Beranda Views Kopi Sore Dahlan

Dahlan

406
BERBAGI
Puthte EA*
Saya tidak kenal Dahlan Iskan. Tidak pernah bertemu muka dengannya. Tidak pernah punya hubungan bisnis dengannya. Dahlan Iskan juga bukan idola saya.
Hari ini Dahlan Iskan menjadi tersangka. Silakan browsing sendiri kasus yang membuatnya menjadi tersangka.

Di dunia ini, penjara kadang tidak ada urusannya dengan benar atau tidak. Hampir semua orang yang saya kagumi pernah dipenjara.
Saya sedikit banyak telah mengenal beberapa tipe pemimpin yang saya alami sendiri, saya perhatikan dari dekat, dan saya rasakan. Memang beda antara pemimpin yang baik dan yang tidak. Dan hal itu tidak ada hubungannya dengan apakah pemimpin itu ‘cuma’ menjadi pemimpin geng atau karang taruna. Banyak sedikit orang yang dipimpin hanya soal kuantitas belaka. Bahkan mungkin hanya soal waktu saja. Hari ini dia memimpin karang taruna, bisa jadi tahun depan dia sudah memimpin sebuah kabupaten atau jadi Gubernur.
Saya banyak tahu pemimpin yang ketika ada masalah mengorbankan anak buah mereka. Saya juga kenal beberapa orang pemimpin yang baru memimpin kelompok kecil saja sudah bergaya seperti juragan besar. Ada juga pemimpin yang jika ada persoalan, tidak pernah hadir bersama anak buahnya untuk bersama menghadapi persoalan itu. Bahkan saya juga tahu ada pemimpin yang jika kelompoknya kena masalah, dia merasa di luar masalah itu. Menurut saya, mereka itu pemimpin-pemimpin palsu. Pemimpin-pemimpin yang bukan saja tidak berguna, tapi seandainya mereka tidak memimpin, mungkin dunia akan lebih baik.
Dahlan Iskan bisa jadi keliru. Tapi pemimpin yang keliru karena mengambil keputusan, bagi saya lebih terhormat dibanding pemimpin yang tidak pernah atau takut mengambil keputusan. Dan Dahlan Iskan langsung bilang: Dia bertanggungjawab. Tidak lari dari persoalan. Begitulah seharusnya pemimpin.
Saya tidak kenal Anas Urbaningrum. Tidak pernah punya hubungan bisnis dengannya. Dia bukan idola saya dan beberapa manuver politiknya bahkan saya tidak suka. Tapi saat dia datang sendiri ke KPK dengan menyatakan, “Pada akhirnya saya yang akan menghadapi semua ini sendirian.” Maka di situlah saya menundukkan kepala. Hormat.
Begitu juga dengan Dahlan. Saya ingin menjadi saksi, sampai di mana kisah ini akan berakhir.

* Sastrawan

Loading...