Cut Meutia dan Saya

  • Bagikan
Cut Nyak Meutia (dok/ist)

Oleh: Dara Meutia Uning

Perkenalan saya dengan Cut Nyak Meutia berawal dari nama. Dari empat bersaudara, hanya nama saya yang tak menggunakan nukilan dari bahasa Arab. Saya cemburu karena nama saya terkesan amat ‘duniawi’. Seolah-olah saya kurang didoakan.

“Papa berniat, kalau punya anak perempuan akan diberi nama ‘Meutia’,” kata Mama mengutip Papa, “seperti nama nenek Papa.” Waktu itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Mama bilang, nenek Papa amat pemberani.

Ketika kami kecil, Papa pernah membelikan buku-buku cerita tentang pahlawan nasional. Salah satunya tentang Cut Meutia. Tapi, seingat saya, Papa tak pernah menyebut kalau Cut Nyak Meutia itulah nenek beliau. Saya pikir, kebetulan saja nenek saya bernama Meutia, mirip dengan pahlawan itu.

Kira-kira ketika saya SMP, Papa tiba-tiba memajang foto seorang laki-laki yang tampak asing di ruang tengah. Wajahnya amat mirip Papa. Laki-laki di foto itu, Teuku Radja Sabi, putera semata wayang Cut Nyak Meutia. Ayah kandung Papa. Papa bilang, dia baru temukan foto itu di salah satu buku yang mengisahkan tentang Cut Meutia. Papa tak ingat wajah ayahnya karena beliau meninggal dunia ketika Papa berusia tiga tahun.

Setengah tak percaya, saya segera lalap buku yang Papa maksud. Di buku itu tertera silsilah. Nama Papa tercatat sebagai salah satu cucu Cut Meutia. Setengah tak percaya awalnya. Tapi, mendengar penjelasan dari paman, bibi, dan sepupu-sepupu yang tinggal di Aceh, akhirnya mau tak mau saya terima saja kenyataan itu.

Beberapa teman dekat, pernah saya beritahu. “Pantesan, Dar, elo bawaannya pengen perang melulu,” seloroh salah satu teman saya. Saya hanya cengengesan.

Keturunan pahlawan? Mimpi saja tak pernah. Terus terang saya tak ingin gembar-gembor dengan kenyataan itu. Bukan begitu cara Papa membesarkan kami. Karena itu, kehidupan kami pun bergulir seperti biasa.

  • Bagikan