Beranda Kolom Sepak Pojok Cis dan Kang Badrun yang tak Doyan Keju

Cis dan Kang Badrun yang tak Doyan Keju

5411
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut ada kode dengan kata atau istilah ‘cheese’ dalam pembicaraan telepon orang-orang yang ditahan KPK karena kena operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan suap di Lampung Tengah.

“Dalam komunikasi muncul kode cheese. Kata sandi ini menunjukkan bahwa mereka membicarakan sesuatu yang bertentangan dengan hukum,” ujar Laode Syarif, anggota KPK, saat konferensi pers di gedung KPK, Kamis malam, 15 Februari 2018.

Udo Z. Karzi nyengir. Bambang Ekalaya juga nyengir. Saya dan ribuan warga Lampung mengernyitkan dahi sebentar, lalu nyengir.

Kami semua memaklumi, penyidik KPK dan para komisioner KPK bukan warga Lampung yang terbiasa dengan istilah cis. Mereka – petugas KPK – mungkin sekali mendengar kata cis dan langsung mengasosiasikan atau menafsirkannya dengan cheese yang berarti keju. Ah, mungkin keju dinggap sepadan dengan kode yang pernah hot di jagat suap-menyuap: apel malang, apel washington,dsb.

“Itu bukan cheese, keles…,” ujar Udo, sambil tetap nyengir.

Saya tiba-tiba teringat Bambang Ekalaya. Ia anak baik. Maksud saya, Bambang ini orang baik. Ia melawan ketika era Orba berkuasa. Hanya dengan Bambang saya berani meledek minta cis.

“Cisss, Mbang!” ujar saya di Facebook.

“Cissss! Jangan nakal!” Bambang menimpali.

Cis adalah istilah yang biasa kami pakai dalam cas-cis-cus sehari-hari. Cis berarti uang, fulus, “jatah preman”, atau persenan.

Cis dalam pembicaraan sehari-hari warga Provinsi Lampung diyakini berasal dari kata picis. Itu termasuk kata yang sudah lama dipakai dalam khazanah pergaulan di Nusantara dan ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Satu (1) picis nilainya sepuluh sen. Orang Jawa atau daerah lain menyebut picis dengan ketip. Satu ketip sama dengan sepuluh sen.

Tidak jelas benar kenapa kami di Lampung suka sekali memakai istilah cis atau picis hingga kini. Yang pasti, bagi saya pribadi, cis lebih mudah diucapkan dan asosiatif sehingga enak dijadikan bahan candaan.

Kalau saya bilang minta cis sama Bambang atau Dedy Mawardi di dunia maya, janganlah anggap bahwa saya benar-benar minta uang sama mereka yang memang sudah kaya raya itu. Bambang dan Dedy memang layak saya mintai cis karena mereka berdua sudah makmur. Bambang konon — belum diverifikasi — pengusaha pabrik pelor (maksudnya pelor untuk roda sepeda), sedangkan Dedy kini komisaris utama di sebuah BUMN.

Tapi tidak. Saya cuma guyon. Saya nggak berani minta cis kepada mereka. Sungguh.

***

Ingat keju dan cis, saya jadi teringat Kang Badrun.

Kang Badrun itu tidak suka keju. Maka, janganlah pernah bilang cheese (keju) dengannya. Jangan tawari Kang Badrun cheese, karena kau nanti akan disergahnya. Bahkan, bisa-bisa keju berwana kuning gading itu bisa mendarat di wajahmu.

Kang Badrun temperamen kalau bicara banyak hal. Apalagi jika ia sudah bicara soal hak yang berkaitan dengan uang.

Endi cise (mana uangnya)?!” pekik Kang Badrun, saat ia tidak mendapatkan jatah uang sebagai jasa keberhasilannya mendapatkan sebuah proyek kocok bekem bagi Bang Abab Surabab.

Bang Abab Surabab gelagapan menahan rasa takut. Ia pun terpaksa merogoh kocek dalam-dalam dan mengeluarkan lipatan uang ratusan ribu warna merah.

Kang Badrun suka cis. Semua orang juga suka cis.

Kang Badrun mendapatkan cis dari ‘jualan jasa’. Aneka jasa bisa ditangani Kang Badrun. Mulai soal mendapatkan proyek, memasukkan anak masuk sekolah favorit, masuk jadi pegawai negeri, hingga jadi pengerah massa untuk demonstrasi.

Ada kerja ada cis. Kaki melangkah, ada cis. Begitulah prinsip Kang Badrun. Karena pergaulannya luas dan bisa tembus ke orang-orang penting di Lampung, Kang Badrun hidupnya moncer.

Meskipun sekolahnya tidak tinggi-tinggi amat –hanya program persamaan SMA– Kang Badrun bisa membangun rumah tiga tingkat. Luas halamannya saja sampai ratusan meter persegi. Di bawah rumah ada bunker dan ruang parkir. Konon, Kang Badrun menyimpan uang tunai di salah satu sudut bunker. Itu karena Kang Badrun tidak mau mengenal bank.

Ihwal Kang Badrun suka cis dan tidak suka keju, kabarnya hal itu disebabkan karena untuk membalaskan dendam pada kemiskinannya.

Ya, Kang Badrun lahir dari keluarga sangat miskin pada hari Jumat Pahing 52 tahun yang lalu.

Kang Badrun lahir di bawah pohon pisang di kebun singkong, saat ibunya membantu suami tercinta, Mad Nduletak,  memanen singkong. Air ketuban sudah pecah. Sudah bukaan lima. Jabang bayi langsung mbrojol saat Mar Jemjem, ibu Badrun, terbaring di rerumputan.

Para tetangga kemudian berdatangan membantu Mar Jenjem, menggotongnya beramai-ramai pulang ke rumah. Bayi merah itu kemudian ditaruh di atas tampah (tampi, alat menampi beras). Mbah Dukun Bayi yang datang seperempat jam kemudian bergegas mengurus bayi. Tali ari-ari kemudian dipotong. Ari-ari kemudian dimasukkan kendi dan ditanam di depan rumah.

Bayi Mar Jemjem dinamakan dinamakan Badrun biar kelak bisa gagah perkasa seperti Bupati Badrun.

“Kamu nanti harus jadi pemuda tangguh, juara balapan kuda seperti Pak Badrun, lalu jadi Bupati!” kata Mad  Nduletak sambil menimang Badrun yang masih bayi.

Badrun memang akhirnya tidak menjadi juara balapan kuda atau jadi bupati. Tapi kekayaannya melebihi bupati karena cisnya mengalir dari mana-mana.

Kang Badrun tak doyan keju. Ia pelahap nomor wahid singkong rebus, gatot, tiwul, dan gethuk lindri.

Loading...