Covid-19, Hidup Kita Bisa Dihapusnya dalam Sekejap

  • Bagikan
Dokter Handrawan Nadesul
Dokter Handrawan Nadesul

Oleh: Handrawan Nadesul*

Hidup kita dihapusnya dalam sekekap. Itu yang terjadi hari-hari ini. Mungkin juga esok. Bagai panas setahun dihapus hujan sehari. Hidup kita begitu saja bisa dihapus.

Puluhan tahun berjerih payah kita kumpulkan uang, harta, dan kuasa. Kita harumkan nama, menjadi orang besar. Covid menghapusnya sekejap. Tentang kita, hilang seketika.

Sebagus, sehebat, seperkasa apa kita, yang menyisa semangkuk abu. Yang orang ingat kebaikan kita. Mungkin saja kealpaan kita.

Di depan ganasnya Covid-19, yang hidup berlebih, dan yang hidup berkekurangan, sama-sama tak berdaya. Uang, harta, kuasa yang kita kumpulkan tidak bisa menolong kita. Siapapun kita. Terlebih yang sudah lemah. Tubuh kaum sepuh, pemikul kanker, kegemukan, diabetik, jantung, hipertensi, jangan sampai diberati oleh Covid.

Kita berpikir sudah ketat mematuhi prokes. Sudah lengkap vaksinasi. Sudah menahan diri di rumah saja. Tahu cara menjauhi area berisiko. Namun tanpa sadar masih ada celah virus masuk tubuh. Memilih-memakai-melepas masker ada ilmu dan tekniknya. Antisipasi virus musuh yang tak kelihatan itu ada siasat dan strateginya. Iptek ini yang kita perlukan.

Kita semua perlu tahu ihwal semua itu. Negara hadir mengedukasi. Kecolongan Covid-19 menerobos masuk tubuh, karena celah-celah berisiko, belum dipahami. Belum semua berhasil ditutup.

Akal sehat kita percaya pada upaya melindungi diri terbebas potensi tertular Covid. Nasib kita terkena Covid linear dengan daya upaya kita melindungi diri. Seberapa paham kita agar tidak tertular Covid. Seberapa kuat berpikir setiap masih adakah celah Covid berisiko masuk.

Covid masih bisa lolos masuk tubuh, mungkin lewat sekejap ketika buka masker di ruang publik. Saat sejenak bicara di hadapan entah siapa. Ketika masih ada orang keluar masuk rumah, bahkan kendati anak-mantu-cucu serta orang dekat yang kita kenal sajapun. Tak terlihat virus ada di mana-mana, bisa terbawa masuk rumah oleh orang sendiri yang masih bebas berada di ruang publik, kalau bukan oleh tamu.

Hanya bila semua peluang, semua celah, sehingga kita berpotensi tertular bisa kita tutupi, risiko tertular menjadi nihil. Kewaspadaan penuh harus ditujukan terhadap semua termasuk celah ini. Kalau sampai kita tertular juga, berarti kita belum penuh menutupi celah virus bisa lolos menerobos memasuki tubuh kita.

Bersyuklur kalau kita kena Covid tergolong yang lebih 90 persen kasus menyembuh sendiri (self limiting). Apes bila status Covid kita tergolong kasus berat atau kritis. Konyol rasanya hidup kita, ancaman yang bikin terhapus hidup kita sudah di ujung tanduk, kejadian yang sebetulnya tidak perlu terjadi kalau kita lebih penuh berdaya upaya. Pada saat-saat inilah tak ada pilihan, kita hanya bisa minta tolong kepada Yang Maha Welas Asih.

Salam sehat!

*Dr. Handrawan Nadesul adalah seorang dokter, kolumnis, dan sastrawan

  • Bagikan