Chrisna Putra

  • Bagikan
Oyos Saroso H.N.

Chrisna Putra. Nama ini sebelumnya asing bagi saya. Maklum, ia lebih banyak menjadi pejabat di beberapa kabupten di Lampung. Saya mengenalnya dengan baik ketika di era Gubernur Ridho Ficardo ia diangkat menjadi Kepala Dinas Informas dan Komunikasi. Saya makin dekat dan tahu karakternya ketika kami sama-sama menjadi Tim Seleksi Komisi Infomarsi Provinsi Lampung.

Suatu siang, kami berada di ruang dinasnya bersama tim Komisi Informasi Pusat. Di ruang itu ada juga mahasiswa berseragam hijau yang kabarnya pengurus BEM. Ada juga aktivis HMI. Mereka dibawa salah satu anggota KI untuk menyaksikan pengadilan terhadap kami.

Saya Ketua Tim Seleksi KI Lampung, M.Ridho (sekarang Ketua Peradi Bandarlampung) kepalanya sudah “berasap” karena marah lantaran dipojokkan terus oleh anggota KI Pusat itu. Saat itulah, Chrisna Putra tampil meredakan tensi perdebatan. Dari situ saya tahu bahwa usia, kedewasaan, rekam jejak, dan kebijaksanaan memang harus menyatu pada diri seorang pemimpin.

Usai pertemuan.saya kepada Chrisna, apakah para mahasiswa itu diundang Diskominfo? Chrisna menjawab “tidak”. Dari situlah saya tahu komsioner KI Pusat itu membawa para mahasiswa dengan maksud untuk memperlakukan kami. “Kami” berarti termasuk Chrisna Putra, karena Chrisna termasuk tim seleksi calon anggota KI Lampung.

Setelah itu, saya masih sering bertemu Chrisna atau mendengar kabar Chrisna dari para wartawan yang biasa ngepos di Diskominfo Provinsi Lampung. Ia bisa sangat cepat dekat dengan para wartawan. Kedekatannya dengan banyak wartawan terkadang membuat pejabat lain iri.

Ketika ia ditunjuk sebagai Penjabat Walikota Metro, banyak wartawan di Pemprov Lampung yang kehilangan. Mereka seperti anak-anak ayam kehilangan induknya. Maklum, berbeda dengan para pejabat pada umumnya yang kerap menganggap wartawan sebagai perusuh, merepotkan, dan bikin boros, Chrisna acap menganggap para wartawan yang usianya rata-rata jauh di bawah usianya itu sebagai anak-anaknya. Para wartawan pun  membapak padanya. Dengan hubungan seperti itu, para wartawan pun menjadi segan dan tidak berani berbuat macam-macam, semisal malak atau minta proyek.

Pada Rabu pagi (17/2/2016) Chrisna Putra mengakhiri tugasnya sebagai Penjabat Walikota Metro. Saya lihat, sejak Rabu pagi linimasa media sosial sudah penuh tulisan kesan-kesan netizen di Metro tentang Chrisna Putra. Sebelumnya, kawan saya Oki Hajiansyah Wahab juga sudah menulis catatannya  di Antara menurunkan satu tulisan di pojoksamber.com tentang Chrisna. Catatan dan parade kesan itu bagi saya menyiratkan satu hal: Chrisna Putra bukanlah pejabat daerah biasa.

Di Lampung, menurut saya, pejabat serupa itu jarang ditemui. Umumnya pejabat daerah menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Pejabat akan menyadari bahwa dirinya juga manusia ketika sudah pensiun. dan ketika hadir di sebuah acara kampung tiba-tiba ada orang bertanya,”Siapa sih elu?”

  • Bagikan