Beranda Ruwa Jurai Bandarlampung Dedy : Akan Ganggu Kinerja Pembangunan Daerah , Jika Ada “Pecah Kongsi”...

Dedy : Akan Ganggu Kinerja Pembangunan Daerah , Jika Ada “Pecah Kongsi” Herman HN – Yusuf Kohar Berlanjut

924
BERBAGI
Pengamat Kebijakan Publik Unila Dedy Hermawan

TERASLAMPUNG.COM—Pengamat kebijakan publik Universitas Lampung (Unila ) Dedy Hermawan mengatakan kinerja pembangunan daerah Kota Bandar Lampung akan terganggu jika Walikota Bandar Lampung Herman HN dan Wakil Walikota Yusuf
“pecah kongsi”.

“Adanya konflik antara kedua pemimpin di Kota Bandarlampung ini, sedikit banyak mengganggu kinerja pembangunan daerah, khususnya kinerja birokrasi daerah sebagai penggerak pembangunan dan pelayanan publik di kota Bandarlampung.”katanya , Minggu (11/12/2016).

Menurut Dedy, akibat adanya konflik maka beberapa hal akan terjadi. Pertama, “manuver” Yusuf Kohar di birokrasi dengan alasan beliau juga dipilih publik .

Menurut Dedy, tentu saja ini membuat bingung dan kurang nyaman birokrasi karena mereka juga di sisi lain ada Herman HN sebagai walikota.

Kedua, progresivitas kota Bandarlampung akan sulit terwujud karena konflik kepemimpinan yang awalnya diharapkan mampu menciptakan berbagai inovasi layanan publik dan pembangunan.

Dengan konflik sinergitas keduanya menjadi tidak terwujud, padahal wakil walikota dengan backgroundnya pengusaha sangat cocok dengan walikota yang birokrasi.

“Sebagai contoh, kisruh sertifikasi guru yang berlarut-larut sehingga menimbulkan masalah hukum, rekayasa lalulintas yang kacau, reklamasi yang juga tak kunjung usai, dan lain sebagainya,” katanya.

Menurut Dedy sejak rencana awal duet pasangan ini sudah diprediksi berpotensi besar terjadi pecah kongsi, karena keduanya memiliki watak yang keras.

“Kalau diibaratkan seperti minyak dengan air. Dugaan ini kemudian terbukti sekarang bahkan diusia duet keduanya masih seumur jagung,” kata dia.

Secara umum penyebab “pecah kongsi” Herman HN dengan Yusuf Kohar  juga terjadi dengan daerah-daerah lain. Sebabnya, kata Dedy,  soal pembagian peran yang tidak jelas.

Dedy menilai sosok Wakil Walikota Yusuf Kohar yang keras dan memiliki obsesi tinggi karena latar belakangnya sebagai pengusaha tentu tidak bisa diperlukan seperti pasangan Walikota Herman HN sebelumnya.

“Maka ketika Herman gagal membangun kesepakatan sinergitas keduanya maka implikasinya terjadi perlawanan dan konflik,” ujarnya.

Wakil Walikota Bandarlampung Yusuf Kohar mengakui adanya “pecah kongsi “ antara dirinya dengan Walikota Herman HN.

“Saya tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan dan perencanaan strategis. Kalau walikotanya profesional ya saya harusnya sebagai wakilnya dilibatkan dong . Dan ini saya gak dilibatkan dan gak diajak bicara,”kata Yusuf Kohar, beberapa hari lalu di acara Nestle, Panjang, Bandarkampung.

Mas Alina Arifin