Debat Capres dan Harapan Terang Demokrasi

  • Bagikan

Alpha Amirrachman

Beberapa poin dari debat tadi malam: 1) Prabowo bicara soal uang yg mengalir ke luar negeri dan kekuasaan asing, Jokowi bicara soal Dubes jadi marketer produk Indonesia. 2) Pertanyaan Prabowo memancing Jokowi untuk mengambil sikap proteksionis soal perbankan, pertanian, & ruang udara utk lalulintas pesawat. 3) Pembangunan manusia Indonesia hal utama, wajib belajar 12 tahun perlu didukung, demikian Jokowi menjawab Prabowo. Yang jelas, Prabowo bicara hal yang makro dan visioner, Jokowi hal yang mikro dan manajerial.

Nada proteksionisime dan nasionalisme nampak kuat mewarnai kedua kandidat capres. Namun harus diakui Prabowo-lah ‘singa podium’ tadi malam, sementara Jokowi terlihat grogi dan terbata-bata, banyak kata-kata yang diulang-ulang, walaupun dandan habis-habisan ala Obama. Dari segi teknis suara ada hal yang kontras: suara Prabowo keras, suara Jokowi kalem, suara moderator cempereng.
 
Memang masih belum sempurna, dan trajektori pilpres kali ini juga dinodai kasus dugaan politisasi babinsa dan black campaign yang begitu masif, namun secara umum Indonesia patut bangga dengan perkembangan demokrasi kita, saya kira di Asia Tenggara.

Kita dengan jatuh bangun perlahan semakin matang dalam mengelola elektoral demokrasi — walaupun tentu masih jauh dalam mengelola “substantive democracy” — demokrasi yang betul-betul meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyatnya. Semoga debat pilpres berikutnya bisa lebih baik lagi.

  • Bagikan