Beranda Teras Berita “Dang Telayau”, Film Pertama Berbahasa Lampung

“Dang Telayau”, Film Pertama Berbahasa Lampung

582
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Menara Lampung Production (MLP) kembali membesut film. Ini kali bertajuk “Dang Telayau”. Produksi ketujuh MLP ini naskahnya ditulis Syaifil Irba Tanpaka. Syaipul juga bertindaj sebagai sutradara.

Untuk memenuhi 100 persen berbahasa Lampung, sang sutradra menggaet para pemain yang piawai berbahasa Lampung. Mereka adalah Aan Ibrahim, A.M. Zulqornain Ch., Suntan Purnama, Sutan Dermawan, dan Ratu Angguan.

“Selain itu, aku juga menggaet Susi Ratu Belia, Andrian Sangaji, dan Maysari Berty,” ujar Syaiful Irba Tanpaka di lokasi syuting  di Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Sabtu (9/8) siang.

Dijelaskan Syaiful, karya filmnya ini adalah sinema pertama menggunakan 100 persen bahasa ibu (bahasa Lampung). Menurut Syaiful, sebelumnya memang pernah ada sinema berbahasa Lampung, tetapi hanya beberapa adegan  saja.

“Kalau Dang Telayau’ ini dari pertama hingga terakhir menggunakan bahasa ibu. Tapi, untuk penonton umum akan kami tambahkan teks terjemahan,” kata dia.

Pengambilan gambar sudah dimulai pada Sabtu (9/8) di kampus Universitas Lampung dan rumah adat di Hajimena , Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Diharapkan film ini selesai cepat, dan bisa disaksikan oleh masyarakat Lampung.

Syaiful mengaku  film “Dang Telayau” dimaksudkan untuk mengembalikan marwah bahasa Lampung yang saat ini kurang diminati terutama oleh generasi muda. “Kalau bahasa Lampung tidak dimasyarakatkan, saya khawatir seperti diprediksi seorang pakar, bahasa Lampung akan hilang karena tak ada pemakainya. Nah, saatnya kita memasyarakatkan lagi, jangan malu berbahasa Lampung,” ujarnya.

Menurut Syaiful, karyanya kali ini digarap dengan semangat bahwa bahasa Lampung harus dikenalkan ke khalayak luas. “Modal kami hanya semangat, keberanian, dan kecintaan pada kebudayaan, dalam hal ini bahasa. Jadi, boleh dibilang semua pemain tak berhonor,” ujarnya.

“Dang Telayau” atau “Jangan Terlena”  mengisahkan Ali (Rajo Pesawik) berasal dari Lampung Pepadun yang memiliki istri perempuan bernama  Mandok asal Lampung Saibatin. Pernikahan mereka dikarunia dua orang anak yang sudah remaja, yakni Ratu dan Intan.

Keluarga Ali hidup sederhana sebagai petani di desa. Di rumahnya juga ada mertua Ali, perempuan yang teguh pada tradisi (adat).

Pada suatu hari, di sebuah masjid, seorang lelaki yang sudah tak peduli lagi pada adat. Lelaki ini menghujat orang Lampung yang masih mempertahankan budaya, terutama bahasa. Ternyata lelaki tersebut sudah terkontaminasi oleh budaya luar atau Lampungnya sudah “cadang”.

Berkat ketokohan Rajo Pesawik, lelaki ini pun kembali mencintai budaya:  menggunakan bahasa Lampung, kendati di hadapan etnis-etnis lain.

“Lampung hanya satu, tak ada Saibatin ataupun Pepadun. Seperti dialami keluarga Rajo Pesawik. Mereka bisa hidup rukun, dan menggunakan bahasa Lampung yang satu,” kata  Syaiful Irba Tanpaka.

Loading...