Beranda Views Kisah Lain Cerita tentang Bang Zul

Cerita tentang Bang Zul

BERBAGI
Bang Zul (Foto: Arman AZ)

M. Arman AZ

Belum selesai bercerita tentang sastra dan seni budaya di Lampung, Bang Zul muntah. Ya, muntah begitu saja, tanpa didahului ekspresi untuk menahannya. Mungkin saking semangat bicara, sebagaimana kebiasaannya. Muntah muncrat dari mulutnya, berhamburan di lantai, meja, dan sedikit terpercik ke lengan kananku yang duduk di sisi kirinya. Kami semua panik.

Aku dan istri Bang Zul bergantian mengusapi punggung Bang Zul, mengolesi minyak kayu putih atau balsem (aku lupa persisnya). Saat istri Bang Zul menyeka sisa muntah di ujung bibir suaminya, sempat kupergoki remah-remah nasi di tengah cairan cokelat yang menggenang di lantai.

Itu kejadian suatu siang beberapa tahun lalu, saat aku mengantar tiga orang dari Badan Bahasa ke rumah Bang Zul. Dia terkejut melihat aku datang tidak sendirian. Usai memberitahu maksud kedatangan kami, dia menggerutu mengomeliku. Katanya, dia merasa tidak layak lagi ditanya-tanya. Namun setelah dibujuk, akhirnya dia bercerita. Pujian, kritik, gerundelan, sindirian, kelakar, tentang sastra-seni budaya di Lampung, silih berganti kami dengar. Seperti biasa, suaranya keras lantang, kadang matanya mendelik-delik. Aku sempat was-was melihat keringat di dahinya.

Usai muntah mendadak itu, Bang Zul tidak beranjak dari kursinya. Dia berusaha tetap gagah meski tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar, matanya berair, dan nafasnya tersengal. Saat istrinya membersihkan muntah di lantai dan meja, Bang Zul menatap nanar-hampa ke jalan raya.

Muntahmu, Bang Zul, saat menceritakan sastra dan seni budaya di Lampung, akan selalu kuingat. Selalu kuingat.

***

“Dimana es?” dan “Dimana puakhi?”; dua SMS itu tidak akan pernah kuterima lagi dari Bang Zul, setiap dia mau ke rumah, dan kerap kali aku tak ada.

***

“Bu Guru dalam Lukisan”, kumpulan cerita anak karya Bang Zul, yang dari situ kutahu bagaimana “sembrono”nya penerbit kepada penulis.

***

Usai pemakaman yang diiringi hujan, aku ngobrol dengan istri Bang Zul. Aku berpesan agar koran, majalah, dan buku yang memuat tulisannya disimpan baik-baik, jangan sampai hilang. Istri Bang Zul berkenan menitipkan (atau memberikan?) kliping-kliping tulisan almarhum, ketimbang raib karena dia akan jarang di rumah.

BACA JUGA: In Memoriam Sastrawan Lampung A.M. Zulqornain