Cerpen: Dunia yang Tidak Perna Menjadi Tua

  • Bagikan

Syaiful Irba Tanpaka

USIAKU dua puluh tahun pertama kali datang ke tempat ini. Sebuah tempat yang mengingatkan aku pada dongeng negeri kayangan. Ya! sewaktu aku kecil; setiap kali menjelang tidur, nenekku selalu meninabobokan aku dengan dongeng. Dan satu diantaranya adalah dongeng tentang negeri kayangan. Kata nenekku: negeri kayangan merupakan tempat tinggal para bidadari. Dengan memakai gaun yang anggun memesona; kecantikan para bidadari memancar penaka semburat pelangi di langit nan cerah. Kecantikan yang alami. Begitu menggoda; membuat setiap orang yang memandangnya terpukau dalam warna-warni imajinasi. Dan sekali waktu, dongeng itu sampai terbawa dalam mimpiku. Hingga kemudian menjadi semacam obsesi. Ya!

Di tempat ini;  aku seakan melihat pesona para bidadari. Meskipun aku mengerti semuanya cuma imitasi; senyuman, kecantikan, kemanjaan, kemesraan. Ya! Ditempat ini kadang aku membayangkan serupa berada di dalam kolam kepalsuan. Namun entah mengapa aku suka merenanginya. Seperti ada kekuatan sihir yang membetot gairahku untuk kembali. Atau mungkin karena aku telah menjadi bagian dari kepalsuan itu. Aku berpikir-pikir.

“Kok dari tadi diem aja sih. Baru kesini, ya?” suara perempuan muda itu memecah kebisuan.  Aku tersipu. Kikuk. Tidak ada hal lain yang bisa kuperbuat kecuali mencoba tersenyum.

“Ga perlu sungkan. To the point aja. Disini biasa blak-blakkan. Apa mesti aku sedikit memaksa” suara tawa perempuan muda itu mekar diakhir ucapannya. Aku juga tertawa sambil memperhatikannya. Sungguh-sungguh memperhatikannya. Wajahnya yang cantik. Kulitnya yang  putih bersih. Tubuhnya yang proporsional. Memakai tengtop dengan bawahan celana pendek yang ketat. Usianya sekitar 20an.

“Tu kan diem lagi. Jadi gemes! Kelamaan tau. Temennya dah sampe kayangan tuh” perempuan muda itu seraya menarik tanganku diiringi derai tawanya. Dengan jantung berdebar aku mengikuti langkahnya. Tanpa berniat untuk menolak. Aku jadi ingat kalau aku datang ke tempat ini tidak sendiri melainkan bersama Wit.  Ya! Wit yang mengajakku ketempat ini.

“Dijamin keren, Bro. Kayak negeri kayangan. Semua di desain untuk mata lelaki” tutur  Wit meyakinkan. Rasa ingin tahu membuatku menerima ajakan Wit.

Romantisme! Memang. Itulah kata yang tepat untuk melukiskan tempat ini. Seperti menonton sebuah pertunjukan seni sejati, di depan ada bagian serupa panggung, dimana kursi-kursi meubel berwarna merah muda tersusun dengan apik dan resik. Di latar belakangnya ada balutan-balutan plastik putih dan bening memendarkan cahaya lampu spot merah kuning hijau dan biru; menjadikan suasana seperti di negeri kayangan. Lantaran kursi-kursi meubel itu seakan tidak lagi dijejakkan di bumi, melainkan berada di atas gumpalan awan gemawan.  Alunan musik dangdut melengkapi keindahan suasana. Imajinasiku betul-betul terhanyut dalam obsesi negeri kayangan. Betapa tidak! Di kursi meubel itu duduk para perempuan muda cantik berbusana seronok dengan usia sekitar 20an.   
   
  Sungguh! Kesan pertama begitu menggoda. Sejak itu aku suka datang untuk mencari kesan-kesan lainnya. Ya! Kesan tentang negeri kayangan. Sebuah dunia yang megah dan gemerlap dengan istana yang dihiasi para bidadari. Menurut cerita nenekku, para bidadari di negeri kayangan senantiasa menunggu para ksatria yang gagah perkasa. Sebab itu aku sering membayangkan menjadi seorang pangeran yang datang dari sebuah kerajaan. Meskipun aku suka mentertawakan angan-anganku ini.

“Sayang…., kenapa harus tertawa? Kamu memang seorang pangeran buat aku” suatu kali perempuan muda itu meyakinkan aku dengan penuh kemesraan; ketika aku menceritakan hayalanku padanya.

“Terus aku harus bilang kamu bidadari, gitu?” balasku bergurau.

“Kenapa tidak, sayang. Ini dunia kita. Saat kita berdua; akulah bunga dan engkaulah kumbang.”

“Kalau aku lautan?”

“Akulah ombak! Gelombang yang menggairahkan.”
“Kalau aku malam?”

“Akulah bulan! Cahaya kenikmatan bagi mimpi dedaunan.”

“Kalau aku….?”

“Sudah sayang…” ia menukas.

“Kenapa? Gombal ya?!”

“Bangeeet!”

“Ga suka…”

“Suka sayang, tapi….”

“Tapi kenapa?”

“Aku lebih suka talk loss do more” dia tertawa.

Kadang aku tidak habis mengerti, kenapa momen-momen seperti ini menjadi daya tarik tersendiri. Atau karena ia memberikan sesuatu yang belum pernah kudapat sebelumnya. Atau karena aku sebetulnya membutuhkan perhatian atau (katakanlah) kasih sayang serupa itu; lantaran belum pernah merasakan keteduhan cinta dari seorang perempuan yang lazim disebut pacar.  Atau karena ia hanyalah sebuah momen! Maksudku; aku dan perempuan muda itu hanya bersama pada saat-saat senang.

Berbeda dengan cerita seorang temanku yang telah menikah. Temanku ini mengatakan bahwa dalam mengarungi bahtera rumah tangga, derita dan bahagia tak pelak mesti kita rasakan. Berkesah, bertengkar, bercanda dan bercinta merupakan bumbu penyedap yang membuat bahtera keluarga semakin lezat.

“Sebab menyatukan dua hati dan dua pikiran itu tidak mudah. Diperlukan saling pengertian, saling percaya, saling asah asih dan asuh. Itulah hakekat perkawinan. Dan bila hal itu terwujud maka pernikahan kita akan seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad s.a.w. baiti jannati, rumahku syurgaku” jelasnya.

Aku memahaminya,  meskipun belum bisa menghayatinya. Lagian usiaku baru 20an. Belum terpikir untuk menikah. Aku masih ingin menikmati masa lajang; yang konon merupakan masa-masa penuh kebebasan! Ya!

 Barangkali atas dalih kebebasan itulah aku masih melajang di saat usiaku berjalan 30an. Padahal aku mulai merindukan kehidupan berumah tangga. Namun belum pernah sekalipun aku berhubungan serius dengan seorang gadis. Alih-alih mendapatkan seorang calon istri, mendapatkan seorang pacar pun tidak! Hehehe…., aku berpikir-pikir.

Sebagai lelaki aku memiliki wajah standard. Artinya tidak ganteng tapi juga tidak jelek. Berkulit sawo matang sebagaimana lazimnya orang Indonesia.  Anatomi tubuhku cukup ideal. Tinggi seratus enam puluh dua sentimeter dan berat enam puluh tiga kilogram. Dengan otot-otot berisi. Mungkin karena sejak kecil aku suka main sepak bola. Tapi kenapakah belum ada seorang gadis pun yang naksir aku? Apakah karena aku introvert. Pemalu. Pendiam. Atau jodohku memang belum waktunya datang?

Entahlah! Aku tidak terlalu merisaukannya. Bukankah untuk segala urusan yang berkaitan dengan perempuan aku bisa mendapatkannya secara instan. Ya! mungkin juga disebabkan hal ini aku jadi sungkan mengejar cinta yang sejati.

“Bro…, bro…, bro…, bro… bro…, hari gini ngomong cinta sejati!” cetus Wit.

“Emang salah?” sahutku.

“Persoalannya bukan salah apa betul, Bro. Itu cuma ada dalam buku cerita” tegas Wit.

“Maksud, lo?”

“Yang begituan miliknya Ramoe dan Juliet, Hais dan Laila, Sampek dan Engtai. Milik kita adalah realitas. Jadi jalanin aja, nikmatin aja, Bro.”

“Tapi kan perlu dikejar?!”

“Kejar aja sama lo, tar gua yang nangkep. Kalo mo gampang nangkep bidadari di kayangan. Hahahahaaa…” 

Dugug! Wit memakai istilah yang kerap kugunakan. Mengasosiasikan tempat yang suka kami kunjungi sebagai kayangan. Tempat yang  menjadikan aku bak seorang pangeran. Atau seorang satria gagah perkasa yang dinanti para bidadari. Seperti dongeng yang diceritakan nenekku;  bidadari di negeri kayangan tidak pernah menjadi tua. Bidadari-bidadari itu muda senantiasa.

“Jelas muda-muda, Bos. ABG. Cantik-cantik. Bos bisa lihat sendiri dech” aku teringat perkataan seseorang yang di “kayangan” itu dipanggil mami. Ketika itu ia memperkenalkan dan mempromosikan satu demi satu perempuan muda yang duduk di kursi meubel di bagian depan dalam siraman cahaya lampu warna-warni bagai di atas gumpalan awan gemawan. Irama musik yang gemerlap membangun suasana serupa arus sungai yang deras dan menghanyutkan. Ya!

“Disini tua sedikit afkir. Soal selera bos lebih taulah.”

Aku memahami ucapannya. Bahkan mungkin lebih dari sekadar memahami di saat –    sekarang – usiaku  lebih 60an. Tempat ini memang seperti negeri kayangan yang diceritakan oleh nenekku. Dunia yang tidak pernah menjadi tua. Ketika aku berusia 20an, 30an, 40an, 50an hingga kini; perempuan-perempuan yang kulihat di tempat ini tetap saja berusia 20an. Ya! ***   

Bandarlampung, Juli 2013

 BIODATA

 

Syaiful Irba Tanpaka, kelahiran Telukbetung, Lampung. Menulis puisi, cerpen, dan esai yang dipublikasikan di sejumlah media terbitan Jakarta dan daerah. Karya-karynya juga masuk dalam berbagai antologi bersama dan buku kumpulan tunggal. Buku terbarunya adalah kumpulan cerpen Dunia yang Tidak Pernah Menjadi Tua (Penerbit Siger Publisher, Oktober 2013).

  • Bagikan