Cut Meutia dan Saya

  • Bagikan
Cut Nyak Meutia (dok/ist)

Ketiga, Cut Nyak Meutia membuktikan bahwa perempuan dapat memberi banyak hal bagi bangsa, tanpa harus dibatasi oleh aturan dan norma yang mengungkung. Perempuan dinilai dari apa yang telah disumbangkan bagi kepentingan orang banyak. Dari pengorbanan dan pengabdiannya kepada rakyat. Bukan dari pakaian atau perhiasan yang dikenakan, bukan dari harta yang dimiliki, apalagi kedudukan.

Cut Nyak Meutia dipaparkan lebih sering tinggal di hutan pergi berperang ketimbang hidup di kampung. Dia meninggalkan hidup yang nyaman sebagai bangsawan, dan melepaskan segala atribut yang menyertainya. Dia mengorbankan dua suaminya. Dan dia juga merelakan nasib anak tunggalnya ketika dia memilih untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.

Perilaku dan tingkah lakunya itu membuat rakyat amat mencintainya. Sosoknya menjadi legenda. Bahkan tak sedikit kisah tentang dirinya menjadi mitos.

Saya selalu terbayang pertempuran terakhirnya. Mosselman, komandan pasukan yang menyerbu persembunyian Cut Meutia dan pasukannya di hulu Krueng Putoe pada 25 Oktober 1910 itu, memberikan gambaran detail. Cut Meutia memimpin pasukan dengan rambut tergerai dan teriakan komando melengking. Perlawanannya tak mengendur meski dirinya telah terkepung dan seluruh pasukannya telah gugur. Perintah menyerah senantiasa disambut dengan terjangan ke arah para pengepungnya, dan memakan nyawa dua tiga serdadu.

Peluru yang menembus kepala dan dadanya akhirnya menghentikan perjuangannya. Jenazahnya dimakamkan dengan takzim, meski dalam keterbatasan, oleh pasukan Belanda yang mengalahkannya. Mereka memberi penghormatan militer pada Cut Meutia karena perlawanannya yang gagah berani.

Perempuan pemberani itu, nenek buyut saya. Dia pahlawan kita.

  • Bagikan