria kelahiran Desa Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara ini, dirinya sempat dibilang gila dan nyeleneh oleh temannya sesama anggota TNI AD, karena melihat ia tengah mengumpulkan sampah daun-daun kering yang akan digunakan untuk pakan ternak kambing miliknya.

“Jadi saat itu teman saya bilang, buat apa sampah daun kering dikumpulkan dan dibawa pulang. Saya bilang ke dia (teman), mau untuk makan kambing di rumah. Ya dibilang gila karena teman saya inikan belum tahu sebenarnya, kalau sampah daun kering yang saya kumpulkan dan dibawa pulang itu mau saya fermentasi menjadi pakan ternak,”ucapnya.

Meski baru tiga tahun tinggal di Dusun Kediri, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan, Sertu Zulkarnaen bersama istri, Kristina Susanta (42) dan ketujuh anaknya berhasil berternak kambing dan mampu menciptakan pakan hasil inovasi yang diolah dari bahan dasar sampah daun kering dengan cara difermentasi.

“Kalau beternak kambing, baru sekitar enam bulan. Awalnya punya 6 ekor kambing, kalau sekarang ini ada 36 ekor kambing. Tapi yang saya pelihara sendiri di rumah, ada 12 ekor dan sisanya 24 ekor kambing saya gadokan ke masyarakat,”kata dia.

Dirasa berhasil, kata bapak tujuh orang anak yang ramah dan sangat familiar ini, ia menularkan hasil temuannya ke warga disekitar tempat tinggalnya serta para kelompok peternak di beberapa Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan. Sertu Zulkarnaen pun berharap, hasil inovasi dan kegiatannya ini dapat terus didukung oleh pemerintah setempat (Pemkab Lamsel) dan disosialisasikan ke masyarakat.

Selain membantu peternak membuat pakan alternatif, lanjut Sertu Zulkarnaen, kegiatan ini juga dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat pembakaran sampah daun-daun kering.

“Saya akan terus kembangkan hasil inovasi ini untuk membantu peternak di Lampung Selatan, mudah-mudahan bisa didorong ke semua masyarakat Lampung Selatan. Harapannya, tidak ada lagi peternak yang kesulitan mencari pakan di musim kemarau dan tidak ada lagi peternak yang menjual ternaknya ke tengkulak dengan harga murah disaat musim kemarau,”terangnya.

Meski berdinas sebagai Bintara pembina desa (Babinsa) di desa binaannya, Desa Sidodadi dan Seloretno, Kecamatan Sidomulyo, Sertu Zulkarnaen tetap mempersipkan bahan pakan fermentasi hasil inovasinya untuk makanan ternak 12 ekor kambing miliknya, dan kelompok peternak di desa binaannya tersebut.

“Berdinas atau libur tidak menjadi soal, saya tetap mengorbankan waktu saya untuk mengabdi. Saya inikan Babinsa, tugasnya mengayomi masyarakat sembari memberikan sosialisasi hasil inovasi pakan ternak temuan saya ini,”tandasnya.

Loading...