Beranda Views Kopi Pagi Covid-19 Sebagai Omnibus Kesehatan

Covid-19 Sebagai Omnibus Kesehatan

148
BERBAGI
Moh Shobirienur Rasyid/Foto: Istimewa

Oleh: Moh Shobirienur Rasyid

Ahmad R. Utomo, Ph.D., adalah seorang ahli biologi-molekuler. Ia berkata pada satu sesi Forum Group Discussion (FGD) daring, “Covid-19 itu sebenarnya tidak merusak kesehatan, tapi membongkar kesehatan yang rusak.” Kata-kata ini mengesankan buat saya, dan terngiang-ngiang untuk masa yang lama sesudah usai FGD itu.

Saya tidak hendak menguji kebenaran kalimat itu, karena saya sangat awam dalam bidang kesehatan dan biologi. Pun tidak hendak menelusi banyak hal dalam tulisan pendek ini. Saya hanya ingin menelisik kata “virus”untuk memperkaya pemahaman saya.

Frasa “membongkar kesehatan yang rusak” dan “tidak merusak kesehatan” itu saya rasakan bermakna positif. Bila Virus Corona itu bekerja sebagai “pembongkar kesehatan yang rusak”, ia bekerja laksana polisi melakukan investigasi. Keberadaannya diperlukan untuk mengetahui level “kerusakan kesehatan”, bukan untuk membuat agar “kesehatan tidak rusak”. Apalagi menjadi penyebab penyakit bagi makhluk hidup lain.

Faktanya, orang-orang banyak yang ketakutan. Tak terkecuali dokter dan pekerja di bidang kesehatan. Bahkan pemerintah dan negara juga mengalami ketakutan terhadap investigator kesehatan ini. Apa yang salah dengan Covid-19?

****

Kata “virus” yang ditakuti banyak orang pada akhir-akhir ini, berlawanan dengan kata “viral” yang justru digandrungi banyak orang. Padahal,keduanya berpangkal dari akar kata yang sama. Dari kata benda “virus” dibentuk kata sifat “viral” yang menunjuk pada sifat sesuatu yang mudah tersebar semudah menyebarnya virus. Kata “virus” sendiri, secara denotatif menunjuk pada mikroorganisme yang menjadi penyebab atau pembawa penyakit pada makhluk hidup.

Serupa dengan beberapa jenis bakteri dan jamur, virus merupakan jenis mikroorganisme yang dapat membuat rusaknya kesehatan manusia. Ketika zaman internet berkembang, kata virus mendapat makna konotatif yang menunjuk pada program komputer illegal yang mudah menyebar dan dapat menyebabkan rusaknya sistem operasi komputer atau program komputer yang ada. Bila virus mikroorganisme dapat dilawan dengan vaksin, maka virus program illegal dapat dilawan dengan program antivirus.

Sebagai mikroorganisme penyebab penyakit, kata “virus” dalam rasa bahasa saya menjadi bernuansa negatif. Dalam pemahaman saya sebagai orang awam, virus Corona itu ibarat benalu yang menempel pada inang. Relasi keduanya lebih sebagai bentuk “parasitisma” (merugikan), daripada sebagai “komensalisma” (tidak saling merugikan), apalagi “mutualisma” (saling menguntungkan). Bila tubuh tidak kebal, sebagai parasit, virus Corona bisa datang sebagai takdir penjemput kematian bagi seseorang.

Setidaknya, sebagai pembongkar kesehatan, virus Corona ini semacam “omnibus” dalam kesehatan. Omnibus kesehatan itu mampu mengkompilasi beberapa penyakit menjadi satu dan mempercepat dampak pada penurunan kesehatan hingga menjadi penyebab kematian seseorang.

***

Saya jadi terkenang pada penggalan sebuah syair yang sering dinyanyikan ketika wisuda:

“Vita nostra brevis est, brevis finietur.
Venit mors velociter, rapit nos atrociter, nemini parcetur!”

(Hidup ini pendek, dan cepat berakhir. Kematian datang dengan cepat, dengan kejam mencengkeram, tak seorang pun dapat lolos!).

*Moh Shobirienur Rasyid adalah seorang guru

Loading...