Beranda Views Jejak Chung Hwa Sie Siauw, Sekolah Tionghoa di Metro Tempo Doeloe

Chung Hwa Sie Siauw, Sekolah Tionghoa di Metro Tempo Doeloe

541
BERBAGI
Sekolah Tionghoa tempo dulu di Metro, Lampung (Ilustrasi)
Sekolah Tionghoa tempo dulu di Metro, Lampung (Ilustrasi)

METRO–Sekolah Cino, begitu biasanya orang-orang dulu menyebut sekolah yang dibangun warga Tionghoa di Lampung Tengah secara urunan tersebut. Pada zamannya, Sekolah Cina tersebut pernah memiliki siswa, yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

“Chung Hwa Sie Siauw atau Sekolah Cina itu dibangun setelah Jepang menyerah, sekitar tahun 1945. Dibangun oleh warga Tionghoa secara gotong-royong. Sumbangan dari para warga Tionghoa yang mayoritas pedagang itu, kemudian dibelikan bahan bangunan,” tutur Lie Pak Kian (83), belum lama ini.

Lie Pak Kian menuturkan tukang yang mengerjakan bangunan Sekolah Tionghoa itu  juga warga Tionghoa. Bagian bawah sekolah sudah dalam bentuk beton yang terbuat dari semen. Dan, bagian atasnya terbuat dari kayu Merbau.

Menurut Lie Pak Kian, sekolah yang terletak di Jalan Imam Bonjol tersebut, berjarak sekitar 50 meter dari bekas lokasi Bioskop Nuban itu, juga pernah menjadi lokasi SMA Negeri 1 dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

“Setelah ditutup antara tahun 1965-1966, sesaat setelah peristiwa 1965, sekolah itu digunakan untuk sekolah guru atau sekolah PGRI,” ujar Tham Tjen Sek (72) atau Toni Tambara, di kediamannya.

Pada masa itu, Toni Tambara melanjutkan, Rezim Orde Baru meminta seluruh sekolah milik warga Tionghoa di Indonesia ditutup.

Bahkan, huruf-huruf dan simbol-simbol yang identik dengan Tionghoa pun diperintahkan untuk dihapus.

“Bahkan, kami juga tidak diperkenankan untuk memanggil guru les untuk datang ke rumah, mengajarkan aksara dan bahasa Tionghoa, biar tidak hilang bahasa Tionghoa, kalau ketahuan bisa ditangkap,” ujar Toni Tambara.

Padahal, sambung Toni Tambara, meskipun Chung Hwa Sie Siauw adalah sekolah Tionghoa, tidak berarti, orang-orang yang bersekolah di sekolah itu, semuanya adalah warga Tionghoa.

“Teman sekelas saya, yang masih saya ingat, itu ada tiga orang. Susilowati, Wang Setat mungkin nama aslinya Warsito, satu lagi Si Pon, saya lupa nama lengkapnya. Dia tinggal di Pekalongan. Saya juga dulu tinggal di Pekalongan, dan sering berangkat bareng bersama dia ke sekolah,” tutur Toni Tambara.

Menurut Toni Tambara, etnis Tionghoa yang datang ke Indonesia, sebenarnya tidak semuanya menjadi pedagang.

Ada sebagian dari mereka yang berusaha menyebarkan pengetahuan tentang pengobatan, seni beladiri kungfu, termasuk mendirikan lembaga pendidikan, seperti sekolah Tionghoa atau Chung Hwa Sie Siauw.

 Rahmatul Ummah /pojoksamber.com