Beranda Ruwa Jurai Bandarlampung Citra Persada: “Fly Over” Membuat Wajah Kota Jadi Silang Sengkarut

Citra Persada: “Fly Over” Membuat Wajah Kota Jadi Silang Sengkarut

644
BERBAGI
Diskusi tentang jembatan layang di Lamban Sastra (Foto: Isbedy Stiawan ZS)

TERASLAMPUNG.COM — Akademikus Fakultas Teknik Unila, Citra Persada menyatakan pembangunan di kota-kota besar, termasuk Kota Bandar Lampung, belum berorientasi pada kenyamanan masyarakat. Menurut Citra yang ada sekarang, pembangunan masih berkutat pada upaya mengatasi kemacetan lalu lintas.

“Dalam jangka panjang, pembangunan yang hanya mengedepankan upaya mengatasi kemacetan, seperti flyover, justru semakin menjauhkan kenyamanan bagi masyarakat. Wajah kota jadi silang-sengkarut dengan jembatan layang dan papan-papan reklame yang menutupi view kota,” kata Citra, saat menjadi narasumber diskusi “Flyover : Kebutuhan atau Latah” yang diadakan oleh Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS di Kemiling, Bandar lmpung, Sabtu (11/3/17).

Diskusi yang juga didukung media online “Inilampung.com” dan Komunitas Gedongmeneng (KGM) menghadirkan pembicara dari Universitas Bandar Lampung (UBL) IB Ilham Malik dan Assiten II Ekobang Pemkot Bandar Lampung Pola Pardede. Hadir pula Asisten I Pemkot Bandar Lampung Sukarna Wijaya dan staf khusus Pemkot Bandar Lampung Rakhmat Husein.

Citra Persada menegaskan pembangunan pada hakikatnya adalah untuk kenyamanan para penghuninya, masyarakat yang tinggal di kota itu, termasuk mereka yang berkunjung atau datang ke kota tersebut, masyarakat yang sebagian besar didominasi mereka yang berekonomi menengah ke bawah.

“Mereka makin terpinggirkan karena adanya anggapan kumuh, rusuh, dan cap negatif lainnya. Sehingga, kota hanya nyaman bagi sebagian kecil warga yang mampu. Pelebaran jalan dan pembangunan jalan layang hanya membuat semakin nyamannya para pemilik kendaraan yang akhirnya semakin lama semakin banyak orang menggunakan kendaraan pribadi,” katanya.

Citra mengatakan pembangunan seharusnya justru mengedepankan kepentingan masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah tersebut. Salah satu yang perlu dipikirkan buat mereka adalah sarana transportasi untuk melakukan kegiatan dari satu tempat ke tempat lain yang nyaman dan murah.

Jakarta sudah mulai melakukanya, misalnya dengan penyediakan sarana transportasi umum yang nyaman dan murah, bus ravid transit (BRT), sedang dibangun monorel, kereta komuter, dan lainnya. Semua sarana angkutan umum tersebut terus ditambah dan dilebarkan hingga ke sudut-sudut kota.

Kota Bandarlampung sudah juga dengan mengadakan BRT. Namun, belum optimal. Masih banyak hal yang harus dilakukan pemerintah untuk menciptakan kenyamanan sarana transportasi bagi mayoritas masyarakat kota. Masih ada hampir seribuan angkot di Bandarlampung.

Selain angkutan umum, masyarakat juga membutuhkan trotoar atau pendestrian jalan. Sehingga, masyarakat nyaman berjalan kaki. Di Bandar Lampung, pendestrian, terkesan, masih seperti asesoris, bagus untuk difoto dari atas kendaraan.

Namun, untuk dijalani, masih jauh dari nyaman karena ukurannya yang kecil, sulit karena naik-turun, banyak terhalang parkir kendaraan, orang berjualan dan lainnya. Jika trotoar dibuat nyaman bagi pejalan kaki, banyak masyarakat yang akan menikmatinya.

Herman Batin Mangku/Inilampung.com