Beranda Views Opini Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terhadap Penerbangan dan Pelayaran

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terhadap Penerbangan dan Pelayaran

877
BERBAGI
Semburan vulkanik Gunung Anak Krakatau (dok)

Oleh Ramadhan Nurpambudi
Prakirawan BMKG Lampung

Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda belum lama ini telah mengalami erupsi. Laporan dari pos pengamatan PVMBG debu vulkanik yang teramati terbang ke atmosfer setinggi 1.000 meter dari atas puncak kawah sedangkan dari permukaan laut setinggi 1.305 meter. Gunung Anak Krakatau mulai berstatus Gunung Api aktif sejak tahun 2012 dengan tingkat II yaitu Waspada.

Dengan status aktifnya ini, Gunung Anak Krakatau ini bisa kapan saja terjadi erupsi. Namun untuk saat ini menurut para ahli tidak akan terjadi letusan dahsyat seperti tahun 1883 silam. Setiap tahunnya Gunung Anak Krakatau masih bertambah tinggi sekitar 4 – 6 meter. Erupsi yang terjadi kemarin energinya tidak besar dan merupakan hal yang biasa terjadi.

Erupsi tersebut tidak membayakan selama masyarakat berada di luar radius yang telah diberi warning yaitu 1 km. Sejak tanggal 18 Juni 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami peningkatan, ada pergerakan magma yang keluar sehingga menyebabkan terjadinya erupsi.

Dampak yang ditimbulkan akibat dari erupsi Gunung Anak Krakatau ini tidak sampai menutup lalu lintas penerbangan yang ada di Bandara Radin Inten Lampung karena jaraknya yang cukup jauh. Hanya saja menurut pihak ATC Bandara Radin Inten selaku yang mengatur jalur penerbangan pesawat merubah jalur pesawat yang melintasi area Gunung Anak Krakatau melalui jalur alternatif.

Status Erupsi Gunung Anak Krakatau untuk wilayah penerbangan adalah orens. Dimana arti dari kode orens ini adalah tidak diperkenankan melewati wilayah area Gunung Anak Krakatau sampai ada pembaharuan informasi terkait status Gunung tersebut. Lalu lintas penerbangan terpantau lancar selama ada erupsi kemarin.

Debu vulaknik yang terbang ke atmosfer sedikit sulit untuk diamati karena wilayah Lampung yang sudah hampir seminggu ini banyak turun hujan mulai pagi hingga malam hari. Beruntungnya letak Gunung Anak Krakatau ini di lautan sehingga debu yang terbang ke atmosfer tidak ikut turun ke daratan melalui hujan karena pergerakannya ke arah selatan menjauhi wilayah Lampung.

Dampak untuk pelayaran juga tidak mengalami gangguan, kapal-kapal tetap bisa melalukan penyebarangan secara normal. Kami dari BMKG menghimbau untuk tidak melakukan liburan ke arah kawah Gunung Anak Krakatau sebab status Gunung ini adalah aktif dan kita tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi erupsi, akan sangat berbahaya jika kita pergi berlibur ke tempat yang sangat mengancam keselamatan kita sendiri terlebih jika membawa keluarga.

Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan berita hoax yang akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Banyak berita yang masuk ke kami bahwa pada jam sekian akan terjadi gempa yang akan menjadi tsunami, namun masyarakat sudah sangat baik dengan mengkonfirmasi kepada BMKG apakah benar berita ini ataukah tidak. Kami dari BMKG terbuka selama 24 jam untuk komunikasi di nomer 0816-404-333. Terus pantau berita yang dikeluarkan oleh BMKG, siap selamat bersama BMKG.

Loading...