Covid-19 Belum Sedahsyat Pemanasan Global?

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial FKIP Unila

Semula fokus pembahasan bukan masalah seperti judul di atas; namun membaca satu artikel dari media masa dan dipertegas lagi oleh kiriman seorang sahabat yang mantan Dekan Fisip; saya menjadi berubah haluan; ternyata informasi itu mengingatkan pada seorang tokoh pada masanya yaitu Sarwono Kusumaatmadja yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia ke-2 (1993-1998). Jabatan terakhir beliau adalah Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim serta Staf ahli Kementerian Lingkungan Hidup.

Program beliau saat menjadi Menteri sangat jelas: orientasinya fokus pada penyelamatan lingkungan dan iklim global. Beliau menghargai upaya sekecil apa pun yang berkaitan dengan penyelamatan lingkungan, utamanya peningkatan pemanasan iklim global. Beliau menggandeng siapa saja; dari orang kampus sampai bapak tani penyelamat hutan, agar upaya yang dilakukan melibatkan semua elemen.

Sebagai salah satu sisa program beliau, salah satu kampus Perguruan Tinggi Negeri di Lampung tidak menganjurkan membakar sampah di dalam kampus karena akan menyumbangkan pemanasan global. Walaupun program itu akhir akhir ini tidak terdengar lagi. Sarwono Kusumaatmadja sudah lama mempraktikkan blusukan ke mana mana demi penyelamatan lingkungan, bahkan jauh sebelum jadi menteri beliau sangat aktif sebagai orang LSM yang sangat peduli lingkungan.

Menjadi seksi masalah ini justru disandingkan oleh seorang Menteri terkenal bukan bidangnya, membandingkan bahayanya Covid 19 dengan pemanasan global. Tentu saja menjadi tersentak: ada apa gerangan harus membandingkan yang bukan makomnya, walaupun kita semua paham bahwa efek rumah kaca memang dahsyat, dan efek dari covid juga dahsyat? Kedahsyatan keduanya bukanlah suatu perbandingan statistika, matematika, apalagi logika. Karena keduanya memiliki ontologi yang berbeda secara substansial.

Janganlah kita mencari pembenaran dari suatu kesalahan hanya karena ingin menutup kegagalan. Karena ucapan itu menjadikan pertanyaan baru apakah pembangunan jalan tol, bendungan yang melibas hutan lindung — semua sudah mendapatkan konversi? Jika sudah, di mana dan bagaimana keberlanjutannya? Belum lagi pertanyaa: apakah semua pembangunan itu sudah memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Jika sudah, mengapa masih ada daerah yang menolak, tetapi penyelesaiannya justru pengadilan? Apakah penyelesaian dengan musyawarah mufakat bukan juga bermakna mendengarkan usul dari bawah?

Tulisan ini bukan berarti tidak menyetujui pembangunan, akan tetapi meluruskan perjalanan dari suatu perjalanan bangsa adalah kuwajiban bagi anak bangsa itu sendiri. Oeh karena itu, diam bukan berarti setuju karena bisa jadi diam adalah bentuk protes paling akhir yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok orang dalam menghadapi sesuatu.

Pernyataan Covid-19 belum dahsyat jika dibandingkan dengan akibat dari pemanasan global tentu pernyataan ini melukai atau paling tidak membebani para keluarga yang sedang terkena Covid-19 atau keluarga yang telah kehilangan orang orang tercintanya karena Covid-19. Oleh karena itu, sebaiknya kita melihat Covid-19 ini secara jernih dan manusiawi dan membuat pernyataan yang bijak. Mungkin informasi yang akan disampaikan benar, tetapi jika disampaikan dengan cara yang salah, pada waktu yang salah, maka hasilnya pun akan salah. Menjadi lebih salah lagi jika itu disampaikan sekelas menteri.

Pada saat kondisi seperti sekarang ini dermawan harta penting, tetapi tidak kalah penting juga dermawan rasa. Karena ikut merasakan penderitaan orang lain atau berempati; juga suatu kuwajiban kemanusiaan. Oleh karena itu ada tiga hal yang sering beriringan dalam proses kehidupan ini; yaitu simpati, empati, dan peduli. Secara maknawi ketiga tadi adalah sebagai berikut: Orang yang bersimpati bisa diartikan sebagai orang yang berbagi keprihatinan dan belasungkawa namun mereka secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan langsung bagaimana perasaan mereka tentang kejadian tersebut.

Sedangkan empati artinya satu perasaan dimana seseorang benar-benar tahu perasaan dari suatu kejadian karena ia pernah berada dalam posisi itu. Simpelnya, orang yang bersimpati atas kehilangan seseorang yang dicintai, berarti ia merasa belas kasih dan prihatin atas kehilangan itu tanpa mengetahui pasti bagaimana rasanya kehilangan, sedangkan berempati berarti seseorang mengetahui perasaaan tersebut.

Perasaan simpati dan empati, keduanya merupakan hal yang penting karena dapat membuat anda menjadi seseorang yang penuh kasih yang dapat menawarkan kenyamanan dan dukungan yang relevan pada mereka yang membutuhkan.

Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.

Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Ketika ia melihat suatu keadaan tertentu, ketika ia menyaksikan kondisi masyarakat maka dirinya akan tergerak melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memperbaiki atau membantu kondisi di sekitarnya (diunduh: 29 Juli 2021 Pk.`4.30).

Mari kita berdoa semoga Ppndemi Covid 19 ini segera berakhir dan semoga para suhada pahlawan kemanusiaan, dan mereka semua yang menjadi korban Covid 19 ini mendapatkan surga janatunnaim. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kesabaran.
Mari kita berhenti berkomentar yang melukai perasaan mereka.***

 

  • Bagikan