Beranda News Pelayanan Publik Chandra Bawa Pulang Mayat Bayinya Naik Angkot karena Harus Sewa Ambulans RSUD...

Chandra Bawa Pulang Mayat Bayinya Naik Angkot karena Harus Sewa Ambulans RSUD Demang Sebesar Rp1,8 Juta

475
BERBAGI
Chandra membaya pulang jenazah anaknya dari RSUD Demang Sepulau Raya ke kampungnya di Kabupaten Tulangbawang naik angkot.

TERASLAMPUNG.COM —  Klarifikasi yang dilakukan pihak Rumah Sakit Umum Daerah Demang Sepulau Raya (RSUD DSR), Lampung Tengah, terkait mayat bayi yang dibawa pulang orang tuanya naik angkot, dibantah oleh Chandra Pratama (23)

Chandra mengaku tidak ada tawaran dari pihak RSUD DSR. Yang ada adalah penawaran untuk membawa pulang jenazah bayi yang baru dilahirkan istri Chandra, Ermilia Sari (24), ke kampung halamannya di Lingkungan 4 Kibang, Kelurahan Menggala Tengah, Kabupaten Tulangbawang dengan tarif Rp 1,9 juta.

Karena uang sebesar itu terlalu memberatkan, Chandra pun menolak. Ia kemudian membawa pulang mayat bayinya dengan menggendongnya dan naik angkot.

Chandra mengisahkan, kisah pilu yang dialaminya bermula pada Jumat lalu (6/10/2017), saat istrinya hendak melakukan persalinan di RSUD Menggala, Tulangbawang, dengan fasilitas kartu BPJS.

Karena kondisi kesehatan istri Chandra mengkhawatirkan,  pihak RSUD Menggala menyarankan keluarga dan dirinya merujuknya  ke RS Puti Bungsu (Rumah Sakit Swasta) di Bandarjaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Pada Jumat sore dokter di RS Puti Bungsu menyatakan bahwa Ermilia Sari harus melahirkan secara caesaren. Proses operasi berlangsung lancar. Namun, kondisi bayi kurang sehat sehingga pihak RS Puti Bungsu memberikan rujukan perawatan ke  RSUD Demang Sepulau Raya.

“Setelah sampai di RSUD Demang Sepulau Raya, anak saya langsung dirawat sama mereka. Namun Tuhan berkehendak lain, tepat sekitar pukul 13.00 pada hari Sabtu (7/10) anak saya meninggal,” katanya.

Pihak keluarga kemudian bergegas ke bagian pendaftaran RSUD Demang Sepulau Raya untuk mengurus administrasi kepulangan jenazah. Namun,  keluarga Chandra  kaget karena disebutkan bagian administrasi, nilai untuk perawatan almarhum bayi biayanya hampir mencapai Rp3.5 juta.

“Meskipun bagi saya itu terlalu mahal dan memberatkan, tapi kami bayar juga. Lalu untuk membawa jenazah almarhum bayi, kami pun berupaya memakai jasa ambulance yang ada di RSUD ini, lagi-lagi rasa kaget itu melanda sebab tarif atau ongkos mobil ambulans dari RSUD Demang Sepulau Raya – Kota Menggala dengan jarak tempuh kurang lebih 85 Km, nilainya mencapai Rp. 1.894.0000,” katanya.

Chandra mengaku, saat itu ia sangat terpukul. Perasaannya tidak menentu. Ia seolah-olah baru dirampok atau dikuras kantongnya, tiba-tiba harus mengeluarkan uang Rp 1,8 juta untuk sewa ambulans guna memawa pulang mayat bayinya.

Akhirnya rasa sedih saya sedikit terobati karena keluarga di rumah mendapatkan pinjaman mobil angkot, mobil yang dipinjam itu juga tanpa sepengetahuan pemiliknya jika akan dipergunakan untuk membawa jenazah.

“Mungkin bila pemiliknya tahu mobil itu bakal membawa jenazah, besar kemungkinan tidak diperbolehkan. Dan tepat hampir sekitar pukul 18.00 pada Sabtu itu mobil Angkot pengangkut jenazah ini tiba dihalaman RSUD, kami pun segera memberangkatkannya ke Menggala,” kata Chandra.

Chandra berharap pengalaman getirnya ini akan menjadi terakhir yang terjadi di Lampung. Ia berharap seluruh pemerintahan daerah di provinsi Lampung untuk dapat mempertimbangkan seluruh aturan pembiayaan yang dirasakan berat oleh masyarakat, baik berupa aturan pembiayaan tentang kesehatan maupun tentang pembiayaan lainnya.

” Khususnya biaya tentang kesehatan, kami benar-benar berharap untuk dapat lebih diperingankan lagi,” katanya.