Cerpen Iwan Nurdaya-Djafar: BENDERA

Bagikan/Suka/Tweet:

DENGAN isyarat tertentu, dirigen yang memimpin korps musik itu memberi aba-aba. Sesaat lagi, lagu kebangsaan Indonesia Raya akan berkumandang mengiringi pengibaran bendera pusaka pada upacara kenegaraan lima puluh tahun Indonesia merdeka, pagi itu. Pasukan pengibar bendera yang berpakaian serbaputih dilengkapi dengan peci hitam sudah mulai bergerak dengan ayunan langkah tegapnya. Sementara ratusan peserta upacara yang menjubali lapangan amat luas berdiri terpaku dalam sikap sempurna. Termasuk mereka yang berada di tribun. Semua mata tertuju pada satu titik: pasukan pengibar bendera yang tengah melangkah dengan anggunnya. Detik-detik proklamasi sedang menjelang.

Kini, pasukan pengibar bendera telah tiba di sekitar tiang bendera yang berwarna putih. Tiang berukuran besar itu menjulang tinggi, tegak lurus dengan langit. Laporan pun disampaikan bahwa sang saka merah putih siap dikibarkan.

“Laksanakan!” terdengar perintah Inspektur Upacara dengan suara lantang, tegas lagi berwibawa.

Komandan pasukan pengibar bendera pun segera memberi aba-aba kepada anggotanya. Tiga orang pasukannya bergerak mendekati tiang bendera. Begitu sang saka hendak disodorkan kepada dua pengerek bendera, peristiwa aneh terjadi. Sekonyong-konyong saja, entah dari mana datangnya, dari arah angkasa menukiklah seekor burung garuda dan menyambarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bendera itu luput dari genggaman pengerek bendera. Dalam seketika burung garuda itu menyambarnya dan segera membawanya melayang-layang ke angkasa. Tinggi, tinggi sekali. Membelah langit biru pagi itu. Kedua pengerek bendera dan seorang lagi yang bertugas membawa bendera kaget bukan buatan. Pandangan mereka berkunang-kunang dan dalam seketika tubuh mereka bertebahan ke bumi. Semaput. Sedang ratusan peserta upacara cuma berdiri tertegun-tegun menyaksikan bendera merah-putih melambai-lambai di ketinggian, meninggalkan mereka. Sungguh sebuah pendadakan yang mencengangkan telah diperankan oleh seekor burung garuda yang selama ini dianggap sebagai sekadar replika berupa hiasan dinding belaka.

Dua petugas bersenjata yang berjaga di seputar tiang bendera merasa kecolongan karena keduanya bahkan tak sempat membidikan senjatanya atau sekadar berusaha mencegah burung garuda yang tanpa dinyana-nyana berhasil menyambar bendera dengan kedua cakar tajamnya. 

Cukup lama para peserta upacara itu tertegun-tegun. Tapi, begitu kesadaran menghampiri mereka, kepanikan pun terjadi. Reaksi mereka berbeda-beda.

“Astagfirullahaladziim …”

“Ajaib!”

“Bagaimana mungkin?”

“Mustahil!”

“Pertanda apakah gerangan?”

“Ini pasti sabotase!”

Pertanyaan dan dugaan meluncur deras dari mulut mereka. Kepanikan kian menjadi-jadi. Ada yang berteriak histeris. Ada yang menjerit meludahkan ekspresinya dengan sengit. Ada yang meracau. Ada pula yang meratap melolong-lolong. Lapangan upacara itu benar-benar bak kapal pecah. Tribun yang mengelilingi lapangan bagai terguncang dilanda gempa berkekuatan amat besar. Sementara itu, bendera merah-putih yang disambar burung garuda tadi terus membubung tinggi untuk kemudian raib ke balik langit.

Kecemasan hebat menguasai air muka seluruh peserta upacara, sampai kemudian terdengar suara Inspektur Upacara menyentakkan kesadaran mereka.

“Pasukan diistirahatkan!”

Komandan upacara memberi aba-aba istirahat kepada peserta upacara.

Dengan nada gusar Inspektur Upacara memberi arahan, “Saudara-saudara, semuanya harap tenang. Yang masih menjerit saya gebuk!” pekiknya dengan suara lantang seraya mengacungkan tinju ke arah para peserta upacara. Hal ini sungguh mengejutkan semua orang, baik para peserta upacara maupun para pirsawan yang menonton tayangan langsung  upacara itu melalui televisi. Inspektur upacara yang sehari-harinya dikenal berkepribadian lembut, kebapaan, suka tersenyum dan terbiasa berbahasa santun, kali ini tak ubahnya orang-orang kasar. “Gebuk” adalah sebuah kata yang terasa begitu kasar. Pastilah itu semburan kemarahan yang hebat dan mengancam. Maka, serta-merta suasana pun berbalik menjadi hening. Hening yang menekan. Lalu dengan suara tenang dan berat dia memerintahkan agar Komandan Upacara mencari bendera lain.

Sepuluh menit berlalu. Detik-detik proklamasi lewat sudah. Maka luputlah momentum pelaksanaan upacara tepat pada pukul sepuluh seperti terjadi pada tahun 1945  dan puluhan tahun sesudahnya. Komandan upacara belum juga muncul. Para peserta upacara sudah tak sabar menunggu. Rasa kesal, terhina bercampur heran menggumpal dalam dada mereka. Pada saat itu muncul komandan upacara. Dengan wajah putus asa dan tubuh gemetaran dia melaporkan bahwa bendera cadangan pun hilang. Bahkan beserta kotaknya sekalian. Sudah dicari ke mana-mana tapi tiada jua tersua. Raib secara gaib kiranya. Jangan-jangan, burung garuda itu lagi? Atau mungkin juga burung garuda yang lain. Siapa yang tahu!

Mendengar laporan itu, peserta upacara merasa benar-benar frustrasi. Mental mereka merosot. Tapi kenekadan mereka justru mencuat. Mereka kehilangan rasa takut – keberanian adalah juga puncak rasa takut – terhadap sang inspektur yang tadi mengancam akan menggebuk mereka.

“Sudah, bubar saja!”

“Sebaiknya upacara dibatalkan saja.”

“Upacara, kok dibatalkan!”

“Habis, mau apa lagi? Masak upacara tanpa bendera? Yang benar aja!”

Begitulah, lapangan upacara yang semula diberati keheningan yang menekan kini gemeremang oleh bisikan-bisikan, oleh suara-suara tertahan, juga keluhan-keluhan. Namun, semburat kekuatan aneh yang memancar dari kharisma sang Inspektur Upacara tak membuat mereka beranjak dari lapangan itu. Mereka tetap menunggu langkah apa kiranya yang akan diambil oleh sang inspektur.

Tak lama kemudian sang inspektur mengumumkan penundaaan upacara sampai bendera ditemukan. Kepada seluruh peserta upacara diperintahkan untuk mencari bendera. Bendera apa saja, pokoknya merah-putih!

Segera saja ratusan peserta upacara bertebaran. Mereka berpencar ke delapan penjuru angin, ke sudut-sudut tersembunyi, kalau-kalau saja bendera itu ditemukan di sana. Siapa tahu sekadar teronggok begitu rupa hanya karena keteledoran belaka. Tapi harapan tinggal harapan. Bendera tetap tak ditemukan. Melalui telefon-genggam, walkie-talkie, dan kurir, kawanan intel diperintahkan untuk menyebar. Bukan saja ke sekitar lapangan tapi ke seluruh sudut kota. Ke kolong-kolong jembatan hingga ke pucuk-pucuk teratas kondominium. Dukun dan paranormal pun dimintakan bantuannya untuk mencari dengan cara mereka sendiri. Sejumlah peserta upacara nekad pulang ke rumah untuk mengambil bendera. Itulah jalan pintas tercepat untuk mendapatkan bendera, pikir mereka. Sebagian lagi mendatangi toko-toko di pasar tradisional dan pasar modern yang biasa menjual bendera. Ada juga yang mencari ke tempat-tempat tertentu di tepi jalan yang biasanya banyak menjual bendera pada musim Agustusan. Tapi aneh, mereka semua tak jua mendapatkannya. Sebaliknya mereka dicekam rasa heran, karena pada pagi-pagi sekali, sebelum berangkat upacara, mereka merasa telah memasang bendera di depan rumahnya. Namun ternyata yang mereka temukan hanyalah tiangnya belaka!

“Bendera hilang!” pekik tetangga sebelah kiri.

“Bendera kami hilang!” jerit tetangga sebelah kanan.

“Bendera kami juga hilaaaaang …” terdengar jeritan dari kampung seberang.

Jeritan itu bersahut-sahutan. Bergulung-gulung di angkasa dan melahirkan gema berkepanjangan di seantero kota. Membentur-bentur dinding gedung pencakar langit. Lalu menelusup ke ruang-ruang bawah tanah. Maka, seisi kota pun jadi gempar. Kebingungan melanda di mana-mana.

Sambil menenteng kebingungan itu di benak mereka, beberapa orang yang tadi nekad pulang ke rumah segera kembali ke lapangan dengan tangan kosong. Mereka berharap semoga bendera yang hilang sudah ditemukan. Setiba di lapangan, mereka mendapati kenyataan yang sama. Bendera yang raib itu belum jua ditemukan. Komentar-komentar keras mulai bermunculan.

“Ini pasti sabotase besar-besaran!”

“Subversif!”

“Makar!”

“Menghina martabat bangsa!”

“…”

Dua jam berlalu. Detik-detik proklamasi basi sudah. Sebuah momentum yang amat mahal lewat begitu saja. Seluruh peserta upacara yang tetap bertahan di lapangan benar-benar merasa frustrasi. Bayangkan, kampanye besar-besaran untuk merayakan hari kelahiran emas proklamasi kemerdekaan ternyata dilecehkan dengan cara begini rupa. Akhirnya, mereka mendesak agar upacara tetap diselenggarakan biarpun tanpa bendera. Apa salahnya tanpa bendera?

Atas desakan itu, inspektur upacara tak punya pilihan lain kecuali menyetujuinya. Bagaimanapun juga, ini keadaan darurat. Pada waktunya, katup pengaman memang mesti dibuka. Karena di balik desakan massa itu tentulah berdiri anarki yang membabi-buta. Nyawa atau sekurang-kurang cacat-tetap adalah taruhannya.

Dari sudut logika kekuatan, sebetulnya bisa saja sang inspektur memerintahkan bala tentara untuk menyiram gelombang massa itu dengan gas air mata. Atau jika perlu timah-timah panas yang siap dimuntahkan sewaktu-waktu dari moncong bedil yang menganga selalu. Atau juga menghujaninya dengan ratusan granat. Atau sedikitnya melepas kawanan anjing liar demi mencabik-cabik tubuh mereka. Tapi itu berarti lapangan luas nan menghijau itu akan segera bertukar warna menjadi merah – oleh darah!

Tidak, tidak – bisik suara hatinya, ketika gagasan amat bengis itu membersit di dalam benaknya. Sekelebat terlukis dalam kepalanya wajah seorang penjahat perang yang tak pernah diadili, Westerling, yang membunuhi empat puluh ribu anak manusia di Sulawesi Selatan pada zaman penjajahan. Wajah itu segera memudar dan digantikan wajah seorang Jerman dengan setumpuk misai kecil persis di bawah mancung hidungnya. Hitler namanya. Isi perutnya naik ketika membayangkan wajah itu. Dia merasa mau muntah begitu terkenang bahwa pemilik wajah itulah yang menjadi biang terbunuhnya enam juta orang Yahudi semasa Perang Dunia II. Secara bergiliran bermunculan juga wajah tembam Idi Amin, Slobodan Milosevix, Radovan Karadzic, Lapangan Tiananmen, Kepulauan Gulang, Penjara Siberia, Penjara Guatanamo, monumen-monumen kekejian di pelbagai belahan dunia, gerombolan Pemuda Rakyat dan Gerwani yang menyileti para jenderal dan perlawanan sebaliknya yang dilakukan tentara dan rakyat yang membunuhi para anggota Partai Komunis Indonesia pada pasca Gerakan 30 September 1965, dan terakhir sekali wajah memelas seorang perempuan aktivis buruh yang terbunuh, Marsinah!

Bayangan wajah terakhir ini kontan membuyarkan nafsunya untuk unjuk kekuatan. Dengan rasa sabar tak tepermanai akhirnya dia menyetujui upacara tanpa bendera itu. Maka upacara pun dimulai kembali.

***

Dengan isyarat tertentu, dirigen yang memimpin korps musik itu memberi aba-aba. Sesaat lagi, lagu kebangsaan Indonesia Raya akan berkumandang. Tetapi, baru saja lagu kebangsaan itu dinyanyikan, terdengar bunyi mendesing keras puluhan pesawat udara persis di atas lapangan upacara. Satu, dua, tiga — tak tanggung-tanggung, lima puluh pesawat udara dari jenis N-250 Gatotkaca bikinan IPTN terbang rendah di atas lapangan itu. Suasana jadi bising sekali. Desing mesin memekakkan telinga. Lagu Indonesia Raya tengelam dalam kebisingan. Upacara yang mestinya berlangsung khidmat jadi rusak sama sekali. Tercemar oleh suara pesawat yang kekuatannya entah berapa desibel itu. Pendeknya, bunyi bising mesin itu betul-betul teror yang disemburkan secara frontal dan langsung menohok ke ulu hati keheningan.

Tapi koprs musik itu tetap saja memainkan musiknya. Dan seluruh mulut terus saja menyanyi. Kelimapuluh pesawat udara itu tampak melakukan manuver. Kemudian dari masing-masing perut pesawat berlompatan para penerjun. Pakaian mereka berwarna merah-putih. Ketika para penerjun melakukan kerjasama udara terbentuklah konfigurasi seperti bendera yang sedang melambai-lambai. Merah-putih warnanya. Langit biru menjadi latarnya. Indah nian tampaknya!

Semua mata memandang ke atas menyaksikan atraksi amat menawan itu. Di luar sadarnya, sang inspektur upacara pun mendongakkan wajahnya ke langit. Peristiwa luar biasa itu seakan menyihir mereka, sehingga mereka tak sadar bahwa sebuah upacara telah terhenti di tengah jalan. Padahal tadi mereka begitu bersikeras melaksanakannya.

Bala-tentara yang mengikuti upacara pun kehilangan kewaspadaannya. Tiada tanda-tanda atau gelagat bahwa mereka melihat pesawat udara dan sekalian penerjunnya itu sebagai kawanan musuh. Tiada komando yang menggerakkan laras senapan mereka untuk dibidikkan ke arah sasaran. Sebaliknya mereka justru merasa bahwa itu adalah kawan, adalah bagian sah dari diri mereka sendiri, namun selama ini terlupakan. Mereka bahkan merasa bersalah karena telah begitu lama mengabaikannya. Jadinya, mereka seperti sedang menanti bersua dengan teman lama, atau bahkan dengan saudara kandungnya yang telah hilang selama puluhan tahun. Serta-merta saja rasa kangen yang kuat menyergap diri mereka. Kini mereka justru amat merindukan para penerjun itu untuk selekasnya tiba di darat. Mereka ingin menyaksikan dengan mata-kepala mereka sendiri, bagaimanakah gerangan nasib saudara kandungnya itu. Duhai, siapakah para penerjun yang langsung terasa begitu intim di relung-relung kalbu mereka. Wahai, siapakah kiranya …

Satu persatu para penerjun itu menjejakkan kakinya di bumi. Mereka mendarat persis di sekitar tiang bendera. Salah seorang penerjun yang ternyata wanita separuh baya tampak menghampiri tiang bendera. Lalu dia mengeluarkan sebuah kotak kayu berukiran halus dari balik baju terjunnya. Semua mata tertuju pada kotak itu. Begitu kotak terbuka, serta-merta orang menjadi kaget. Kaget sekali. Wanita itu mengeluarkan bendera pusaka!

Sebelum rasa kaget kolektif itu sirna, wanita itu telah menyematkan bendera pada tali dan kemudian bersiap-siap mengereknya. Entah siapa wanita agung itu. Tapi wajahnya segera meningatkan orang pada Ibu Negara pertama, Ibu Fatmawati. Jika benar demikian, maka dia memang berhak mengerek bendera pusaka itu karena memang dialah yang menjahitnya pada malam-malam menjelang proklamasi kemerdekaan dulu. limapuluh tahun lalu.

Kini dia benar-benar hendak mengereknya. Tapi dalam seketika seorang lelaki kurus tinggi mengenakan peci hitam dan kacamata menyeruak dari kerumunan para penerjun sambil mengapit biola. Dari balik baju terjunnya dia mengeluarkan penggesek biola lalu meminta seluruh peserta upacara untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama dengannya. Maka berkumandanglah lagu kebangsaan itu bersamaan dengan terkereknya bendera pusaka. Tetapi siapakah gerangan lelaki nan piawai menggesek biola itu? Wajah dan penampilannya segera mengingatkan orang kepada pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. Jika benar demikian, dia memang berhak mengiringi lagu itu karena memang dialah penciptanya.

Kini bendera pusaka itu telah tiba di pucuk tiang dan angin pun segera mengibarkannya. Bendera itu melambai-lambai dengan anggunnya. Seluruh peserta upacara dicekam keharuan dan rasa tenteram nan murni. Tak terasa air mata syukur menitik dari semua pasang mata seluruh peserta upacara.

Kini mereka merasa ngeh. Rupanya, itulah makna peristiwa burung garuda yang menyambar bendera pusaka pagi tadi. Tetapi, dosa apakah gerangan sehingga putra-putri teladan pengibar bendera pusaka itu seolah tak diperkenankan oleh sang garuda untuk mengereknya? Tiada jawaban, biarpun semua orang, terutama para pengibar bendera nan muda belia itu, menekuri dirinya. Mereka hanya sanggup menebak terka. Apakah citra ABG (Anak Baru Gede) begitu buruk di mata para pahlawan itu? Apakah ini gara-gara 37 ribu remaja Jawa Tengah melakukan hubungan seks di luar nikah? Apakah ini disebabkan kasuh-kasus ecstasy yang melanda anak muda kalangan jetset yang kerjanya ke luar-masuk diskotek melulu.  Apakah ini karena kaum muda tak ubahnya angkatan gagap yang tak pernah dipersiapkan sebagai pelaku kehidupan. Apakah ini gara-gara perilaku mereka yang lebih senang keluyuran di mal dan pasaraya ketimbang asyik di toko buku, perpustakaan dan rumah ibadah.

Setelah melakukan penghormatan setakzim-takzimnya kepada bendera, sosok yang mengingatkan orang kepada Ibu Fat dan WR Supratman itu undur diri menyisih ke tepi lapangan. Orang-orang hanya memandang dengan rasa haru mendalam. Tiada sepatah kata komentar meluncur dari mulut mereka. Peristiwa itu adalah peristiwa hati.

Kemudian, dari tengah-tengah para penerjun itu, muncul sosok yang mengingatkan orang kepada Presiden Pertama, Bung Karno. Sosok ini segera menuju mimbar dan menyampaikan pidato secara berapi-api. Retorikanya menunjukkan bahwa dia memang seorang orator ulung. Pada dirinya, pidato menjadi sebuah karya seni yang mengagumkan. Enak didengar dan perlu.

Seraya memainkan tongkat komandonya dia berkata, “Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah-air, perlu dicamkan kembali, bukantah dahulu telah kukatakan bahwa kutitipkan negara ini padamu. Tapi kalian tak sungguh-sungguh menjaganya. Pada upacara yang gagal tadi pagi, terbukti bendera pusaka raib entah ke mana. Itu adalah skandal. Itu adalah aib. Itu adalah pertanda betapa kalian tak mampu menjaga kehormatan bendera pusaka …”

Tapi, di tengah-tengah pidatonya itu, tiba-tiba dia menangis. Bukan menangisi keteledoran bangsa melainkan lebih menyesali diri sendiri. Mungkin terkenang kembali episode akhir hidupnya yang sepi lagi tragis. Tanpa tedeng aling-aling dia mengaku bahwa dirinya pun bersalah. Bahwa dia yang atas nama bangsa memerdekakan negara ini pernah pula membawa kapal negara ini ke tepi jurang kehancuran. Lalu dia memohon agar bangsa ini sudi memaafkannya.

“Siapa berani berkata bahwa Bung Karno tidak pernah bersalah? Pernah bersalah, karena dia adalah manusia … ” ujarnya sembari terisak-isak, mengutip sebuah pidatonya dulu kala. Orang-orang pun yakin bahwa Bung Karno pernah bersalah, dan kini sedia memaafkannya.

Seturunnya Bung Karno dari atas mimbar, tampillah seorang pria kelimis berkacamata minus. Perawakannya kecil. Wajahnya mengingatkan orang kepada Wakil Presiden pertama, Bung Hatta.

“Saudara-saudara, inilah saatnya kita mawas diri sebagai bangsa. Limapuluh tahun lalu, dalam rapat BPUPKI, saya pernah mengingatkan bahwa negara yang kita bentuk ini adalah negara pengurus. Jadi, harus mengurusi rakyatnya. Tapi saya dengar, beberapa waktu lalu terjadi geger karena ada korupsi sampai 1,3 trilyun. Di televisi saya melihat hampir setiap hari wajah koruptor ditayangkan. Kemudian belakangan ini banyak terjadi penggusuran. Pada suratkabar saya membaca. para petani di Lampung hanya menerima ganti-rugi tanah senilai lima rupiah permeter. Ini semua mencemaskan. Tetapi kali ini saya tidak mau bicara panjang-lebar. Saya hanya ingin mengingatkan kembali agar republik ini tetap istikomah menjadi negara pengurus, bukan negara penguasa!” ujar Bung Hatta yang memang kurang pandai berpidato, seraya turun dari mimbar. Sekilas tampak wajahnya yang menyeringai marah.

Lalu seorang pria tinggi-besar yang mengingatkan orang kepada Muhammad Yamin tampil ke muka. Di tangannya tergenggam sebuah buku.

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah-air,” ujarnya, “tiga masalah besar sedang melanda dunia dewasa ini yaitu hak asasi manusia, demokratisasi, dan lingkungan hidup. Itulah tantangan yang harus kalian hadapi sebagai bangsa pada saat ini. Dua masalah pertama yaitu hak asasi dan demokratisasi sudah saya bayangkan sejak limapuluh tahun lalu. Dalam rapat BPUPKI, saya pernah berbeda pendapat dengan Bung Karno dan Supomo ketika hendak memasukkan pasal-pasal tentang hak asasi ke dalam UUD 45. Kini terbukti benar bahwa hak asasi mesti dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Syukurlah, ketika itu terjadi kompromi, dan hak asasi bisa dimasukkan dalam UUD 45. Kini tugas kalianlah memperjuangkannya.”

“Menanggapi raibnya bendera pusaka tadi pagi, di sini saya ingin mengingatkan kembali bahwa kalian harus menjaganya dengan hormat. Membelanya dengan perkasa. Dan setialah selalu kepadanya. Kini kami bawakan kembali bendera itu. Jagalah dia baik-baik dan kibarkan terus di seluruh tanah persada ini, terlebih-lebih di hati kalian sendiri. Ingatlah lagi bahwa ribuan tahun sudah merah-putih berada di tangan bangsa kita sejak dia disebut gulaklapa. Karena itu kalian mesti menjaganya untuk selama-lamanya. Jika dada rasa hampa, bacalah kembali kitab saya 6000 Tahun Sang Merah-Putih …” ujarnya sambil mengacung-acungkan kitab di tangannya. 

Seusai menyampaikan amanatnya, para bapa pendiri yang menyamar sebagai penerjun-penerjun itu menghilang secara gaib. Tetapi bendera pusaka yang mereka bawa tadi tetap berkibar di lapangan luas nan menghijau itu. Kini melambai-lambai dengan manisnya. Memanggili semua hati yang melupakannya. []

Sukarame, 12.6.95

*Cerpen “Bendera” menjadi judul dari buku cerpen Iwan Nurdaya-Djafar yang siap diterbitkan Siger Publisher (2014).

Biodata:

Iwan Nurdaya-Djafar lahir pada 14 Maret 1959 di Tanjungkarang, Lampung, Alumni Fakultas Hukum jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, ini bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara. Debutnya sebagai penulis cerita pendek diawali dengan cerpen bertajuk “Kampungan” yang dimuat di harian Pikiran Rakyat, Bandung pada 1983. Cerpen-cerpennya kemudian terbit di harian Lampung Post, majalah Gerbang Lampung, Gema Orienta,  Pengayoman,  dan dalam antologi cerpen Cetik terbitan Dewan Kesenian Lampung (1998).

Iwan juga dikenal sebagai penyair, esais. penulis buku dan penerjemah. Pada 1983 memenangi lomba karya tulis ilmiah bidang hukum yang ditaja oleh Senat mahasiswa FH Unpar, pada 1998 memenangi Sayembara Penulisan Naskah Cerita Film yang diselenggarakan Departemen Penerangan. Pada 2004 tampil sebagai pembicara dalam Kongres Kebudayaan di Bukittinggi.

Di antara karyanya Seratus Sajak, Hukum dan Susatra, terjemahan karya Ali Shariati: Tipologi: Sebuah Metode Memahami Islam, terjemahan karya Kahlil Gibran: Kematian Sebuah Bangsa, Bagi Sahabatku yang Tertindas, Airmata dan Senyuman, Sang Nabi, terjemahan karya E. Stepanova: Karl Marx: Nabi Kaum Proletar, terjemahan karya Saad Muhammad Al-Marsafi: Kabah Pusat Dunia, terjemahan novel Manuel Komroff: Hidup, Cinta dan Petualangan Omar Khayam, terjemahan karya William Marsden: Nakhoda Muda: Memoar Sebuah Keluarga Melayu,  terjemahan novel karya Mohsen El-Guindy: Lelaki dari Timur, dan Pepatah Petitih Lampung.

Iwan Nurdaya Djafar: Penyair, Birokrat, Penyambung Lidah Sastra Timur