Cinta dan Kebencian

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo*

Beberapa hari lalu salah seorang Guru Besar Muda yang satu tim mengajar dengan saya mengirimkan suatu caption dialogis ke piranti sosial; isinya sangat menyentuh; karena menggambarkan secara gamblang bagaimana kaburnya perbedaan antara dua hal yang paradoks di dunia ini. Keduanya berkelindan sedemikian rupa; tampak luar dan hakekat yang ada didalamnyaa, ternyata bertentangan jauh.

Di tempat lain ada peristiwa mirip sama sedang berlangsung; dalam laman group seorang pimpinan mengumbar kesuksesan; dan itu dilakukannya sendiri. Merasa jumawa karena dirinya memuji dirinya sendiri. Namun begitu, ada orang lain yang berhasil, dan bukan dirinya yang menunjukkan akan keberhasilan, tetapi orang lain. Maka, reduplah kesesumbaran tadi dengan tidak berkeinginan untuk menghargai keberhasilan orang lain. Ternyata Singa berbulu Domba itu sama bahayanya dengan Domba berbulu Singa.

Tidak ada sesuatu yang pasti didunia ini kecuali perubahan, karena segala yang ada di dunia ini pasti berubah, demikian pendapat Profesor Selo Sumardjan. Menjadi lebih dahsyat lagi ternyata semua yang berubah itu tidak menutup kemungkinan yang selama ini bermula baik, kemudian berubah menjadi jelek; dan atau sebaliknya; yang selama ini jelek justru menjadi baik.

Perubahan bungkus atau casing ini ternyata bisa kapanpun terjadi, dan kepada siapapun bisa terjadi. Apakah dia rakyat jelata, pemimpin umat, pimpinan pemerintahan, bahkan siapapun dia, berprofesi apapun dia; perubahan harus dia lakoni. Persoalannya adalah apakah orang lain mampu membaca perubahan itu, dan atau apakah dirinya mengetahui bahwa dirinya berubah; dan yang lebih menohok lagi adalah; apakah dirinya siap untuk berubah.

Gegap gempitanya arus informasi di media sosial sekarang ini begitu dahsyat, sehingga jika kita tidak jeli memilah, memilih untuk membacanya. Maka kita akan terjebak dalam jebakan BatMan. Logika lurus dalam berfikir; sekarang terkoreksi dengan logika paradogsal dalam memahami suatu peristiwa. Bisa terjadi semula kita mengira arus informasi itu mendukung; ternyata ditengah jalan dia berbalik arah. Atau sebaliknya semula kita duga itu berbalik arah, ternyata maksudnya justru mendukung, karena ingin mengetahui seberapa besar dukungan yang kita miliki.

BACA JUGA:   Tuan Ahok Masih Bilang "Ngaco"

Ternyata Cinta dan kebencian itu ibarat dua sisi mata uang yang sama; dimana muka yang satu meneguhkan keberartian muka yang lain. Mereka datang selalu beriringan, pergipun saling bersamaan.

Tidak ada kebencian tanpa kecintaan, karena bisa saja terjadi munculnya kebencian itu karena rasa cinta yang menyempit. Sebaliknya tidak ada kecintaan tanpa kebencian. Karena bisa saja terjadi rasa cinta yang menyempit, menimbulkan kebencian. Disitulah keunikan manusia ciptaan Tuhan yang memiliki ambivalensi rasa, bahkan tidak jarang juga berwujud dalam perilaku.

Kapan manusia terbebas dari dikhotomi kehidupan itu: banyak teori mengemuka pada jagad ilmu pengetahuan, salah satu diantaranya (dari banyak teori yang mengemuka); adalah yang menyatakan bahwa berhentinya dikhotomi itu setelah ruh berpisah dengan jasad. Pada teori ini berpendapat bahwa ruh adalah sesuatu yang bebas merdeka dalam kendali Robb; karena ada di alam keabadian. Begitu ruh masuk kedalam jasad atas tugas keilahian yang diberikan kepadanya, maka ruh menjadi tidak bebas. Jika ingin makan harus bekerja, jika merasa haus harus minum, dan lain sebagainya. Ruh menjadi tidak bebas karena berada dalam jasmani (Jawa: badan wadak). Jasmani adalah casing yang dibebankan kepada ruh; oleh sebab itu kematian adalah kembalinya ruh kealam keabadian, sementara jasmani dikembalikan kebumi sebagai hakekat asalnya. Oleh karena itu menurut teori ini kematian tidak harus ditangisi, justru disambut gembira, karena ruh akan kembali keharibaan Maha Pencipta, dimana ruh itu sendiri berasal.

Dalam konsep Jawa ini disebut murud kasidan jati yaitu kembalinya ruh kepada keharibaan Alloh sebagai Sang Maha Pemilik.

Ruh harus mempertanggungjawabkan semua perilakunya pada waktu berada di dalam Jasad melalui pengadilan keilahian; karena pada waktu itu ruh diutus sebagai khalifah dimuka bumi ini melalui jasmani, maka konsekwensi semua perbuatannya harus dipertanggungjawabkan. Di sanalah konsep Syurga dan Neraka pada teori ini; sebagai tempat memetik hasil perilaku di dunia (Jawa: ngunduh wohing pakarti).

BACA JUGA:   Perang Air?

Oleh karena itu,  Jalaluddin Rumi (Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Samarkand) pada tanggal 6 Rabiul Awal tahun 604 Hijriah atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya yang masih merupakan keturunan Abu Bakar bernama Bahauddin Walad, sedangkan ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm). (diunduh, 6 Juni 2021); mengatakan kedatangan kematian tidak harus ditangisi, justru harus disambut gembira, karena kita akan kembali kepada asal kita, terbebas dari segala beban jasad yang membelenggu. Dengan segala kelemahan dan keunggulan teori ini, tentu harus tetap kita kritisi, mengingat teori seperti ini sulit dalam memvalidasinya karena riskan metodologis.

Masih banyak teori lain yang tidak mungkin halaman ini mampu menampungnya; hanya tamzil yang dapat kita petik adalah, tidak ada satupun perbuatan kita yang tidak akan dimintai pertanggungjawabannya nanti dihadapan Sang Pemili Hidup dengan seadil adilnya; sekalipun amalan itu hanya sebesar biji sahwi. Tetap harus kita pertanggungjawabkan dipengadilan akhirat.

Semoga sisa waktu yang ada didunia ini yang masing masing kita miliki; dapat kita pergunakan sebaik baiknya dengan diisi amal kebajikan bagi sesama, dan amal perbuatan diharibaan Robb. Karena sejatinya jatah usia yang diberikan kepada kita oleh Sang Pemilik Hidup, bukan bertambah, tetapi justru setiap waktu berkurang. Pengurangan yang terjadi semoga meneguhkan kita akan penyadaran betapa kurangnya kita.

*Profesor Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

  • Bagikan