Beranda News Review Covid-19, Ketahanan Pangan akan Jadi Masalah Sangat Serius

Covid-19, Ketahanan Pangan akan Jadi Masalah Sangat Serius

205
BERBAGI
Peratin Sumber Agung, Joko Purnomo, membagikan masker gratis kepada warganya.

TERASLAMPUNG.COM — Jika pandemi virus corona atau Covid-19 di Indonesia tidak segera berakhir, ketahanan pangan akan menjadi persoalan yang sangat serius. Meskipun di sejumlah daerah di Indonesia kini sedang panen padi, banyak petani yang menahan gabahnya sambil menunggu harga gabah atau harga beras naik.

Jika hal itu berlangsung terus, warga kota bisa kekurangan pasokan beras. Cara mudahnya, pemerintah akan mengimpor beras. Namun, dari mana beras itu akan diimpor di tengah situasi sulit yang juga dihadapi negara-negara penghasil beras?

“Negara penghasil beras seperti Thailand dan Vietnam juga sedang menghadapi virus corona. Apa mau mereka mengekspor beras,” kata Budi Kurniawan, staf pengajar FISIP Universitas Lampung.

Itulah salah satu benang merah diskusi online Teraslampung.com bekerja sama dengan Jalin Krakatau, Minggu malam lalu (19 April 2020).

Joko Purnomo, Peratin (Kepala Desa) Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Tanggamus mengatakan selama pandemi Covid-19 stok pangan di kampungnya cukup. Apalagi, kata Joko, saat ini para petani sedang panen padi.

“Warga desa yang baru pulang dari merantau, kalau mereka kekurangan beras akan kami pasok beras,” kata Joko.

Joko mengaku para petani saat ini masih banyak yang menahan gabahnya sambil wait and see, menunggu keadaan dan harga gabah membaik.

Soal karantina mandiri bagi para perantau yang mudik ke kampung selama pandemi Covid-19, kata Joko, pihaknya sudah melakukan mendataan. Hanya saja, kata Joko, sejauh ini tidak ada pemantauan terhadap mereka apakah warga yang pulang kampung dari daerah merah penyebaran virus corona itu benar-benar melakukan karantina mandiri secara benar atau hanya sekadar tinggal di rumah dan tetap membaur dengan anggota keluarga lain.

“Tapi soal sembako, kami sudah menyiapkan untuk mereka yang membutuhkan,” katanya.

Terkait gabah yang ditahan para petani, Budi Kurniawan mengusulkan agar pemerintah mengambil langkah taktis yang menjadi win-win solution.

“Misalnya, pemerintah membeli gabah atau beras petani dengan harga lebih tinggi, sehingga tidak perlu mengimpor beras.  Bagi petani, lama menahan gabah juga nggak bagus. Nanti kalau pemerintah mengimpor beras, petani akan rugi juga,” kata Budi Kurniawan.

Oyos Saroso H.N.

Loading...