Beranda News Budaya Dayang Rindu, Cerita Rakyat yang Terlupakan

Dayang Rindu, Cerita Rakyat yang Terlupakan

1613
BERBAGI
Naskah Dayang Rindu diadaptasi Teater Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung menjadi The Song of Dajang Rindu, dipentaskan di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Juni 2012.

Esai Arman AZ*

Dayang Rindu adalah salah satu cerita rakyat yang sebarannya tergolong luas di Sumatera bagian selatan, mencakup empat propinsi yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, dan Lampung. Ironisnya, cerita rakyat Dayang Rindu ini sudah nyaris terlupakan bahkan tak terdengar lagi di masyarakat setempat. Hanya segelintir kalangan yang masih mengingat atau pernah mendengarnya.

Dinamisnya cerita rakyat, membuat ia bisa saja mengalami penambahan, pengurangan, bahkan variasi cerita. Demikian pula dengan cerita rakyat Dayang Rindu.

Dari penelusuran data, ada hampir sepuluh variasi cerita Dayang Rindu di empat propinsi di Sumatera. Benang merahnya serupa: tentang kisah kasih tak sampai, dimana sosok perempuan bernama Dayang Rindu menjadi tokoh sentral dalam cerita. Beragamnya versi ini tak lepas dari kepiawaian sang juru cerita atau penutur di masa lampau. Ciri khas cerita rakyat memang terletak pada cara penyampaiannya secara lisan.

Dari kuantitas versi cerita, Sumatera Selatan memiliki banyak versi cerita Dayang Rindu. Cerita ini di  Provinsi Sumsel lebih familiar dengan nama Dayang Merindu. Kabupaten Muara Enim memiliki paling banyak relevansi dengan lokus dan tokoh yang ada dalam cerita. Bahkan sejumlah lokus, (sungai, makam, kampung, petilasan, dan benda yang diyakini peninggalan keluarga Dayang Rindu) di sejumlah kabupaten di sana, seperti Muara Enim atau Baturaja,  Ogan Komering Ulu (OKU).

Sementara dari aspek historis, Dayang Rindu versi Lampung memiliki keunikan tersendiri dibanding versi lain. Di Lampung, ceritanya bertajuk Tetimbai si Dayang Rindu. Manuskripnya ditulis dalam aksara Lampung dan hingga saat ini manuskrip tersebut tersimpan di empat perpustakaan di Eropa (Leiden, London, Munich, dan Dublin).

Sekadar mengingatkan, hanya tiga daerah di Sumatera yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Rejang, dan Lampung. Hingga kini, kemungkinan besar Tetimbai Si Dayang Rindu (TSDR) adalah satu-satunya data manuskrip tertua, mengingat belum ada informasi atau belum ditemukannya manuskrip serupa di tiga propinsi lain.

Tak kenal maka tak sayang. Sebelum lebih dalam membahas Dayang Rindu versi Lampung dari berbagai aspek, baiknya sinopsis cerita tersebut disertakan dalam tulisan ini.

***

Alkisah, di kerajaan Tanjung Iran, tersebutlah seorang wanita cantik jelita bernama Dayang Rindu. Ia anak Wayang Semu. Kakeknya bernama Kerie Carang, orang terpandang di negeri Tanjung Iran. Banyak lelaki yang datang bermaksud meminangnya. Namun semua yang datang ditampik Kerie Carang dengan dalih bahwa Dayang Rindu telah dijodohkan dengan Ki Bayi Radin, anak Batin Pasak dari daerah Rambang.

Perjodohan Ki Bayi Radin dengan Dayang Rindu pun tak semudah yang dibayangkan. Kerie Carang mengajukan permintaan yang nyaris tak masuk akal kepada Ki Bayi Radin. Dari sejumlah permintaan, hanya satu yang belum bisa terpenuhi, yaitu membawakan kerbau bertanduk tiga. Tentulah itu hal yang musykil. Maka terkatung-katunglah perjodohan Dayang Rindu dan Ki Bayi Radin.

Suatu ketika datanglah rombongan kapal dan perahu dari kerajaan Palembang di bawa pimpinan Tumenggung Itam. Dia dan sejumlah punggawa dan hulubalang membawa amanat dari Pangeran Riya, raja dari Palembang, untuk meminang Dayang Rindu. Rombongan itu menghadap Wayang Semu dan Kerie Carang. Mereka membawa aneka macam sesembahan. Pangeran Riya memperoleh informasi tentang Dayang Rindu dari hasutan Kerie Niru.

Ketika niat mereka di tolak, Tumenggung Itam dan rombongannya tak terima. Terjadilah perang di Tanjung Iran. Adalah Singaralang, hulubalang penjaga Tanjung Iran, yang berperan melawan pasukan dari Palembang. Pada perang itu, Wayang Semu dan Ki Bayi Radin terbunuh. Sementara, Singaralang berhasil memotong telinga Tumenggung Itam dan memotong hidung Ki Bayi Metig, salah satu hulubalang kerajaan Palembang.

Meski Tumenggung Itam hilang telinga dan Ki Bayi Metig hilang hidung, namun rombongan kerajaan Palembang berhasil menculik Dayang Rindu. Gadis jelita itu dibawa ke Palembang. Sesampainya di sana, Dayang Rindu yang menolak dijodohkan dengan Pangeran Riya memutuskan terbang ke khayangan. Dia memilih berkumpul kembali dengan orangtua dan Ki Bayi Radin yang telah meninggal. Kejadian itu membuat Pangeran Riya murka. Untuk menebus malu karena tak berhasil menikahi Dayang Rindu, ia kembali mengirim pasukannya untuk meluluhlantakkan Tanjung Iran.

Di lain pihak, Singaralang bertekad merebut kembali keponakannya Dayang Rindu dari Palembang. Dia pergi sendirian ke Niru hingga Palembang. Dia berhasil membunuh Kerie Niru, orang yang menghasut Pangeran Riya hingga mengakibatkan perang antara Tanjung Iran dan kerajaan Palembang. Kemudian dia melanjutkan perjalanan ke Palembang demi memburu Pangeran Riya. Namun usahanya gagal. Mengetahui nyawanya sedang terancam, Pangeran Riya telah lebih dulu melarikan diri ke dalam hutan belantara.

Demikianlah, ketika perang antara kerajaan Palembang dan Tanjung Iran telah selesai, Singaralang kembali ke Tanjung Iran. Dia mendapati Tanjung Iran telah hancur lebur diserang kerajaan Palembang.

Setiap daerah di Nusantara tentu memiliki cerita rakyat. Cerita itu beragam bentuknya. Ada yang berupa dongeng, legenda, atau mitos asal-usul suatu tempat seperti danau, gunung, pulau dan lain sebagainya. Ini adalah kekayaan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Titik tekan esai ini adalah epik Dayang Rindu versi Lampung (Tetimbai si Dayang Rindu). Pertanyaan sepele namun menarik adalah: siapakah yang membawa cerita rakyat Tetimbai si Dayang Rindu hingga bisa terdampar di empat perpustakaan di Eropa?

Manuskrip TSDR yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden adalah hasil inventarisasi Herman Neubronner van der Tuuk selama berada di Lampung (1868-1869). H.N. van der Tuuk adalah orang pertama yang membuat kamus bahasa Lampung. Van der Tuuk juga yang membuat kamus bahasa Batak dan Bali pertama kali.

pentas-the-song-of-dajang-rinduManuskrip TSDR yang diperoleh Van der Tuuk di Sukadana (Kabupaten Lampung Timur) terdiri dari 16 halaman, bertitimangsa Tarabanggi (Terbanggi) 28 Oktober 1847; artinya telah ada atau telah ditulis sebelum ia ke Lampung. Ihwal ini ada dalam artikel H.N. van der Tuuk berjudul Brieven betreffende het Lampongsch. Dalam artikel itu dijelaskan bahwa banyak kosa kata Melayu dan Jawa dalam TSDR.

Bersama dengan TSDR, di Leiden juga tersimpan koleksi Tetimbai Anak Dalom, cerita rakyat Sumbagsel yang berlatar Bengkulu, Malaysia, dan (Siam) Thailand. Tetimbai Anak Dalom ini juga ditulis dalam aksara Lampung.

Sementara TSDR yang tersimpan di School of Oriental and African Studies (London) dan The Chester Beatty Library (Dublin, Irlandia) adalah hasil inventarisasi William Marden. Ia adalah tokoh penting dalam bidang antropologi mengenai Indonesia. Bukunya yang terkenal adalah History of Sumatra dan History of Java yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam melihat sejarah Indonesia masa lampau. Manuskrip TSDR lainnya tersimpan di sebuah perpustakaan di Munich.

Seperti telah dijelaskan di atas, beragamnya versi Dayang Rindu di empat provinsi di Sumatera bagian Selatan, pun diakui Voorhoeve, seorang peneliti Belanda yang membuat catatan tentang epik-epik yang ditemukannya di Sumbagsel. Voorhoeve menggarisbawahi sebuah kenyataan yang menarik perhatiannya mengenai dua cerita rakyat yang ditulis dalam aksara Lampung yaitu Tetimbai Dayang Rindu dan Tetimbai Anak Dalom.

Bukan ilustrasi rumah tradisional dan gambar kapal yang menghiasi halaman-halaman manuskrip itu yang membuatnya tertarik, namun mengapa cerita yang berlatar luar Lampung itu justru beraksara Lampung. Voorhoeve menengarai bahwa penulis-penulis Lampung zaman itu merangkum atau mendokumentasikan cerita Dayang Rindu dan Anak Dalom ke dalam teks beraksara Lampung setelah mendengar dari penutur lainnya.

Distorsi pun merembet ke silsilah Dayang Rindu. Ada yang menganggapnya sebagai fiksi belaka, ada juga yang hingga kini meyakini bahwa Dayang Rindu adalah sosok yang pernah ada (fakta). Bahkan ada masyarakat di sebuah daerah di Propinsi Sumatera Selatan yang mengklaim sebagai keturunan Dayang Rindu.

Keberagaman versi cerita Dayang Rindu mencakup nama tokoh, posisi dan peran tokoh dalam cerita, garis besar cerita, bahkan ending pun beragam. Akhir cerita ada beberapa versi: Dayang Rindu terbang ke khayangan menemui kedua orangtua dan tunangannya yang mati dibunuh, Dayang Rindu membelah diri jadi dua, meninggal tertimpa gendang besar, atau dikutuk jadi batu oleh Si Pahit Lidah.

Sejumlah tempat yang menjadi latar dalam cerita Dayang Rindu adalah fakta. Lokus Tanjung Iran atau Tanjung Heran, menurut William Marsden dan Herman Neubronner van der Tuuk, bisa diidentifikasi letaknya di Kota Agung (Tanggamus) atau Muara Enim (Sumsel). Kotaagung pada abad 18 adalah bagian (subdistrik) dari distrik Telukbetung.

Ada sejumlah data menarik lain sekaitan dengan teks TSDR. Keriye/Kerie/Kerio adalah istilah jabatan setara kepala desa. Istilah ini pernah digunakan di Sumbagsel, namun telah lama punah. Dalam TSDR, ada tokoh Kerie Niru dan Kerie Carang. Batin adalah istilah duda dalam bahasa daerah Muara Enim. Dalam TSDR ada tokoh Batin Pasak di Rambang. Ia bapak Ki Bayi Radin, lelaki tunangan Dayang Rindu.

Memotong telinga dan hidung ini adalah ciri khas atau kebiasaan dalam berperang zaman itu, sebagai bukti bahwa pihak yang dibuat cacat itu adalah pihak yang kalah. Dengan cacat telinga dan hidung itu mereka hidup menanggung malu. Tokoh Singaralang, paman Dayang Rindu yang menebas kuping Temenggung Itam dan hidung Ki Bayi Metig saat amuk di Tanjung Iran, relevan dengan satu lokus di tengah kota Muara Enim yang dipercaya sebagai tempat mengubur kuping-kuping para lawan yang dikalahkan di zaman lampau. Lokasinya tak sampai lima menit jalan kaki dari sekolah Sutan Takdir Alisjahbana saat menempuh pendidikan di sana.

Tanjung Iran terletak di Dusun Bebarau (dalam sebuah buku cerita rakyat terbitan Perpusda Muara Enim, 2009), setelah melewati Prabumulih dan sebelum Indralaya. Nama dusun Rambang, dusun dan sungai Niru, hingga kini masih ada di Muara Enim. Sementara Kuntau Mantis adalah seni beladiri pencak khas Muara Enim. Kosa geraknya banyak mengadopsi gerak harimau atau singa (ingat cerita Sumbagsel lainnya, Tujuh Manusia Harimau).

Dari sejumlah fakta sejarah dan antropologi, daerah Tanjung Iran dan cerita Dayang Rindu identik atau berawal dari Muara Enim (Sumsel). Namun ada pula fakta lain tentang situs batu Dayang Rindu di Kabupaten Tanggamus (Lampung). Di daerah Tanggamus ini pula ada lokasi Tanjung Iran.

Dayang Rindu telah menjadi semacam kesadaran kolektif (arketipe) dari khasanah masa silam Sumbagsel. Ia telah mengalami komodifikasi dalam beragam bentuk dan fungsi.

Di Muara Enim, gedung keseniannya bernama “Putri Dayang Rindu”. Sebuah kedai pempek di Jambi bernama “Dayang Merindu”. Varietas padi Dayang Rindu di Pagaralam dan Lubuklinggau hingga kini masih ada meski sudah sedikit penanamnya karena sistem bertanam padi ini mengandalkan tadah hujan. Padi ini pun pernah ada di Lampung, namun telah punah sejak tahun 50-60an. Di Baturaja, ada goa yang diyakini penduduk setempat sebagai tempat peristirahatan atau petilasan Dayang Rindu, ada juga batu yang dipercaya sebagai Dayang Rindu yang dikutuk Si Pahit Lidah (cerita rakyat Sumbagsel yang cukup terkenal juga).

Dayang Rindu (dan cerita rakyat Lampung lainnya) niscaya hilang jika tidak ada upaya berkesinambungan dari berbagai pihak untuk melestarikannya. Cerita rakyat bisa menjadi sarana pemahaman keanekaragaman budaya Indonesia.. Disadari atau tidak, cerita rakyat telah dalam proses ditinggalkan. Salah satu faktor penyebabnya adalah ke(tidak)sadaran bersama bahwa kita sebagai masyarakat suatu bangsa telah terseret dalam arus globalisasi yang tabiatnya berupaya menjangkau semua sudut dunia; hingga kita mengabaikan ihwal-ihwal yang pernah atau lebih dahulu ada di sekitar kita, termasuk cerita rakyat.

Dalam cerita rakyat tidak tertutup kemungkinan banyak nilai dan kearifan budaya (local genius) yang bisa dipelajari esensinya dan mungkin saja tetap relevan dengan konteks dan kondisi kekinian. Dapat pula ditelusuri kebijaksanaan yang secara implisit dan eksplisit terkandung dalam cerita, yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi sebelumnya.

Dari segi tekstual, cerita rakyat dapat menjadi alternatif untuk menciptakan rasa bangga kepada kebudayaan bangsa sendiri. Juga sebagai strategi budaya untuk membendung serbuan cerita-cerita dari luar negeri yang belum tentu sesuai dengan kondisi Indonesia. Generasi muda seharusnya mempelajari kembali cerita rakyat; bukan hanya merelakan dirinya menjadi korban globalisasi dengan menjadi konsumen produk-produk budaya dari luar negeri. Mengutip petuah klise yang kerap didengung-dengungkan, bahwa generasi muda masa kini perlu memahami tradisi dan akar budaya daerah sebagai bagian dari tradisi dan identitas bangsanya.

Perlu upaya menginventarisasi, melestarikan, mengangkat dan menghadirkan kembali cerita rakyat Dayang Rindu (juga cerita rakyat lainnya) sebagai sebuah warisan budaya masyarakat Sumbagsel masa silam. Dayang Rindu yang telah dilupakan, dapat dihadirkan kembali dalam perspektif atau strategi budaya berbeda.

Ensiklopedi atau kumpulan cerita rakyat daerah memang masih bisa ditemukan. Namun literatur atau sumber rujukan khusus Dayang Rindu sangat langka, apatah lagi epik atau folklore lainnya. Setakat ini hanya ada manuskrip Tetimbai Dayang Rindu, yang diperoleh Krisna R. Sempurnadjaja dari Mamak Usman St Gumanti dari Gunung Sugih tahun 1985 dan disunting tahun 1993; juga Tetimbai Si Dayang Rindu (Iwan Nurdaya Djafar, DKL, 1996).

Saya berharap kelak ada lembaga seni budaya yang peduli dan berminat mengkaji atau mengeksplorasi cerita rakyat Dayang Rindu secara lebih komprehensif. Kiranya perlu membedah aspek-aspek lain yang bisa diidentifikasi dalam cerita Dayang Rindu, misalnya ihwal sosiologis, moral, politik kekuasaan, sistem pemerintahan, feminisme, dan lain-lain.

Jika memungkinkan terjadi alih wahana atau transformasi yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, misalnya dari cerita rakyat dialihwahanakan ke dalam bentuk novel, komik, naskah teater, atau film. Dengan strategi-strategi budaya yang kreatif semacam inilah, cerita rakyat akan tetap bertahan di tengah arus deras globalisasi dan kemajuan zaman. ***

*Arman AZ adalah seorang cerpenis, tinggal di Bandarlampung

Loading...