Beranda News Liputan Khusus Cerita Sopir Pengangkut Sampah di Kota Bandarlampung

Cerita Sopir Pengangkut Sampah di Kota Bandarlampung

595
BERBAGI
Firliansyah, sopir truk pengangkut sampah di Kota Bandarlampung untuk dibuang ke TPA Bakung.
Firliansyah, sopir truk pengangkut sampah di Kota Bandarlampung untuk dibuang ke TPA Bakung.

BANDARLAMPUNG — Menjadi petugas pengangkut sampah bukanlah cita-cita Firliyansyah(30). Namun, warga Tanjung Seneng, Bandarlampung, ini mau tidak mau kini harus menekuni ‘karier’ sebagai petugas pengangkut sampah karena pekerjaan lain yang lebih menjanjikan sulit didapatlannya.

Sebagai lulusan SMA, tidak banyak alternatif pekerjaan kantoran yang bisa didapatkannya. Maka, ketika pada 2011 lalu ada tawaran menjadi petugas pengangkut sampah, ia pun dengan senang hati menjalani pekerjaan yang di mata banyak orang tidak cukup bergengsi itu.

Meskipun awalnya terasa berat, Firliyansyah mengaku kini merasa enjoy dengan pekerjaannya. Ia mengaku menjalani hidup dengan prinsip layaknya air mengalir.

“Ya hidup ini mengalir saja, jalani saja. Untuk sementara saya bertahan saja, karena sudah dapat SK pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandarlampung meski baru honorer,” katanya,Jumat  (31/8/2018).

Firli sudah tujuh tahun bekerja sebagai sopir truk pengangkut sampah di wilayah seputaran Kelurahan Sukarame, Bandarlampung.

Menurutnya, menjadi sopir pengangkut sampah bukanlah  hal yang mudah. Tujuh tahun menjadi sopir pengangkut sampah, sudah banyak suka dan duka dialami Firli.

”Suka dukanya banyak banget. Sukanya ketika dapat bonus dan senyuman dari tuan rumah yang diangkut sampahnya. Dukanya, ketika hujan deras datang dan sampah yang diangkut volumenya banyak. Belum lagi terik panas matahari ketika berkeliling,” ujar pria yang sudah dikarunia dua putri ini.

Meskipun berpenghasilan pas-pasan, Firli mengaku tetap setia dan menekuni pekerjaannya. Sebab, dari pekerjaannya itulah ia bisa menghidupi istri dan dua anaknya.

“Soal penghasilan, kalau dibilang cukup atau tidak ya jelas tidaklah. Upah saya per bulan hanya Rp1.250.000, sedangkan kebutuhan keluarga kan semakin banyak. Untuk menambah penghasilan saya memiliki pekerjaan sampingan yang halal,” katanya.

Meskipun usianya masih terbilang muda, Firli mengaku belum ada niat untuk menekuni profesi lain. Ia mengaku masih akan bertahan menjadi sopir pengangkut sampah.

”Saya setiap hari membawa truk untuk mengangkut sampah dan membuangnya ke TPA Bakung. Nah, di TPA inilah banyak kisah kehidupan ala rakyat kecil yang sangat menarik,” katanya.

Profesinya sebagai sopir pengangkut dan pembuang sampah memungkinkan Firli untuk mengenal ratusan pemulung yang menggantungkan hidup dari TPA Balung.

Selain aneka kisah tentang kerja keras para pemulung yang mengais rezeki dari sampah, Firli mengaku pernah punya pengalaman menarik. Yakni, ketika ada seorang perawat dari salah satu rumah sakit swasta di Bandarlampung tanpa sengaja membuang sampah pembalut di plastik bercampur dengan barang berharga yakni emas 15 gram dan uang sekitar Rp15 juta.

“Beberapa waktu lalu ada seorang perawat datang ke TPA Bakung dan menanyakan apakah saya melihat barang- barangnya yang hilang terbawa sampah tersebut esok harinya setelah sampah diangkut. Ya, saya mana tahu bahwa di sampah yang saya buang itu ada barang berharganya. Mungkin itu menjadi rezeki pemulung,” katanya.

Mas Alina Arifin

Loading...