Beranda Views Inspirasi Dari “Sungguh-Sungguh Terjadi” Menjadi Wartawan Sungguh-Sungguh

Dari “Sungguh-Sungguh Terjadi” Menjadi Wartawan Sungguh-Sungguh

138
BERBAGI

 L. Sastra Wijaya

Kalau melihat ke belakang, mengapa saya bisa menjadi wartawan, pengalaman membaca koran sejak dari SD mungkin menjadi faktor paling besar. Membaca harian Kompas di era 1970-an terutama halaman olahraga, dengan nama-nama seperti Valens Doy, Ign Sunito, TD Asmadi, Th A Budi Susilo setiap hari menanamkan secara tidak sadar bagaimana mengetahui berita apa yang menarik dan ingin diketahui pembaca.

Saya baru serius menekuni bidang tulis menulis ketika menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi di UGM Yogyakarta, ketika ada kursus jurnalistik yang diadakan oleh Jurusan Komunikasi UGM, dengan  salah satu mentornya ternyata adalah Antyo Rentjoko (yang kemudian jadi teman kursus bersama di LP3Y beberapa tahun kemudian).

Sejak mendapatkan  teknik dasar menulis seperti kemudian membuka pintu bagi saya untuk melihat apa yang bisa ditulis dan media mana  yang mau memuatnya. Selain Kompas di kemudian hari, harian Kedaulatan Rakyat (KR) Yogyakarta (termasuk majalah mereka seperti Mingggu Pagi) merupakan kawah candradimuka yang secara tidak langsung “mematangkan” kemampuan jurnalistik saya.

Sebagai harian di kota pelajar seperti Yogyakarta, KR – nama populernya- memiliki banyak rubrik yang bisa diisi oleh orang luar dan mendapatkan bayaran yang “lumayan”. Rubrik dari yang serius seperti Teknologi,  sampai yang ringan, seperti rubrik “Sunguh-Sungguh Terjadi” (SST).

Rubrik SST  ini terbit seminggu sekali di KR Minggu memuat cerita yang dikirim pembaca mengenai hal yang “konyol” dan “lucu” dan saya menjadi salah satu konntributor tetapnya selama beberapa tahun.

Pada awalnya saya juga mengisi Rubrik Teknologi (kolom yang diasuh Wismoko Poernomo) dengan bahan-bahan terjemahan dari minggguan berbahasa Inggris ketika itu seperti Asiaweek, Newsweek, Far Eastern Economic Review atau Times (semuanya sudah almarhum atau berubah bentuk sekarang).

Bagaimana bisa mendapatkan bahan dari majalah-majalah tersebut yang harganya beberapa kali lebih mahal dari majalah mingguan Indonesia?

Saya lupa persis awalnya namun kami (saya dan adik) menemukan bahwa setiap minggu setelah lewat masa edarnya, majalah ini dikembalikan ke penyalur besarnya. Nah sebelum dikembalikan ke pusat, bagian atas majalah tersebut dipotong, dan harganya menjadi turun, karena sekarang sudah berfungsi seperti  “sampah”.

Setiap minggu, di hari tertentu, kami akan mendatangi agen penyalur dan membeli beberapa majalah untuk diterjemahkann.

Sekarang mengingat kembali masa itu, rasanya aneh ada harian KR yang mau memuat tulisan kami, karena pastilah terjemahan yang saya buat, isinya “amburadul” karena pengetahuan bahasa Inggris jauh lebih buruk dari sekarang.

Selain menterjemahkan, saya mulai menulis artikel untuk penerbitan di Jakarta seperti majalah Hai dan mingguan Bola. Yang diperlukan sebenarnya adalah kejelian untuk melihat rubrik apa yang tersedia yang bisa diisi oleh orang luar. Hai ketika itu memiliki rubrik mengenai sekolah-sekolah menengah dari seluruh Indonesia, demikian juga dengan Bola. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menulis sekolah saya terdahulu, SMA Xaverius Jambi.

Saya juga menulis untuk Bola, daftar acara olahraga yang akan berlangsung di daerah setiap minggunya. Ternyata belakangan, teman saya Budiman Tanuredjo (sekarang Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas) juga melakukan hal yang sama.

Kejelian itu juga membuat saya bisa mengirimkan foto untuk majalah dari Jepang, Pacific Friend, dengan bayaran 25 dolar US per satu foto yang dimuat.

Masa belajar jurnalistik serius di LPY3 1988. (Foto Setya “Didik” Rahardi)

Majalah tersebut tersedia di Perpustakaan di Jalan Malioboro dan sebagai majalah yang misinya membawa pesan perdamaian dari Jepang untuk negara-negara di Asia Pasifik, mereka menerima foto atau tulisan mengenai kegiatan Jepang di kawasan.

Saya menemukan beberapa kegiatan yang dilakukan masyarakat Jepang di Yogyakarta, dan foto hitam putih (yang rasanya standarnya rendah) dimuat oleh Pacific Friend karena membawa pesan yang mereka  inginkan.

Kejelian juga membuat saya bisa menjadi “reporter” bagi KR untuk berita-berita olahraga yang terjadi di seputar Yogyakarta.

Karena saya sudah mengenal beberapa wartawan olahraga, maka ketika saya menonton sebuah pertandingan di GOR Kridosono misalnya, saya akan memperhatikan apakah ada wartawan KR yang hadir atau tidak. Kalau tidak, saya akan mencatat hasil pertandingan, dan kemudian pulang ke rumah mengetik berita dan melaju dengan sepeda ke Kantor Redaksi di Jalan Mangkubumi 42 untuk menyerahkan naskah yang sebagian besar dimuat keesokan harinya.

Honor dari tulisan-tulisan di KR dan terbitan lain “cukup” untuk menopang hidup sebagai mahasiswa kos-kosan di Yogyakarta waktu  itu (anntara 1983-1988), dan sekaligus mematangkan kemampuan menulis.

Honor “Sungguh-Sungguh Terjadi” misalnya adalah sekitar Rp 1500, sementara artikel teknologi dibayar sekitar Rp 5000-Rp 7000. Biaya hidup waktu itu sebulan berkisar antara Rp 75 sampai Rp 100 ribu. Dengan sebulan menulis 3-5 artikel, saya bisa mendapatkan Rp 25-30 ribu. Kebiasaan menulis ini juga menjadi modal baik ketika terbuka kesempatan untuk kursus jurnalistik serius yang diadakan oleh LP3Y.

Lembaga yang didirikan antara lain oleh Ashadi Siregar ini ketika iitu diminta oleh Yayasan Asia Foundation untuk menyelenggarakan kursus guna memberi kesempatan menciptakan wartawan-wartawan baru.

Pada awalnya mereka menjaring wartawan untuk magang di harian berbahasa Inggris The Jakarta Post. Saya ikut mendaftar tetapi dalam tiga kali kesempatan tidak terpilih. Namun di kali keempat, LP3Y membuka kesempatan kursus jurnalistik dimana enam lulusan terbaik mereka akan mendapatkan kesempatan magang di berbagai penerbitan seperti Kompas, Tempo, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dan KR.

Sebelumnya ketika dites untuk magang di The Jakarta Post, salah seorang pewawancaranya adalah Amir Effendy Siregar. Setelah melihat saya tiga kali sebelumnya, Bang Amir hanya  bertanya “Jadi kamu serius mau jadi wartawan?” ketika saya mendaftar lagi. Seingatan saya dia tidak bertanya soal lain-lain lagi. Juga barangkali dalam tes tertulis, saya merupakan peserta dengan hasil terbaik.

Dengan mentor sehari-hari Mardjoeki, Rondang Pasaribu, I Made Suarjana, dan kemudian Yami Wahyono, kursus jurnalistik yang saya jalani di LP3Y ini merupakan yang “terbaik” di Indonesia.

Selain ditempa dengan teknik-teknik jurnalistik serius, Ashadi Siregar juga mendatangkan banyak pakar di bidang mereka  masing–masing untuk memberi kami “insight”.

Saya ingat nama seperti Daniel Dhakidae, Aristides Katoppo, Hotman Siahaan, Musa Asyhari, dan juga Ashadi Siregar dan Amir Effendi hadir memberikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Masih segar dalam ingatan, kami malam-malam  duduk di bekas garasi di kantor LP3Y di kawasan Baciro mendengarkan para pakar ini membagi-bagikan ilmu mereka.

Saya bangga setelah kursus intensif selama 3 bulan tersebut saya terpilih sebagai salah satu peserta yang magang dan saya ditempatkan di harian Kompas. Peserta lain yang magang adalah Burhan Abe, Budiman Tanuredjo, Nunuk YK, Sri Wahyuni , dan Tresnawati.

Belakangan di Kompas, saya juga mendapatkan pendidikan lagi, yang menurut saya, mirip dengan apa  yang dilakukan di LP3Y dimana Kompas mendatangkan ahli-ahli di bidang mereka,  di antaranya Soetjipto Wirosardjono Kepala Biro Pusat Statistik.

Dua cara pendidikan yang dilakukan LP3Y dan Kompas dalam hemat saya merupakan yang terbaik di Indonesia, model yang kemudian juga tampaknya diterapkan Lembaga Pendidikan Pers Dr Soetomo.

Akhir cerita, ketika saya sudah menjadi wartawan serius, seorang teman yang dulu sama-sama kuliah di Fak. Psikologi namun lebih duluan “melejit” dengan mampu menulis atikel di Kompas, berkomentar “kok dari sungguh–sunggu terjadi saja sekarang bisa menjadi wartawan Kompas.”

Ada banyak jalan menuju ke Roma atau ke China atau ke Kutub Selatan, mana jalan yang kita tempuh, adalah pilhan kita sendiri. Jalan yang kadang tidak dilihat orang lain.