Cut Meutia dan Saya

  • Bagikan
Cut Nyak Meutia (dok/ist)

Sejak itu, saya selalu penasaran dengan sosok Cut Nyak Meutia dan perempuan Aceh. Buku-buku Papa tentang Aceh, saya baca dengan tekun. Delapan tahun lalu, waktu saya mengadakan penelitian di Aceh tentang para mantan kombatan perempuan alias ex pasukan inong balee, perpustakaan Ali Hasjmy di Banda Aceh juga saya datangi.

Dalam berbagai bacaan itu, Cut Nyak Meutia senantiasa digambarkan dalam bentuk yang amat ideal. Terutama dalam buku terbitan lokal. Namun, pujian yang ditujukan pada perempuan kelahiran 1870 itu juga dikutip dari tulisan dan laporan prajurit Belanda.

BACA: Gara-Gara Cuitan “Pahlawan Kafir”, Dwi Estiningsih Dilaporkan ke Polisi

Tapi, bagi saya, Cut Nyak Meutia memberi kesan mendalam dalam beberapa hal.

Pertama, dari sejarah pernikahannya. Cut Meutia tercatat menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan Teuku Syamsarif adalah hasil perjodohan—hal yang lazim dalam adat istiadat Aceh di kalangan bangsawan pada saat itu. Namun, suami pertamanya itu lebih condong dan kooperatif dengan Belanda. Cut Meutia tak suka, sehingga perceraian tak terelakkan. Cut Meutia kemudian menikah dengan adik mantan suami pertamanya, yakni Teuku Muhamad, atau yang lebih dikenal sebagai Teuku Cik di Tunong. Suami keduanya anti Belanda dan aktif berjuang melawan pendudukan Belanda.

Setelah suami keduanya gugur karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati, Cut Meutia menikah lagi dengan Pang Nangroe—tangan kanan suaminya dalam perjuangan. Pernikahan itu adalah wasiat almarhum Teuku Cik di Tunong—demi kelanjutan perjuangan melawan Belanda. Setelah lama menimbang, walaupun banyak uleebalang siap meminang dirinya, Cut Nyak Meutia memilih untuk mengikuti wasiat suaminya itu. Keputusan menikahi pria bukan dari kalangan bangsawan itu, amat tidak lazim. Toh, dia bersiteguh dan kembali bertempur dengan suami ketiganya di hutan dan pegunungan—mengabaikan ajakan Ibu Mertua dan iparnya agar menyerah dan ‘hidup tenang’ tanpa berperang lagi.

Menurut saya, itu menunjukkan Cut Nyak Meutia itu perempuan yang berjiwa merdeka. Dia memilih untuk menikahi laki-laki berdasarkan ideologi dan komitmennya pada perjuangan. Istilah saya, ente lembek dan menye-menye pro-Belanda, gue tendang! Dia amat percaya diri dan lebih nyaman dengan pilihannya sendiri, meski harus hidup susah di hutan. Menikah dan hidup nyaman ketika kemerdekaan terpasung karena dikontrol penjajah, bukan pilihan hidupnya.

Kedua, Cut Nyak Meutia adalah perempuan cerdas dan tangguh. Dia dibesarkan ketika Masjid Raya Banda Aceh baru saja dibumihanguskan Belanda pada 1873. Perlawanan rakyat Aceh sedang membara, sehingga tak heran, di usia belia, perempuan ini telah belajar cara berperang. Keahliannya dalam berperang mumpuni. Bukan hanya sekadar mengatur strategi, tapi juga lihai bela diri dan menggunakan senjata. Dia bukan tipe perempuan yang hanya bertindak di belakang layar (misalnya, ‘cuma’ mengatur strategi atau mengurus anak atau logistik di garis belakang), tapi dia juga aktor utama dalam pertempuran di garis depan, yang tak kalah vital perannya bagi moral pasukan.

Di Aceh, laki-laki dan perempuan saling membantu dalam pertempuran melawan Belanda. Hal itu dicatat dengan detail oleh para prajurit Belanda. Menurut mereka, perempuan Aceh turun ke medan pertempuran dengan semangat yang mengalahkan lelaki. Kemampuan mereka dalam bertempur juga bukan main-main. Karena itu, saya tak percaya, kalau Cut Meutia hanya duduk-duduk mengajar mengaji sambil menanti suaminya pulang perang di persembunyian dalam hutan.

Lho? Kan dia punya anak? Selama Cut Meutia hidup di hutan, literatur yang saya baca menyebutkan, Teuku Raja Sabi, putera semata wayangnya, diasuh dan dibesarkan oleh para lelaki maupun perempuan dalam pasukan pimpinan ibunya. Mulai dari ulama yang menjadi guru mengaji hingga guru bela diri. Jadi, kalau jaman sekarang, ibu-ibu lain pamit berangkat kerja, pergi mengaji atau berdagang, Cut Nyak Meutia pamit untuk pergi berperang. “Dan jika Ibu tak kembali, tugas kamu selanjutnya melanjutkan perjuangan kami,” begitulah senandungnya ketika menidurkan anak tunggalnya itu.

  • Bagikan