Dai Pawang Hujan

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Endri Kalianda

HEBOH aksi pawang hujan Rara di sirkuit Mandalika, sudah berlalu. Tapi, semua orang di republik ini pasti punya kenangan atas hal itu. Pada aktivitas model itu.

Waktu kecil, saya sering lihat ibu-ibu membalik sapu lidi di pelataran rumah. Di ujung sapunya, ada cabe merah, hijau, rawit juga. Lalu ada bawang merah dan putih, ditusuk menghadap langit.

Itu penangkal hujan, agar gabah yang dijemur, kering.

Saat kanak-kanak, saya juga pernah ikut ramai-ramai di belakang pawang hujan. Ketika ada hajatan. Pesta pernikahan. Apalagi jika malamnya ada hiburan, baik layar tancap, organ, video, atau wayang. Wajib ada pawang hujan. Seingat saya, dulu, sejak siang, mendung gelap. Mulai ada suara guntur di kejauhan. Jelang asar, gerimis mulai datang. Pawang hujan ke belakang rumah yang sedang hajatan. Para tetangga yang membantu masak, mulai kasak-kusuk. Mulai bergosip. Ada yang mengirim. “Ana sing ngirim.

Pawang hujan mengomel, empunya rumah jangan buang hajat di sumur dan toilet sendiri, biar pagarnya tidak rusak. Lalu kakek tua berblangkon itu, menebar-nebar garam ke langit di belakang rumah empunya hajat. Petir menggelegar. Bersahut-sahutan. Hujan lebat turun. Sebentar saja. Matahari sore bersinar kuning. Pasca hujan.

Itu aneh dan orang-orang mulai tersenyum. Nanti malam bisa nonton video. Empunya hajat mengelus dada. Lega. Pawang hujan dikagumi. Dipuja-puji.

Hajatan di kampung kami, baik sunatan maupun kawinan, berarti mengadu peruntungan. Modalnya besar namun bisa untung. Sebab, banyak orang kondangan. Berarti banyak amplop yang diterima. Jika hujan, alamat bangkrut. Belanjaan bahan pesta ketika hajatan, pasti hutang dari toko kelontong di pasar. Tak ada yang kondangan berarti tanpa amplop. Hutang menumpuk. Dari situ awal sawah atau pekarangan rumah terjual.

Siapa saja yang hajatan, orang sekampung bisa tahu. Untung apa buntung. Memang ada yang tak pakai pawang hujan waktu hajatan. Terkenal. Semacam ada postulat, tidak ada yang hajatan untung tanpa pakai pawang hujan. Semacam keajaiban dan keberuntungan langka.

Jelang remaja, saya mulai nakal dan pernah ketakutan. Sebab, di pojok-pojok rumah empunya hajat, selalu ada sesaji. Ditakir daun pisang, berisi beberapa batang rokok, telur ayam, bunga setaman, dlsb. Saya ambil telurnya. Teman saya langsung menyucup kuning telur mentah itu. Pecahan uang logam lima puluh perak di takir sesaji itu, saya belikan es tung-tung. Baru mulai melumat, dar. Klelap-klelap. Dar. Petir meledak tiba-tiba di panas terik. Saya lari pulang ke rumah. Meringkuk di bawah kolong sampai tertidur. Bangun sudah waktu magrib. Bingung.

Baru setelah lewat bertahun-tahun kemudian, bisa cerita sambil tertawa-tawa. Sebab, ada dai yang baru populer di kampung kami. Terkenal, diundang ceramah kemana-mana. Penjuang mie ayam itu, entah kenapa tiba-tiba pandai ceramah agama. Jadwalnya mengisi pengajian-pengajian akbar di banyak lokasi, sangat padat.

Sampailah dai terkenal dari kampung kami yang hanya jual mie ayam dengan mendorong gerobak itu, diundang perusahaan perkebunan. Diminta doa agar turun hujan demi kelangsungan perusahaan yang mulai dirugikan oleh kemarau berkepanjangan. Selain perkebunan sulit menumbuhkan tanaman, rawan kebakaran.

Pengajian besar di perusahaan itu, berubah jadi banyak derai air mata. Ribuan jamaah dari karyawan dipimpin sang Dai, menangis.

Dan, ciluk ba! Hujan lebat turun bahkan sebelum pengajian di perusahaan itu bubar.

Dai itu, langsung disalami bos besar. Diberi amplop tipis. Diantar pulang pakai mobil yang lebih mewah dibanding mobil jemputan.

Sang Dai sempat berpikir, bagaimana mungkin ceramah di pengajian besar disertai doa sambil nangis-nangis, hanya diberi amplop selembar uang. Setengah tak percaya, bercampur jengkel. Ternyata di dalamnya, bukan uang. Melainkan selembar kertas dengan logo bank. Seperti kuitansi. Tulisan tangan, latin yang buruk, tak terbaca. Kebetulan di dekat rumahnya, di pojok memarkir gerobak mie ayam jualannya, ada kantor capem Bank BRI. Dia masuk, menanyakan. Kasir bertanya. “Apa mau diambil semua?”

Dia kaget, ternyata ke luar dari bank, bawa kantong kresek hitam tebal, berisi uang dua ratus juta. Dai itu akhirnya berhenti ceramah keliling. Tak terkenal lagi. Juga tak jual mie ayam lagi. Kini beliau lebih dikenal sebagai pemilik travel umroh, haji plus, sampai punya bus khusus untuk ziarah makam wali. Beliau juga punya ponpes sendiri.

Saya hanya mau bilang, pawang hujan ada yang tetap melarat dengan tinggal di rumah gribik di pojok desa. Ada yang super terkenal mirip Rara. Juga jadi super kaya model sang Dai.

Dulu, zaman sering lihat acara di Lapangan Korpri atau pentas musik di lapangan Saburai, juga ada pawang hujan langganan pejabat Pemprov maupun EO. Selalu dia, lelaki kurus berkumis tebal itu.

Jadi, pawang hujan sebenarnya profesi menjanjikan. Bisa terkenal, juga bisa kaya. Anda tertarik?

Kalau ada kursus, mungkin saya mau ikut kelas khusus jadi pawang hujan itu. Dan teman-teman saya yang kebanyakan Muhammadiyah, makin tertawa. Terkial-kial. Asu. (*)

You cannot copy content of this page