Beranda News Lampung DAS di Lampung Kritis, Perlu Pemulihan

DAS di Lampung Kritis, Perlu Pemulihan

127
BERBAGI
Lokakarya tentang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berkelanjutan yang diprakarsai Lembaga Advokasi Lingkungan Mitra Bentala.
Lokakarya tentang Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berkelanjutan yang diprakarsai Lembaga Advokasi Lingkungan Mitra Bentala, Kamis (19/11/2020).

TERASLAMPUNG.COM — Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Lampung Prof. Dr.Ir. Irawan Sukri Banuwa, M.Si menyatakan DAS yang ada di Provinsi Lampung dalam keadaan kritis dan perlu dilakukan pemulihan.

“Sosialisasi terkait DAS harus terus dilakukan terutama kepada masyarakat agar pengelolaan DAS di Provinsi Lampung dapat berkelanjutan. Pengelolaan DAS harus dapat menjamin kelestarian sumberdaya alam, dapat memenuhi kebutuhan ekonomi secara layak, dan secara sosial dapat diterima,” katanya dalam lokakarya tentang Daerah Aliran Sungai (DAS) berkelanjutan yang diprakarsai Mitra Bentala, di Hotel Marcopolo, Kamis 19, November 2020.

Menurutnya, karena DAS di Lampung sudah dalam keadaan kritis,  maka perlu perhatian semua untuk melakukan pemulihan sesuai dengan peran masing-masing.

Sementara itu, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Yayan Ruchyansyah menjelaskan di daerah ini ada 285 DAS dan yang masih dipertahankan 278.

“Sedangkan yang sedang proses pemulihan ada tujuh DAS, diantaranya DAS Tulangbawang, Mesuji, Sekampung, Semaka dan Ambar Kambas,” katanya.

Dalam lokakarya itu Direktur Lembaga Advokasi Lingkungan Mitra Bentala, Mashabi, mengatakan kegiatan ini untuk melihat gambaran atau potret DAS Provinsi Lampung.

“Kita juga perlu tahu apa yang mesti dilakukan dan berharap semua elemen peserta yang hadir mempunyai komitmen untuk menjaga DAS yang ada di Provinsi Lampung baik,” katanya.

Mashabi mengungkapkan Provinsi Lampung mempunya DAS yang lumayan banyak. Ketersediaan air sepanjang tahun sangat tergantung dari keberadaan DAS-DAS ini.

“Kejadian banjir bandang atau luap air sungai, longsor dan kekeringan saat musim hujan menandakan bagian hulu DAS kritis,” jelasnya.

Menurut Mashabi, masalah DAS tak bisa dilepaskan dari masalah yang terjadi  hulu sampai hilir yang bermuara ke wilayah pesisir dan laut.

“Ketika air yang dialirkan dari hulu terjadi pencemaran dan bermuara ke wilayah pesisir maka berdampak pada ekosistem pesisir,” ungkap Mashabi.

Lokakarya tentang Daerah Aliran Sungai (DAS) itu dihadiri oleh berbagai elemen seperi dari Bappeda provinsi Lampung, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, kabupaten/kota, perwakilan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) kabupaten/kota, perwakilan SCR Lampung, perwakilan piak swasta, Ketua Forum DAS Lampung serta Ketua BPDAS Lampung, perguruan tinggi, NGO, dam  pemerhati lingkungan.

Dandy Ibrahim