Beranda Views Kisah Lain Dari ‘Klakson Oto Gumarang’ ke “Om Telolet Om!”

Dari ‘Klakson Oto Gumarang’ ke “Om Telolet Om!”

605
BERBAGI
Ilustrasi Telolet (1cak.com)

Oleh Suryadi Sunuri*

Orang Indonesia tidak berhenti ‘didera’ oleh suara modern (modern sound) atau suara mekanik (mechanical sound). Di zaman lampau, sekitar sedekade setelah Prof. Douglas Archibad dari Inggris memperkenalkan phonograph di Jawa di tahun 1892, yang menimbulkan skandal di dunia pers di Hindia Belanda, umat Islam Nusantara merasa sangsi dan takut berdosa ketika mendengar rekaman Al-Quran dalam piringan hitam yang pertama kali diproduksi secara komerisial di pergantian abad 19 dan abad 20.

Karena desakan pertanyaan dari umat, Sayyid Uthman, ulama karismatik di Batavia, dan Syekh Zawawi, ulama Arab yang terpaksa mengungsi ke Melaka karena dimusuhi di negeri asalnya Saudi Arabia sana, harus bertanya kepada rekan-rekan dan patron mereka di Kairo terlebih dahulu sebelum mengeluarkan fatwa mengenai berdosa atau tidaknya umat Islam Melayu-Nusantara mendengarkan rekaman Al-Quran dalam piringan hitam.

Sejak itu, suara modern atau suara mekanik selalu menimbulkan ‘masalah’ di negeri ini. Jika di awal abad 20, Pemerintah Kolonial Inggris di Singapura pernah mengeluarkan peraturan untuk melarang orang membunyikan gramophone setelah jam 9 malam, maka pada hari ini penguasa juga risih mendengar suara azan yang dikumandangkan dari mesjid dengan memakai mikrofon.

Namun demikian, suara modern atau suara mekanik yang kadang menimbulkan iritasi itu, tetap disukai, menjadi atraksi dan telah terintegrasi ke dalam soundscape kota-kota Indonesia, bahkan juga sampai ke wilayah pedesaan. Ingatlah ‘bius’ bunyi radio di Hindia Belanda dan Hindia Inggris di tahun 1930an dan 40an, sebagaimana terefleksi dalam banyak roman Indonesia yang terbit semasa. (Mengenai hal ini saya menulis sedikit di sini: Suryadi, ‘The image of radio technology in modern Indonesian literature’, dalam: Lalita Sinha (ed.), Rainbow of Malay literature and beyond: festschrift in honour of Professor Dato’ Dr. Md. Salleh Yaapar, pp. 124-160. Penang: USM Press, 2011).

Sejak minggu ini, istilah “Om telolet Om!” menjadi viral di medsos. Yang kita lihat adalah: anak-anak kecil dan kadang-kadang juga para bujang tanggung yang iseng berdiri di pinggir-pinggir jalan (mudah-mudahan tak lupa pergi sekolah) yang meminta para sopir bus membunyikan klakson busnya secara berirama.

Mungkinkah ini semacam ‘klep’ katarsis sementara dalam menghadapi sulitnya kehidupan? Entahlah! Akan tetapi ketika saya melihat postingan-postingan “Om teolet Om!’ di internet, saya teringat dengan fenomena KALASON OTO GUMARANG yang justru lebih mendayu-dayu dan juga ‘viral’ di Minangkabau dan sekitarnya di tahun 1970an. Sebagaimana disebut oleh etnomusikolog Marc Perlman dalam makalahnya ‘Music technology and cultural memory.’ yang dibentangkan dalam The International Conference on Performance and Mediatization di Universiteit Leiden (1-5 December 1998), yang membicarakan fenomena ‘kalason oto Gumarang’ ini, bunyi klason bus-bus yang membawa pergi dan pulang para perantau Minang ke dan dari rantau di era itu, menjadi semacam ‘simbol’ budaya dan ‘tali emosi’ bagi para perantau Minangkabau untuk selalu mengingat ranah bunda dan tempat mandi yang dirindukannya, yang pada suatu saat, jika sudah berhasil di rantau, wajib untuk dikunjungi, baik dengan cara sendiri-sendiri maupun dengan cara ‘pulang basamo’. Suara kalason oto yang khas itu menimbulkan ‘kerinduan kepada kampung halaman’, meminjam kata-kata scholar Leiden University, Dr. Bart Barendregt, dalam artikelnya yang menarik tentang musik pop Minang: ‘The sound of “longing for home”: redefining a sense of community through Minang popular music’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 158(3): 411-450.

Saya masih ingat, di masa kecil saya, ketika mendengar kalason (klakson) oto Gumarang yang mendayu-dayu itu, yang komposisinya didasarkan atas bunyi musik tradisional Minangkabau, khususnya pop Minang standar, pikiran saya langsung dikaitkan dengan perasaan bahwa ada orang yang pulang dari rantau atau, sebaliknya, ada yang akan pergi lagi ke rantau, meninggalkan kampung halaman yang (makin) lengang. Menurut perasaan saya, fenomena “kalason oto Gumarang” jauh lebih dahsyat dibanding fenomena “Om telolet Om!” Tapi mungkin saya sedang bernostalgia.

Siapakah rekan facebukers yang masih punya rekaman ‘kalason oto Gumarang’? Mungkin boleh dipostingkan di sini, biar kita dapat membandingkannya dengan bunyi klakson-klason bus sekarang yang lagi heboh karena istilah “Om telolet Om!”.

*Dosen Universitas Leiden

Loading...