Cerita tentang Kaus Kaki ‘Made in’ Desa Sidomekar Lampung Selatan

  • Bagikan
Warga Desa Sidomekar, Lampung Selatan, bekerja di 'pabrik kaus kaki' milik BUMDes 'Mekar Jaya' Desa Sidomekar.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Desa Sidomekar, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan memiliki luas wilayah sekitar 700 hektare. Desa Sidomekar merupakan sebuah desa pemekaran dari Desa Babatan.Desa Sidomekar resmi definitif menjadi desa mandiri sejak 2006.

BACA: Cerita di Balik BUMDes Desa Sidomekar Lamsel sebagai Produsen Kaus Kaki

Pada Tahun 2012, berdirilah menjadi Desa Sidomekar sampai sekarang yang memiliki 10 Dusun dan 17 RT dengan jumlah penduduk 3.584 orang, laki-laki 1.750 orang dan perempuan 1.834 orang serta 1.035 kepala keluarga (KK).

Pekerjaan masyarakat Desa Sidomekar, mayoritas sebagai buruh tani dan pekebun sehingga masih sangat rendah dalam perekonomian serta masih banyak tempat tinggal masyarakat desa kurang layak huni.

Batas Desa Sidomekar, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pardasuka KecamatanKatibung; sebelah Timur berbatasan dengan Desa Bandar Dalam, Kecamatan Sidomulyo; sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Karyatungal, KecamatanKatibung; sebelah Barat berbatsan dengan Desa Babatan dan Desa Tarahan Kecamatan, Katibung.

Suparyanto, Kepala Desa Sidomekar

Meskipun termasuk desa baru, Sidomekar termasuk desa yang layak diperhitungkan. Perekonomian pelan dan pasti terus membaik. Apa lagi dengan adanya kucuran dana desa dari pemerintah pusat.

Kini, perekonomian di Desa Sidomakmur makin menggeliar dengan hadirnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Jaya. Tidak seperti BUMDes di desa-desa lain di Indonesia yang kebanyakan mengandalkan bisnis wisata, BUMDes Mekar Jaya Desa Sidomekar fokus memproduksi kaus kaki.

Kepala desa (Kades) Sidomekar, Suparyanto (42) mengatakan,kaus kaki yang di jual atau dipasarkan di BUMDes ‘Mekar Jaya’ Desa Sidomekar ini, merupakan hasil produksi sendiri yang dikerjakan oleh tenaga kerja masyarakat desanya.

“Kaus kaki ini hasil produksi masyarakat desa kami sendiri melalui unit usaha BUMDes, dan kami terus berupaya untuk menambah penghasilan BUMDes dengan memproduksi kaus kaki,”kata Kades Supar, sapaan akrabnya, kepada teraslampung.com, Rabu (7/6/2021).

Produksi kaus kaki hasil inovasi BUMDes ‘Mekar Jaya’ ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat desanya dan dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat karena harga kaus kaki yang di produksi tersebut terbilang cukup murah. Selain dijual ke masyarakat desa (perorangan), kaus kaki hasil produksi BUMDes ini juga dipasarkan ke ke sekolah-sekolah, perorangan dan sejumlah toko pakain di Kecamatan Katibung.

Kaus kaki produksui BUMDes 'Mekar Jaya' Desa Sidomekar, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, siap dipasarkan.
Kaus kaki produksui BUMDes ‘Mekar Jaya’ Desa Sidomekar, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, siap dipasarkan.

“Penjualannya, sementara ini masih lokalan saja di Kecamatan Katibung. Banyak juga dari pihak sekolah, pemilik toko dan perorangan yang datang sendiri ke BUMDes untuk membeli langsung. Awalnya kami kesulitan bagaimana pemasarannya, tapi kami terus coba produksi kaus kaki,”tuturnya.

Meski hasil produksi kaus kaki BUMDes belum banyak dikenal ke sejumlah wilayah di Lampung Selatan dan Provinsi Lampung, kata Supar, namun pihaknya akan terus berupaya untuk terus produksi kaus kaki hasil inovasi masyarakat desanya meski perlahan tapi pasti.

“Kalau untukmencakup Lampung Selatan atau ke luar daerah lainnya di Lampung, sementara belum. Rencana kedepan, kami mencoba kerjasama dengan pihak sekolah lainnya di Lampung Selatan,”ujar Kades yang baru menjabat 1 tahun 6 bulan ini.

Suparyanto mengutarakan, mulai dioperasionalkannya BUMDes ‘Mekar Jaya’ dengan produksi kaus kaki, yakni pada akhir tahun 2019 lalu atau pada saat awal dirinya menjabat sebagai Kades Sidomekar pada bulan Agustus 2019 lalu.

“Sebelumnya sudah ada namun belum berjalan. Saat saya dapat amanah dari masyarakat dan dipercaya menjabat sebagai Kades, BUMDes ini saya gerakkan lagi dengan inovasi usaha produksi kaus kaki,”kata bapak dua orang anak ini.

Untuk pengadaan alat atau mesin rajut kaus kaki ini, lanjut alumnus SMK Yaditama Sidomulyo 1998 ini, dibelanjakan menggunakan anggaran Dana Desa (DD) senilai Rp 144 juta, seperti 4 unit mesin rajut kaus kaki, satu unit mesin obras, satu unit mesin open sum, satu unit alat pengopenan, bahan baku benang serta lainnya.

“Tahap awal November 2019, dana yang dikeluarkan untuk pengadaan mesin rajut kaus kaki sebesar Rp 98 juta. Saat saya menjabat Kades, saya lanjutkan program itu dengan melengkapi alat dan bahan-bahan baku pembuatan kaus kaki sebesar Rp 46 juta. Alhamdulilah, meski mesin yang dimiliki tidak baru dan canggih (digital) tapi bisa meningkatkan produksi kaus kaki di BUMDes kami,”bebernya.

Dikatakannya, mengenai pengadaan bahan baku, pengerjaan kaus kaki, pemasaran serta pengelolaan lainnya, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pengurus BUMDes ‘Mekar Jaya’ yang sudah dibentuk tersebut.

“Karena BUMDes ini badan usaha dari masyarakat untuk masyarakat, saya menekankan ke pengurus BUMDes wajib menerapkan 3 T (Tekun, Terus berkarya dan Tertib Manajemen pengurus dan anggota) hal ini agar BUMDes tersebut bisa terus berjalan,”ucapnya.

Mengenai kendala, Supar mengakui yakni di pemasaran atau marketing penjualan. Apalagi sekarang ini karena situasi pandemi Covid-19, pemasarannya menjadi terhambat.

“Sebelum ada wabah virus Covid-19, kaus kaki yang sudah diproduksi masih bisa dipasarkan,”kata dia.

Harapannya, produksi kaus kaki yang dikelola BUMDes “Mekar Jaya ini, dapat terus memproduksi. Maka dengan begitu, dapat meningkatkan penghasilan ekonomi masyarakat desanya dan akan ada lapangan kerja baru di Desa Sidomekar, Kecamatan Katibung yang dipimpinnya sekarang ini.

“Pengangguran memang jadi masalah kami sebelum akhirnya membuat BUMDes ‘Mekar Jaya’ ini yang membuat kaus kaki. Ya kalau pesenan banyak, pastinya ekonomi masyarakat desa pun meningkat dan pastinya butuh pekerja yang banyak juga,”ungkapnya.

Inovasi produksi kaus kaki yang dikelola oleh BUMDes ‘Mekar Jaya’ ini, lanjut Supar, tidak lain untuk mensejahterakan warganya melalui konsep satu desa satu produk atau satu desa satu perusahaan. Hal tersebut seperti yang diamanatkan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, yakni menggali potensi desa dan mecepat laju perekonomian masyarakat desa melalui BUMDes.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan, Desa Sidomekar ini menjadi satu-satunya Kampung kaus kaki yang ada di Provinsi Lampung dan khususnya di Kabupaten Lampung Selatan.

Ia pun berharap, Pemkab Lampung Selatan melalui dinas terkait dapat membantu mempromosikan produk inovasi kaus kaki yang dekolela oleh BUMDes ‘Mekar Jaya’ tersebut.

“Saya meyakini, masyarakat akan tetap betah di desa dan tidak perlu lagi merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan atau bekerja di pabrik, karena lapangan pekerjaan sudah ada di Desa tempat mereka tinggal,”terangnya.

Dia menambahkan, progres awal dirinya menjabat Kepala desa (Kades) Sidomekar, yakni melanjutkan program BUMDes dan itu sudah dijalankan. Pembanguan jalan rabat beton, ada lima Dusun yang sudah diselesaikan pembangunannya tahun 2020 lalu saat awal dirinya menjabat sebagai Kades.

Selain itu juga, beberapa kegiatan lainnya seperti siskamling, bersih dusun atau gotong royong, kegiatan kepemudaan seperti olah raga, karang taruna dan kegiatan lainnya yang sebelumnya sempat fakum sudah diaktifkan lagi.

“Sekarang ini akibat dampak pandemi Covid-19,anggaran DD banyak dialihkan untuk penanggulangan Covid-19. Jadi progres kedepan selain meningkatkan pemasaran juga memikirkan tempat, sebab tempat yang dijadikan produksi kaus kaki ini yakni di rumah pengurus BUMDes,”tandasnya.

Meski terbilang baru, unit usaha produksi kaus kaki yang dikelola BUMDes ‘Mekar Jaya’ Desa Sidomekar, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan ini berharap dapat berkembang pesat. Perkembangan BUMDes, pastinya akan dapat mengubah cara pandang masyarakat tentang pekerjaan, ekonomi serta dapat meningkatkan PAD Desa itu sendiri.

BUMDes ‘Mekar Jaya’ Desa Sidomekar tersebut, diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa melalui peningkatan kapasitas warga, penggalian potensi dan sumber daya alam serta pengembangan industri kreatif di tingkat desa. Pemasaran produk, dapat mengandalkan jaringan distributor umum dan pemasaran juga bisa melalui jejaring di internet secara daring (online).

 

  • Bagikan